My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Pilihan yang sulit



“Vian kenapa kelu-ar? Laras?” tatap Lyra pada sahabatnya itu. Ia lantas keluar tanpa perasaan sungkan atau bahkan rasa bersalah atas kelakuannya.


“Kamu tidur di kamar Vian? Kenapa?” tanya Laras.


“Ya, gimana? Zayan nangis mulu, aku ngga bisa istirahat kan jadinya. Udah lah, ngga usah sok protektif gitu.” Lyra langsung berjalan dan duduk di sofa tempat bekas tidur Vian dan berbaring disana. “Lagipula, Vian tidur di laur. Aman kan?”


“Tapi kenapa harus kamar Vian, Lyra? Kamar lain banyak,”


“Karena aku maunya di kamar Vian, LAras. Kamu aja ngga pernah bisa jawab ketika aku tanya, kenapa harus menikah sama papiku. Alasan yang selalu sama, amanat mami untuk menjagaku. Ngga harus nikah juga kalau untuk sekedar menjaga,” santai Lyra memejamkan matanya disana. Bahkan ia memakai gaun tidur minim saat itu dan dengan begitu biasanya berbaring didepan Vian.


Laras perih melihat mereka berdua, dan begitu sulit untuk tak menaruh rasa curiga atau berfikiran macam-macam pada keduanya. Hingga langkah kaki papi Seno turun membawa sang putra dalam gendongannya, tampak begitu terampil dengan wajah yang bahagia sebagai hot dady yang berusia 50 tahun masih kuat membuahi istrinya hingga punya bayi lagi.


“Vian, masuk ke kamar,” titah Laras pada pria itu, dan Vian segera menurutinya sebelu dilihat oleh papi Seno disana. Sementara Lyra masih begitu santai ditempatnya.


“Lyra, kenapa kamu tidur disini?” tanya papi Seno pada putrinya.


“Lyra tidur di_”


“Lyra keberisikan Zayan, Pi. Jadinya dia kesini,” potong Laras membela sahabatnya saat itu. Lyra langsung meliriknya tajam seolah tak suka ketika Laras sok baik padanya.


“Kamu tidur dengan baju ini, disini? Vian mana? Jika dia lihat, bisa diterkamnya kamu saat itu juga. Dia pria dewasa, jadi kamu jangan asal Lyra,” omel papi. Padahal itu yang Lyra mau sejak semalam jika Vian tak pergi dan menghindarinya keluar.


Papi Seno menyerahkan bayi harum itu pada ibunya untuk sarapan, sementara ia terus mengomeli putri besarnya saat itu. Entah bagaimanaia jika tahu hubungan Lyra dan Vian sudah sejauh apa. Semoga saja tak jantungan setelahnya.


Pintu terbuka, Vian sudah begitu rapi dan menghampiri papi Seno ditempatnya saat itu. Papi Seno langsung meminta Lyra untuk berbenah dan kembali ke kamarnya.


“Hari ini kita ada rapat bersama pak Baron, kan? Saya akan minta Salsa mengurus seumuanya di kantor.”


“Rapat memang ada, tapi bukan dengan pak Bonar. Tapi dengan Cakra.”


“Tapi_”


“Kau sudah memberitahu dia sesuai rencana?”


“Iya, Tuan.” Vian menganggukkan kepalanya. Ia bingung, kenapa semua rencana dirubah secara tiba-tiba tanpa berunding dengannya.


“Kau tak perlu ikut rapat hari ini. Kau cukup awasi rumah Bonar dan cek apa yang terjadi disana,”


“Tapi_”


“Kau akan tahu sesuatu setelah ini,” tepuk papi Seno dibahu Vian saat itu.


Usai sarapan bersama, seperti biasa Vian langsung mengantar sang Nona ke Mallnya. Papi sedikit telat karena harus mempersiapkan sesuatu diluar.


“Kau menghindariku beberapa hari ini. Kau mulai bosan?” kesal Lyra yang cemburu tanpa alasan.


“Bukankah kau sudah berjanji padaku? Tenang sebentar, aku akan menyelesaikan semua pekerjaan yang ada.”


“Andai Laras tak sok perduli dan melindungiku tadi pagi, pasti papi akan tahu dan menikahkan kita berdua dengan segera.”


Chiitz!! Mobil berhenti secara tiba-tuba hingga kepala Lyra nyaris terbentur bagian depan mobilnya. Jantungya berdegup kencang dengan segala rasa cemas yang ada, ditambah lagi dengan wajah Vian yang menatap tajam kedepan, begitu kosong dan datar. Lyra tampak begitu takut melihatnya.


“VIan?” panggil Lyra dengan suara yang gemetaran. Ia menangkap kemarahan dari tatapan Vian saat itu padanya.


“Vian, jangan membuatku takut. Aku hanya_”


“Aku tahu bagaimana cintanya kau padaku sekarang. Tapi aku sendiri tengah memperjuangan hubungan kita saat ini. Bisakah kau sabar? Tinggal, diam, dan jalani bersama Demian demi aku. Aku sendiri sudah mempercayakanmu padanya.”


“Vian… Maaf,” sesal Lyra telah memancing amarah kekasihnya. Ia bahkan tak kuasa menahan airmatanya saat itu tanpa Vian mau untuk menyekanya.


“Urusanku sekarang rumit, Lyra. Aku hanya meminta pengertian darimu, itu saja.”


“Kau selalu meminta pengertian, tapi kau_”


“Apa masih kurang perhatianku padamua?”


“Engga,” geleng Lyra padanya.


“Sekarang, diam dan kita lanjutkan pekerjaan masing-masing. Aku akan berusaha tak mengingat jika aku sempat memarahimu pagi ini.” Vian meraih tisu dan membiarkan Lyra menyeka airmatanya sendiri saat itu.


Mobil di jalankan lagi hingga keduanya tiba di mall. Lyra yang sudah tenang hatinya kemudian menyandang tas untuk keluar, namun Vian sempat menarik lengan terbuka Lyra untuk memberikan morning kiss yang hangat sebagai penyemangat untuk kekasihnya. Cukup lama karena Lyra justru mengalungkan lengan dileher Vian, mengecup dan meluumat bibir itu dengan begitu gemasnya.


Lyra saja heran, kenapa bisa segemas itu pada Vian saat ini. Makin ia tahan, makin gemas dan bergejolak didalam dirinya untuk terus bersama.


“Sudah, masuklah ke dalam. Nanti aku akan kembali lagi untuk menjemputmu, dan kita ke apartmen,”


“Serius?”


“Ya, tunggu aku,” kecup Vian dikening kekasihnya.


Lyra turun dengan perasaan yang begitu bahagia. Demian yang baru saja memarkirkan mobil dan keluar saat itu langsung ia hampiri dan ia gandeng dengan begitu mesra untuk masuk kedala mall bersama. Memang tak ada rasa cemburu sama sekali dengan rekan yang baisa negGYm bersamanya itu. Ya, Demian tak suka perempuan. Bahkan jika ia bersama Lyra, itu semua karena Vian yang memintanya.


Vian saat ini sudah tiba di rumah pak Bonar. Memang masih begitu pagi dan ia tak tahu apa alasan papi Seno memintanya kesana sepagi ini, padahal ada rapat yang harus dijalani sebentar lagi. Ia turun dari mobil dan mmemperhatikan situasi disekitarnya saat itu yang sunyi.


“Arrrghh! Siapa kalian? TOLOONG!!!” pekik seoran pria dari rumah besar itu.


Vian yang mendengar langsung berlari dan menerobos masuk kedalam sana untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Dan benar saja, seorang pria tengah diserang oleh beberapa orang bertopeng saat itu. Mereka langsung panik melihat Vian datang, tapi seolah harus tetap menyerang agar pak Bonar tak bertahan. Vian melawan mereka dengan semua keahlian yang ia miliki. Tiga orang, sementara yang satunya menahan pak Bonar agar tak bisa bergerak ikut melawan mereka semua.


Tiga orang itu tumbang akibat pukulan Vian, dan yang satu lagi cemas melihatnya.


“Target kita hanya dia, ayo segera pergi.” Pria satunya sempat melukai leher pak Bonar hingga mengeluarkan darah begitu banyak lalu meninggalkannya begitu saja tersungkur dilanti.


“Pak Bonar!!” Vian memekik langsung menghampirinnya saat itu, meraih tubuh pak Bonar dan berusaha menyadarkannya segera.


“Kau suruhan Seno? Kau anak Akbar?”


“Iya, Pak… Saya anak Akbar. Saya bawa Bapak ke Rumah sakit sekarang,” ucap Vian yang langsung membopongnya keluar saat itu juga.


“Kau harus mengambil sebuah berkas di kamarku, biarkan aku disini. Jika tidak, mereka akan kembali untuk mencarinya, kau akan kehilangan itu.”


Vian kebingungan saat ini. Ia harus kemana? Pak Bonar harus ditangani segera, sementara dokumen itu sama pentingnya.


“Diab isa mati kehabisan darah jika tekat.”