My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Pengalihan isu



"Vian, bagaimana?" tanya Lyra yang mencemaskan kekasihnya.


Vian tak bicara apapun, ia hanya menarik lyra kemudian masuk kedalam kamarnya untuk bicara empat mata. Semoga saja papi sudah menganggap lyra telah tidur di kamarnya saat ini.


"Vian, kenapa tegang sekali?" cemas lyra.


"Lyra, bukankah kau berjanji untuk membantuku?" tanya vian yang bersimpuh dihadapannya saat itu.


"I-iya, tapi bahkan kau belum menjelaskan apa masalahnya. Bagaimana aku bisa bantu?" jawab lyra yang benar-benar bingung saat ini.


Hingga akhirnya vian menceritakan semua yang ia alami dan motifnya sejak awal masuk kedalam rumah itu. Tapi tidak dengan adiknya, karena itu sudah perjanjian vian dengan papi seno.


" Serumit itu kehidupanmu?" Lyra meraih wajah vian lalu membelainya dengan lembut. Vian meraih tangan itu dan mengangguk padanya.


Ia hanya meminta pengertian lyra untuk beberapa saat nanti, dan berharap semuanya tak akan menjadi sulit karena semua akses perusahaan yang diberikan lyra padanya. Masih banyak orang yang harus ia temui saat ini untuk menjelaskan semua, dan data itu diberikan papi seno pada vian barusan.


Hanya saja yang mengganjal di hati vian adalah, ketika papi seno melarang untuk terlalu jujur pada Omnya yang ada disana. Sebisa mungkin ia tak boleh tahu tentang hal ini, tapi ia harus tahu jika vian mulai bergerak cepat dengan rencananya.


"Oh, sayangku. Pasti kamu lelah sekali saat ini, dan kamu berada dalam posisi yang sulit. Aku janji, aku akan mendukung dengan apapun yang akan kamu lakukan." Lyra mengecup kening vian dengan mesra, menunduk dan memperlihatkan jelas belahan dadanya yang indah. Vian tampak fokus pada itu dan seperti begitu menginginkannya saat ini.


" Apa, kau mau?" tawar lyra yang bahkan langsung membuka atasan gaun tidurnya.


Vian tak menyiakan kesempatan itu, ia lantas meraih kedua puncak indah itu dan memainkannya sejenak. Dan tanpa menunggu waktu lama ia melumaatnya dengan begitu rakus hingga lyra merem melek dibuatnya.


Lyra menggigit bibirnya sendiri agar tak mendesaaah, tubuhnya mulai berdesir panas dengan gerakan lidah lancip vian dia kedua puncak indahnya yang selalu menggoda dan meminta dijamah.


*


"Mas, aku ngga ikut, ya? Gerakan baby udah aktif, aku takut gampang lelah nanti." ucap laras sembari memasangkan jas hitam sang suami.


"Ya, memang kau harus banyak istirahat. Aku akan pergi bersama lyra dan vian." Laras mengangguk mendengarnya, ia kemudian menggandeng sang suami untuk turun dan sarapan bersama mereka.


Dipersimpangan jalan laras bertemu dengan lyra. Ia berusaha ramah dan menyapa tapi lyra masih begitu ketus padanya. Entah apa anggapan lyra padanya saat ini, seperti sesosok makhluk tak kasat mata yang selalu ingin di hindarinya.


Lyra berjalan cepat untuk turun hingga terlebih dulu sampai di meja makan dan vian sudah menunggunya dipojok sana. Lyra menyapa dengan senyum, sembari mengedipkan mata genit pada kekasihnya itu. Vian sampai salah tingkah dibuatnya.


"Jangan menggodaku!" Setidaknya itu arti lirikan tajam vian saat ini.


Tak berjalan lama dengan sarapan mereka. Ketiganya berangkat menuju pemakaman pak bambang, dan rupanya jasad telah dibawa ke lokasi oleh petugas dari Rumah sakit dan beberapa karyawan mall yang bekerja dibawah naungannya.


Dalam suasana duka itu, bahkan salah satu anaknya pun tak tampak disana untuk menghadiri pemakaman ayahnya.


"Kabarnya, Pak bambang di duga pernah selingkuh. Makanya anak-anak ikut istri, dan benci sekali dengannya," bisik lyra disela acara yang ada.


"Apakah semua terbukti?"


"Entah... Bahkan sebagian mengatakan jika itu hanya intrik agar mereka bisa membagi harta yang sempat menjadi pengalihan semua isu yang ada."