
Hari belum terlalu sore saat ini, dan lyra sudah ada disebuah club. Sebelumnya ia tak pernah kesana, karena apapun pasti tersedia di rumahnya apalagi hanya sekedari minuman yang ada ditangannya. Ia bahkan sudah habis setengah botol dan kepalanya sudah mulai berat saat ini.
"Hey, Lyra. Tumben kau kesini?" sapa seorang pria yang kenal dengannya. Daialah Antony, salah seorang rekan kerjanya selama ini.
"Aku sedang ingin sendiri, dan tak usah menggangguku," sergah lyra padanya.
Ia benar-benar tak mau diganggu saat ini, ia berharap vian segera datang menjemputnya tapi ini sudah terlalu lama. Geram, marah, dan semuanya menjadi satu saat ini dihati lyra disela penantiannya. Apa lagi Antony seperti tak menyerah untuk menggoda lyra yang telah lemah didepan mata.
"Hey kau mabuk. Bolehkah aku membawamu, Ah... Mengantarmu pulang kerumah?"
"Yakin kau akan mengantarku? Kau tak akan membawaku ke hotel, dan_" Jemari lentik lyra bermain didada bidangnya, tapi ia sama sekali tak berminat untuk menggoda atau bahkan memancing hasratnya saat ini. Murni hanya ingin membalas sapaan ramah antony padanya.
Greep!! Tangan besat Antony segera meraih tangan mungil itu dan bahkan mengecup tangan mulus itu berkali kali terus turun hingga ke lengan dan lehernya. Lyra meremang dengan perlakuan itu, tapi ia menahan diri karena tubuhnya hanya milik vian dan tak akan pernah ia berikan pada orang lain.
"Kau mau? Aku akan memuaskanmu, dan kita habiskan malam bersama berdua." Lyra hanya tersenyum kemudian melepas tangannya kembali.
"Aku sudah ada yang memiliki. Kau tak bisa merayuku dengan cara apapun, Tuan antony." Dan benar, saat itu vian datang dan duduk tepat dibelakang Antony yang tengah menggoda nonanya.
Tatapan pria itu tajam menggambarkan sebuah kecemburuan, rahangya yang tegas itu mengeras dengan otot yang keluar disekitar lehernya.
"Vian," panggil lyra manja kemudian mengulurkan tangan padanya meminta digendong. Saat itu vian meliriknya yang sudah tak lagi memakai jas yang ia berikan, hingga pahanya termpampang jelas didepan pria yang ada didekatnya.
"Maaf, Tuan, aku menjemput nonaku. Permisi," ucap vian padanya, kemudian meraih tubuh lyra dan menggotongnya seperti membopong karung beras dan terasa begitu ringan dibahunya.
Padahal lyra berfikir jika vian akan meggendongnya mesra ala bridesmaid hingga ia dapat mengalungkan tangan dilehernya. Pada moment itu ia bisa menatap vian dengan segala ketampanan yang ia kagumi dan dengan bangga menyatakan vian adalah miliknya.
"Vian bren gsek! Sama saja seperti riko, yang silau melihat perempuan!" omel Lyra dalam mabuknya.
"Kau mabuk, diamlah dan tak usah meracau."
"Vian breng seek!!!" Justru lyra semakin keras mengucapkannya dan memukuli punggung vian dengan sekuat tenaga yang ada. Padahal ia tahu, kepalan tangannya hanya terasa bagakan gumpalan tisu ditubuh vian saat itu.
Bruugg!! Vian menjatuhkan tubuh sang nona dikursi mobilnya paling depan. Ia langsung mengunci mobil itu agar lyra tak bisa pergi dan kabur lagi darinya. Ia juga segera berputar menuju kursinya sendiri dan duduk mulai menyetir.
"Aku tak mau pulang kerumah,"
"Aku tahu, aku sudah mengambil beberapa bajumu dan membawanya ke apartement. Aku akan mengendalikan emosimu disana, agar kau dapat ikut belajar cara mengendalikannya." Vian berbicara dengan terus menatap kedepan, sama sekali tak menoleh pada sang nona sedikitpun saat ini.
Lyra tak menggubrisnya. Ia hanya menyandarkan kepala di bahu kursi dan memejamkan mata. Ia seperti sengaja memancing vian lagi dengan leher dan bagian dadanya yang terbuka. Karena ia membaca jika vian memang menyukai bagian itu dari dirinya.
Mereka sampai di apartement, Vian turun dan segera membukakan pintu untuk sang nona, "Aku masih sakit, kepalaku pusing." Lyra justru merengek dan mengulurkan tangannya dengan begitu manja.
Vian hanya menghela napas dan kembalai meraih tubuh lyra, membopongnya hingga masuk sampai kedalam kamarnya.
Lyra melepas satu tangan kemudian memencet tombol nomor yang ada disana, hingga pintu terbuka dan mereka masuk kedalam. Vian segera membuka semua pakaian yang menempel ditubuh lyra saat ini.
"Kau mau aku sekarang? Aku belum mandi,"
"Aku akan memandikanmu. Hingga bersih hingga isi kepalamu yang kotor itu tak lagi mengganggu."
"Hah, apa? Bagaimana_ Vian!" Lyra memekik ketika vian membopong tubuhnya lagi menuju kamar mandi. Bahkan ia tak membuatkan air hangat, membiarkan lyra kedinginan disekujur tubuhnya dan menggigil.
"Vian, kau... Jahat!" Ucapan lyra terbata-bata menahan segala rasa dingin yang menjalar keseluruh tubuhnya. Vian benar-benar tega, bisa demam jika lyra ia perlakukan seperti ini.
Ia menggigil ketika vian menyabuni sekujur tubuhnya, bahkan membasahi rambutnya hingga penuh busa kemudian membilas dengan bersih hingga tak tersisa.
Vian tetap diam, ia segera meraih handuk dan kimono untuk membungkus tubuh sang nona dan mengeringkan rambutnya. Ia membopong kembali tubuh itu keluar dari kamar mandi.
"Duduk, dan aku persiapkan bajumu." Vian berjalan menuju lemari pakaian lyra yang besar itu dan memilih baju tidur yang ada didalam sana. Lyra sedikit terbelalak karena melihat isi lemarinya cukup penuh hari ini.
"Kau merapikannya sendiri?"
"Siapa lagi?" jawab vian. Wajar saja jika ia lama menjemput lyra, karena pekerjaannya begitu banyak untuk melayani sang nona.
Vian datang dengan sebuah lingerie dan satu set pakaian dalam untuk sang nona. Lyra tersenyum menggigit bibir, entah membayangkan apa ketika vian memberikan pakaian berbahan satin tipis yang mencetak seluruh bagian tubuh indahnya itu dengan sempurna.
"Aku tak mau pakai ini. Sesak jika ku bawa tidur," ucap lyra melempar bra hitamnya tepat di dada vian. Ia hanya memakai panty tipisnya, kemudin memakai lingerie yang benar-benar pas dan menggambarkan secara detail lekuk tubuh dan bahkan menjiplak dengan jelas kedua bulatan indahnya disana.
"Kau mau aku malam ini?" tawar lyra, mendekat dan memainkan jarinya didada vian dengan penuh goda.
"Tidak!" Wajah lyra langsung cemberut mendengarnya. Ia langsung menghempas kasar dirinya diranjang dan membungkus tubuh dengan selimut yang tebal.
"Tidurlah, jika ada sesuatu panggil aku."
"Aku butuh kau sekarang. Tidur disini, ini perintah!" Lyra menguatkan suaranya. Dan jika seperti itu, vian hanya bisa menghela napas panjang dan menurutinya.
Vian melepas kemeja yang ia pakai kemudian merangkak naik keatas tubuh lyra dan memeluknya. Tapi ia tak masuk selimut, karena ia tengah memberi pelajaran pada lyra bahwa semua maunya tak bisa ia turuti begitu saja.
"Kau harus mencoba menahan egomu," bisik vian padanya. Ia tak ingin nanti ego itu akan menjadi bomerang untuk diri lyra sendiri dan dapat merugikan dikemudian hari.
"Iya, iya... Aku akan belajar semua yang kau perintahkan nanti. Aku juga akan belajar dengan keras bagaimana cara memuaskanmu dengan tubuhku, aku akan belajar semuanya dan_"
Ploop! Tangan besar vian menutup mulut lyra seketika agar ia diam. Vian mengecup sedikit kepalanya agar lyra segera tertidur saat ini karena sepertinya rasa mabuknya masih ada dalam tubuh lyra.