
Hari yang di tunggu telah tiba. Lyra sudah berdandan rapi dengan dress cantik untuk pertemuan sora ini dengan Demian. Untung papi tak langsung mengajak bertemu dengan keluarganyya, hingga bagaimanapun lyra akan berusaha menolak perjodohan itu nanti.
“Kau ikut,” pinta lyra pada supir pribadinya itu. Ia seakan ingin membuktikan pada vian betapa cinta lyra dengannya, dan bagaimana cara lyra berusaha mempertahankan hubungan mereka nanti.
“Untuk apa?”
“Kau harus ikut. Jika tidak, aku tak akan pergi kesana!” ancam lyra dengan keras hatinya. Ia bahkan duduk bersila dan bersedakap agar vian tahu jika ia serius dengan kata-katanya saat itu.
Akhirnya vian mengalah. Ia bersimpuh di depan lyra dan membujuknya untuk segera pergi karena papi sudah menunggu dibawah sana. Padahal ia memiliki rencana sendiri hari ini, terpaksa ia tunda hanya demi lyra.
“Acaranya sore, dan aku bisa menemuinya malam nanti.” Vian melirik jam dan merubah kembali rencana yang ia telah buat sejak pagi tadi.
Lyra keluar terlebih dulu, dan vian menyusulnya berjalan dibelakag. Papi dan laras sudah menunggu dan menyambutnya untuk pergi bersama, “Kau ikut?” tanya lyra dengan tatapan sinisnya.
“Laras selalu ikut papi kemanapun pergi, jadi biarkan saja dia_”
“No! Dia ikut, kita batal pergi,” ancam lyra. Vian hanya menghela napas panjang, ada saja tingkah lyra yang membuatnya ingin memiting gadis itu dan memberi hukuman padanya. untung saja ada papi lyra disana dan ia harus menahan semua rasa gemas itu dari hatinya.
“Nona, sudah lah. Aku sudah janji akan ikut, jadi biarkan Nyonya laras ikut kali ini. Bawaan hamil, mungkin ingin selalu dekat dengan_”
“Kau pernah hamil? Paham sekali dengan itu semua. Ku bilang itu hanya lebay dan dibuat-buat.” Rasanya vian ingin sekali menyumpahi lyra agar lebih lebay seperti laras saat ini. Tapi ia ingat, jika lyra begitu ingin hamil anaknya jika mereka bersama. Vian langsung mencabut do aitu sebelum sempat mengucapkannya.
“Udah, ngga papa, aku tinggal aja daripada acaranya batal semua. Lagipula, aku harus banyak istirahat,” balas laras berbesar hati dengan permintaan sang putri. Tapi tetap tak dipuji, bahkan tak mendapat ucapan terimakasih, lyra tetap menatapnya sinis dan pergi dari mereka menuju mobilnya.
Pria gagah nan tampan segera berdiri dari kursinya dan menyambut mereka semua, tapi bagi lyra tak ada yang setampan dan segagah vian. Bagi lyra vian adalah segalanya.
“Perkenalkan, ini anak Om, Lyra namnya.” Papi begitu ramah memperkenalkan lyra pada pria itu, pria yang tampaknya memang sudah dewasa, mapan dan siap untuk menikah.
“Kenapa aku? Apa kau tak laku hingga tak bisa mencari gadis lain diluar sana?” spontanitas lyra kembali muncul dengan ucapannya yang frontal.
Papi disana langsung menarik napas panjang, begitu panjang baghan dadanya terhisap kedalam, lalu ia hembuskan kembali menggelembungkan otot tubuhnya.
Ya, meski sudah Lima puluh tahu, papi lyra masih begitu gagah dan perkasa. Jangan ditanya lagi apa buktinya.
“Nona,” bisik vian yang bahkan tak segan memperingatkan.
“Apa? Aku hanay bertanya? Memang aku salah apa?” tanya lyra dengan begitu santai, sembari mengunyah dessert yang sudah tersedia disana sejak tadi. Lyra seperti tengah berusaha membuat demian ilfeel dengannya saat ini.
"Aku hanya menghormati ayahmu, karena dia yang memintaku bertemu denganmu."
Deeggg!! Jantung lyra rasanya berhenti berdegup dengan ucapannya. Ia merasa tengah diobral dengan siapapun oleh papi seno asal ada yang mau dan bersedia menikahinya saat ini. Secara tidak langsung, papi yang menganggap putrinya tak laku untuk pria lain yang ada diluar sana.
Sontak lyra menatap papinya dengan tajam, rasanya ia ingin segera lari dan kembali meninggalkan mereka semua yang ada disana saat itu juga.