
“Lantas kenapa kau mau? Bukankah tandanya aku murah?” tanya lyra dengan suaranya penuh rasa kecewa terutama pada papinya.
“Simple saja, aku butuh istri dan kau butuh suami.” Ucapan demian sedikit rancu dan mengganjal fikiran lyra saat ini. Apa maksdunya butuh, tapi ia seperti tak perduli mengenai sebuah cinta dalam hidupnya, wajahnya saja begitu datar pada lyra seakan sama sekali tak terpesona oleh kemolekan tubuhnya.
“Aku tak mau!” tegas lyra yang lantas meraih tas dan pergi darinya. “Vian, pergi!” ajak lyra dan vian langsung pamit untuk mengikuti sang nona.
Papi seno sama sekali tak mencegah mereka, hanya bersadar dengan fikiran yang begitu berantakan mengenai putrinya. Ia tak menyangka jika lyra akan menjadi sekeras ini dan sama sekali tak mau mendengar ucapan darinya.
“Dia?” Tatapan demian tertuju pada pria yang sejak tadi mengikuti lyra.
“Supir pribadi lyra yang sudah setahun menemaninya. Bahkan sangkin setianya, ia juga yang mengurusi lyra disaat lyra terluka.”
“Bisa kebal dia, mendampingi gadis secantik dan sesempurna lyra.
“Ma-maksudnya?” Papi seno memicingkan mata berusaha mencera semua ucapan demian padanya. mengganjal, tapi ia sangat sulit mencerna apa maksud di dalam ucapannya itu. Tapi demian justru tersenyum dan mengajak papi seno untuk menikmati hidangan yang tersedia disaan.
“Kita kemana?”
“Kemana saja, asal denganmu.”
“Papi akan curiga jika_”
“Bagus jika dia tahu, bahkan bagus jika nanti akhirnya aku hamil anakmu. Kita akan segera menikah setelah ini, dan tak ada yang bisa mengusik kita lagi.” Lyra memutar tubuh menghadap vian dan mengusap wajahnya dengan penuh cinta. Begitu bersar harapan lyra padanya agar tak lagi dikekang dan diatur oleh papinya.
Awalnya ia berfikir, jika papi kembali maka akan semakin banyak yang akan melindunginya. Namun, kenyataan benar-benar berbeda dan justru terkesan papi melecehkan harga dirinya saat ini. ia akui sejak awal ia sendiri telah salah karena berhubungan dengan vian menggunakan cara seperti ini, tapi ia amat mencintai pria itu dan merasa jika vian akan begitu sulit terganti.
“Masuk ke mobil, aku akan menceritakan masalahku saat ini.” Vian lantas menarik tangan lyra dan membawanya ke mobil mereka.
Di basement, vian duduk bersama lyra dan saling berdampingan di kursi masing-masing. Lyra merasa ini sebuah moment yang dimana ia bisa menggoda vian lagi untuk Hasrat keduanya.
“Ya, Vian?” tatap lyra dengan tangan yang terus berusaha menggeranyangi dada bidang vian dengan tatapan manjanya.
“Aku memiliki satu misi saat ini, dan aku harap kau bisa mengizinkan aku fokus menyelesainkan misi itu.” Lyra menghentikan rabaannya, kemudian mendongakkan kepala menatap vian yang tengah memasang wajah seriusnya.
“Apa? Mana tahu aku justru bisa membantumu,” ucap lyra. Ia memang sudah bersedia melakukan apapun untuk kekasihnya itu, tapi vian menyingkirkan tangan lyra dan menggelengkan kepala padanya. Ia tak ingin melibatkan lyra dalam hal ini, atau bahkan mungkin akan menemukan sesuatu yang akan membuat mereka berdua diam selamanya.
“Katakan vian, masalahmu apa?” bujuk lyra agar vian terbuka dengannya.
Tapi seperti yang lyra tahu, jika vian benar-benar menjaga ucapan dan rahasia pribadinya hingga benar-benar waktunya tiba untuk bersuara.
“Baiklah jika kau tak menganggapku ada. Aku sudah terlanjur menambatkan hati, dan aku juga tak akan mungkin bisa pergi darimu saat ini. Terserah, kau mau menganggapku apa. Bahkan jika kau menganggap aku sebagai pelacur yang hanya ingin tubuhmu,” geram lyra yang bersedekap didepannya.
Vian tak mampu menjawab lagi setelah ucapan itu lyra katakana padanya. Vian dalam posisi yang sulit saat ini, antara dendam dan cinta yang harus sama-sama ia perjuangkan. Ia tak ingin ada satu yang ta kia capai, baik dendamnya ataupun untuk memiliki lyra.
“Aku mau ke apartement!”
“Aku tak bisa untuk_”
“Aku ikut dengamu kemanapun kau pergi,” sergah lyra, dan mau tak mau vian menurutinya. Toh ia juga akan kerumah pria yang masuk ke dalam jajaran pemegang saham di mall, dan lyra berjanji tak akan banyak tanya dengan segala urusan yang ia miliki saat ini.
Mobil vian bawa ke rumah salah satu petinggi mall milik keluarga lyra. Pria yang Bernama Bambang itu memiliki rumah sederhana, namun tersimpan begitu banyak kemewahan didalamnya. Vian turun membawa lyra, lalu mengetuk pintu rumah itu memanggil nama pak Bambang.
“Tak ada orang?” tanya lyra, dan kemudian ia berusaha mengintip melalui jendela kaca yang ada didepannya.
“Astaga! Vian! Dia mati!” pekik lyra yang saat itu menemukan sesuatu didalam sana. Vian yang terkejut, seketika berusaha membuka pintu itu dengan paksa hanya dengan satu tendangan dari kakinya.
Dan benar saja, pak Bambang Sudah terkapar lemah tak berdaya di lantai rumahnya. “Pak Bambang, bangun Pak!” bujuk vian yang langsung meraih kepala pria itu ditangan bersarnya.