My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Lyra uring-uringan,



Vian terasa berada di ambang kebingungan saati ini. Ia galau dan terus bertanya tanya di dalam hati, benarkan Om Dipta adalah dalang dari semua ini. Lantas kenapa ia meminta Vian mencari mereka semua seperti sekarang? Apa fungsinya untuk dia.


“Aarrrghh!!” Vian melampiaskan segala rasa emosi itu dengan teriakan panjangnya, diatas jembatan dengan sungai besar dibawahnya. Ia merasa hidupnya semakin tak jelas, untung saja masih ada Lyra dan Salsa yang menjadi tujuan akhirnya.


Ting! Suara hp Vian berdenting dan ia langsung meraih untuk membaca pesan yang datang padanya saat itu juga.


Maya. Dia mengirimkan pesan pada Vian untuk menagih janji pertemuan mereka, dan bahkan kata-kata mesra nan romantis ia tuliskan disana untuk menggoda kakaknya.


“Tak perlu ketemuan, aku mau menginap di rumah malam ini. Siapkan kamar untukku,” balas Vian padanya. Ia bahkan lupa meminta izin pada Lyra untuk libur menemaninya dan menginap di rumah om DIpta. Fikiran Vian tengah begitu kacau saat ini hingga begitu sulit untuk mencabangkannya kemana-mana.


“Kyaaa!!” Maya memekik begitu bahagia dengan balasan dari kakaknya. Ia berjingkrak bagai anak kecil kegirangan, padahal disana ada begitu banyak orang karena ia sendiri masih ada di kampus dan belum pulang sama sekali ke rumahnya.


“Kak Vian mau nginep, aku harus siap-siap.” Maya langsung menelpon salon langganan untuk meminta servis VVIP pada mereka disana. Lulur, masker, pijat, dan semuanya bahkan ia meminta perawatan khusus untuk intinya demi Vian. Ia juga meminta Artnya untuk mempersiapkan kamar Vian dengan baik, bersih dan wangi agar bisa ia pakai bermalam dengan Vian nanti.


Maya tak perduli jika nanti papanya akan tahu jika Vian dan dia melakukan sesuatu disana. Palingan nanti mereka berdua akan dinikahkan, dan Maya sama sekali tak akan menolak itu semua jika terjadi. Bahkan ia akan begitu bahagia jika benar-benar menjadi nyata.


Dengan semangat membara, Maya segera berlari menuju mobilnya saat itu dan menuju salon langganannya.


Sementara Maya bahagia, disana Meera tengah uring-uringan karena kekasihnya begitu sulit dihubungi sejak tadi. Padahal Meera tak bisa setengah jam pun tanpa kabar dari Vian ketika mereka berjauhan, bahkan ini sudah setengah hari dari waktu mereka berpisah. Bayangkan bagaimana Lyra uring-uringan dan semua orang yang ada disekitarnya menjadi korban.


Untung saja saat itu Laras sudah pulang ke rumah, Lyra sendiri sudah diantar Demian ke mall untuk bekerja.


“Nona, ini berkas laporan mall sebulan ini dan_”


“Bisa nanti ngga? Kamu ngga lihat saya lagi ngapain?” sergah Lyra yang terus berusaha menghubungi kekasihnya.


“Ya Nona, Maaf.”


“Salsa mana? Panggil dia sekarang juga!” titah Lyra. Wanita itu langsung kalang kabut dan keluar dari ruangan itu dan mencari Salsa, untung saja gadis itu memang ada di ruangan dan tengah istirahat saat ini.


“Apa?” tanya Salsa ketika Tiwi tergesa-gesa masuk kedalam ruangannya saat itu.


“Kamu dicari nona, cepetan kesana. Dia serem, ngomel mulu daritadi.” Tiwi bahkan suaranya bergetar saat itu.


Salsa hanya menghela napas panjang, kemudian merapikan diri berjalan menuju ke ruangan sang nona. Tak lupa ia mengetuk pintu sebelum masuk kedalam sana agar tak semakin memancing keributan diantara mereka berdua.


“Masuk,” titah Lyra. Salsa masuk, dan ia langsung berjongkok membereskan semua yang berantakan di lantai, sofa, dan meja Lyra.


“Kamu tahu Vian kemana?”


“Tidak, Nona. Usai merawat saya tadi, Kak Vian langsung pamit pergi. Tapi sempat menawarkan saya pulang bersama,” jujur Salsa padanya.


“VIan Breng seek!! Dia kemana, kenapa tak beri kabar sama sekali? Dia tak tahu aku cemas disini,” racau Lyra yang terus saja memainkan Hpnya. Ia memeriksa story Vian, sosmednya, dan semua yang mungkin bisa ia gunakan untuk mencari informasi.


“Nona, tenanglah. Kak Vian pasti nanti kembali, tak perlu seperti ini.” Salsa berusaha menenangkanya saat itu.


Lyra masih meracau tanpa henti, moodnya sangat jelek saat ini dan semua orang disana tak ada yang berani mendekat padanya. Hanya Salsa yang bertahan, menemani hingga nanti Lyra adem dan diam sendiri.


“Minum, Salsa… Aku haus,”


“Mau minum air putih atau sirup, atau jus? Manis, dingin, atau_”


“SALSAAAAA!!”


“Iyaa!!” Salsa segera berlari keluar dari tempat itu dan bergegar mencarikan apa yang Meera mau. Entahlah, berusaha menebak dengan segala peruntungan saat ini. Bersyukur sekali jika Meera tak justru mengomel dan melampiaskan semua kegalauan pada dirinya saat itu juga.


“Nona, minumnya. Ini jus nanas dengan ekstra es dan susu segar, cocok sekali di saat cuaca panas terik seperti ini.” Salsa menurunkan jusnya diatas meja dan mendeskripsikan semua yang ia berikan pada sang nona.


“Salsa!!”


“Apalagi, Nona? Saya sudah berusaha sebaik mungkin dengan segala tugas yang diberilkan. Lagipula ini nanas segar yang diberikan oleh pedagang buah yang ada dibawah.” Salsa mengomeli sang nona, dan hanya dia yang berani melakukannya.


“Kamu kira saya hamil, terus saya mau lunturin kandungan? Lancang kamu!”


“Haduh, salah lagi.” Salsa menepuk jidatnya sendiri saat itu, meraih jus nanas dan segera meminumnya hingga tandas.


“Salsaaa!!” Lyra bahkan sampai geregetan menghentakkan kaki sangkin kesal padanya saat itu. Rasanya ingin mengajak Salsa berkelahi kalau bisa, hingga ia tenang dan lega.


**


Vian memarkirkan mobilnya di garasi rumah om Dipta. Pria paruh baya itu segera datang untuk menyambut keponakannya dengan begitu ramah, memeluk dan menepuk punggungnya. Seolah tak ada beban dan rahasia diantara mereka berdua.


“Om sehat?” tanya Vian menahan segala rasa dihatinya.


“Ya, seperti inilah. Andai om sehat seperti kamu, pasti om akan pergi sendiri untuk menyelesaikan semuanya. Kamu hanya perlu fokus untuk merebut mall itu seperti seharusnya.” Om Dipta masih dengan ambisinya untuk menguasai mall itu. Meski kadang ia berkata demi Vian, tapi nyatanya ia ingin semua untuk dirinya sendiri.


Vian beranjak dan naik ke kamar saat itu. Ia melihat suasananya begitu rapi dan wangi, seperti dibuat memang untuk menyambut kedatangannya hari ini.


“Tapi ini tampak berlebihan,” ujar Vian yang langsung membuka kemejanya saat itu juga dan memperlihatkan otot sempurna ditubuhnya.


Vian kemudian merebahkan diri bertelan jang dada disana, memejamkan mata sembari memikirkan semua rencana yang akan ia lakukan di rumah itu nanti. Ia harus mendapat sesuatu yang bisa mempertegas arah penyelidikan selanjutnya. Bahwa om Dipta benar-benar adalah dalang dari semua yang ada. Hingga akhirinya Vian tertidur disana untuk beberapa lama.


Maya yang baru pulang dari Salon begitu bahagia melihat mobil Vian sudah ada di garasi rumahnya. Ia segera masuk saat itu, dan memastikan Vian ada dikamarnya. Ia bersorak kegirangan dalam hati ketika melihat kakak tampannya tengah memejamkan mata disana.


“Astaga, tidur saja setampan itu. Apalagi jika… Aaah… Kak Vian,” rengek Maya yang terasa meleleh menatap kesempurnaan kakak sepupunya itu. Bahkan ia merasakan ada hangat dibagian perut bawahnya hingga terasa mengencang dan bergejolak.


Maya segera berbalik lari ke kamar dan mandi untuk mempersiapkan diri. Entah, dia mempersiapkan diri untuk apa.