
Keduanya sarapan bersama setelah olah raga pagi yang melelahkan itu. Lyra menyantap dengan begitu lahap sup yang vian buatkan untuknya, begitu nikmat entah karena moodnya juga tengah baik saat ini.
"Kau pandai memasak, aku suka. Mugkin aku setelah ini akan meminta sarapan dari masakanmu saja," cicit lyra dengan mulutnya yang penuh makanan itu.
"Hati-hati, kau bahkan bisa tersedak nanti." Vian meraih tisu untuk membersihkan mulut lyra yang celemotan. Untung saja ta kia sapu dengan lidahnya sangking gemas ia pada gadis itu saat ini.
Apartement itu hanya satu lantai dan memang tak begitu luas seperti rumah lyra. Hingga pendengaran tajam vian mendengar sesuatu yang tengah seseorang lakukan diluar sana, sepertinya tengah mengotak atik kode pintu apartement lyra.
"Vian, ada apa?" tanya lyra, menangkap keanehan dari tatapan matanya..
"Dia datang lagi, tengah mencoba membuka pintu tapi ia tak bisa karena aku telah mengubah kodenya." Vian menjawabnya dengan santai.
"Di-dia, riko?"
"Ya, siapa lagi. Dia pasti akan datang unthk mengemis cinta padamu saat ini. Kau mau menemuinya?" tatap vian penuh tanya.
"Ih, apaan? Malas aku bertemu dengannya lagi. Mengingatnya saja sudah tak ingin sama sekali," cecar lyra dengan segala amarah yang ada ketik harus kembali mengingatnya.
Vian tersenyum miring, apalagi melihat ekspresi jijik lyra pada pria itu saat ini. Tapi, rupanya riko tak menyerah dan ia masih berusaha menghubungi lyra lewab hpnya.
Lyra akan mematikannya dengan segera ketika melihat nomor itu dilayar hp. Yang meski namanya sudah ia hapus disana tapi ia lupa memblokirnya. Vian meraih hp itu lalu menekan tombol untuk menjawabnya, tak perduli pada ekspresi lyra yang membulatkan mata.
"Ya, ada apa?"
"Hey, vian... Mana Nonamu, aku ingin bicara. Atau, saat ini dia ada didekatmu?" Pertanyaan dan suara itu masih saja angkuh seperti biasa, meski semua orang tahu jika ia telah jatuh dan tak ada lagi harga dirinya.
"Lyra, sayang. Aku mohon, buka pintunya, sayang. Aku butuh kamu untuk menjelaskan semuanya. Aku janji aku tak akan macam-macam denganmu kali ini," bujuk riko yang masih ada diluar sana.
"Kau janji?" tanya lyra, dan saat itu riko mulai mengeluarkan semua kata manis untuk membujuknya. Biasanya, lyra begitu suka dibujuk dan dimanja, hingga dipuji bagaikan membawanya terbang ke syurga.
Akhirnya lyra menatap vian, dan vian hanya menelengkan kepalanya. Terserah lyra, karena itu adalah urusan mereka berdua. Dan ia baru akan bergerak jika riko mulai macam-macam padanya.
Lyra mematikan hpnya, kemudian ia menggandeng tangan vian untuk keluar bersama menemui riko yang masih menunggu di depan apartementnya. Ia jujur gugup, tapi gugup jika riko akan menyerangnya secara brutal.
Tapi kembali lagi ada vian yang akan selalu melindunginya. Tubuh riko tak ada apa-apanya jika dibandingkan vian yang tinggi, kekar dan tegap. Bahkan bisa digambarkan besarnya tubuh vian dua kali tubuh mungil lyra. Pantas saja gadis itu sampai memekik kesakitan karenanya.
Vian menekan kode baru pintu itu lalu membukanya. Riko yang begitu riang segera melompat untuk masuk dan memeluk lyra dengan tubuhnya, tapi sayang gagal karena tangan besar vian begitu sigap menyergapnya.
"Hey, apa hakmu untuk_"
"Aku yang memintanya. Aku tak mau jika kau masuk lagi kemari,"
"Hey, Sayang. Kita tak bisa seperti ini, izinkan aku menjelaskan semua kasalahpahaman kita." Riko terus membujuknya, tapi lyra tetap kekeuh melarangnya untuk masuk dan neminta agar riko segera bicara.
Akhirnya riko menghela napas panjang, apalagi ketika melihat tatapan garang supir lyra padanya yang seakan siap menyergap kapan saja." Dasar kacung," cibir riko dalan hatinya.
"Sayang, yang kau lihat itu tak seperti apa yang terjadi. Aku dan dia tak melakukan apapun saat itu,".
"Iya saat itu, karena aku memergoki kalian. Tapi jika tidak, kalian pasti akan bermain dengan begitu liar diatas ranjangku, di apartement milikku, dan dengan segala fasilitas yang ku berikan padamu." Lyra hanya memberi ekspresi datar padanya.
"Tidak, tidak, Sayang. Dia itu hanya menggodaku, yang awalnya ia ingin mampir dan_"
"Saling tukar benih kalian?" Lyra tak hentinya mematahkan apa yang riko ucapkan padanya. Hingga pria itu merasa sebal, dan akhirnya kembali menatap lyra dengan amarah terpendam dalam dirinya.
"Kau! Jika kau gadis yang bisa menyenangkan aku, pasti aku tak akan seperti ini. Siapa suruh kau jadi gadis kaku, yang bahkan disentuh saja tak mau. Dimana sekarang ada gadis sok suci seperti dirimu? Kau pasti akan ditertawakan jika_"
Plaaak! Telapak tangan lyra mendarat dipipinya saat itu juga bahkan ketika riko belum sempat menyelesaikan kata-katanya.
"Kau tahu, apa yang akan ku hadiahkan padamu malam itu? Sesuatu yang berharga bagiku, yang telah aku jaga seumur hidup hanya demi calon suamiku. Kau kira apa? Kau yang tak pernah bersyukur memilikiku, Riko!" bentak lyra dengan segala emosi yang ada.
"Aku tak mau rugi, lyra. Aku sudah menyia-nyiakan waktu bersama gadis membosankan sepertimu. Sekarang, aku minta kembalikan semua pemberianku padamu. Cepat!" gertak riko padanya, tapi bukannya takut lyra justru tertawa terbahak bahak dengan ucapan yang keluar dari mulut kotor riko saat itu.
"Apa, Riko? Apa yang kamu kasih ke aku? Yang saat itu, bahkan kamu beli pakai uang yang ada di kredit cardku." Lyra justru membongkar semua borok riko saat itu. Ia menguliti semua aib riko yanh hanya numpang hidup dengan segala kemewahan yang ia berikan padanya.
" Dan jika aku mau, justru aku yang neminta agar kau mengembalikan semua padaku. Yang bahkan aku tak bisa menghitungnya satu persatu," imbuh lyra dengan segala kenyataan yang selaa ini ia simpan rapat.
"Angkuh kau, Lyra!" Riko menghampiri dengan kepalan tangannya. Saat itu bahkan lyra tak gentar sama sekali, karena vian segera meraih lengan riko dan menariknya kuat hingga tersungkur ke lantai.
Vian segera menghampirinya. Tak perlu terlalu banyak berkata ia kemudian mengangkat tubuh riko dengan cara menarik kerah kemeja yang ia pakai. Ia angkat tinggi, hingga kaki riko menggantung melayang tak menapak lantai lagi.
Baru lyra tahu, sekuat itu jika vian tengah berada dalam puncak emosinya. Dan bahkan mungkin ia bisa meruntuhkan tembok hanya dengan satu pukulannya saja.
"Arrkgh! Le-pas, kau... Bisa membu-nuhku," ucap riko dengan napas tecekat dan terbata-bata. Ia mulai takut, apalagi ketika melihat tatapan vian yang seakan siap membunuhnya kapan saja.