My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Ketahuan



Mobil Vian sudah berada di halaman Rumah sakit saat ini. Ia menggendong pak Bonar yang bermandikan darah dan langsung masuk kedalam IGD agar segera mendapat bantuan darurat untuk menyelamatkan nyawanya. Ia berusaha untuk segera menelpon papi Seno, namun sejak tadi tak tersambung. Mungkin mereka tengah melaksanakan rapat penting saat itu dan tak bisa di ganggu sama sekali.


“Tolonglah, angkat teleponku.” Vian mulai gelisah sendirian disana, apalagi ia tak dapat meninggalkan pak Bonar sendirian untuk semua tindakan yang ada.


“Tuan_” panggil salah seorang perawat yang saat itu juga menghampirinya. Vian langsung menoleh


dan berusaha mendengarkan apa yang ia jelaskan mengenai status Kesehatan pakm Bonar saat itu dengan satu luka di area vitalnya.


Vian bernapas begitu lega setelah bisa diselamatkan dan ditangani dengan baik. Hanya saja, Vian tetap tak bisa meninggalkan beliau tanpa penjagaan yang ketat saat ini. Jika orang-orang itu tahu, maka tak kecil kemungkinan akan kembali untuk menyerang dan menghilangkan nyawanya saat itu juga.


“Demian,” ingat Vian pada pria itu. Yang meski sedikit berbeda, namun kemampuan dan kekuatannya berkelahi tak jauh dari Vian. Apalagi untuk melindungi orang sakit seperti pak Bonar. Dan Vian segera menghubunginya saat itu.


“Aku perlu denganmu,” ucap Vian tanpa bas abasi.


“Baiklah, aku akan segera kesana.” Demian juga begitu semangat ketika dimintai bantuan oleh Vian saat itu. Bahkan Lyra yang tengah perawatan ia pamiti untuk pergi.


“KEmana?” tanya Lyra yang tengah melaksanakan beberapa treatmen untuk rambutnya yang indah.


“Aku pergi dulu, kau tunggu disini,” kecup Demian pada kening Lyra saat itu. Tampak seperti pasangan serasi ketika orang lain melihat keduanya saat ini.


Demian segera menuyusul Vian di Rumah sakit dan menjalankan amanahnya saat itu dengan menunggu pak Bonar yang masih tidur dengan lelap. Ia tak akan membiarkan orang asing masuk ke dalam seperti titah Vian padanya.


Sementara itu Vian kembali ke rumah pak Bonar. Tapi seperti yang sempat ia duga sebelumnya jika mereka datang lagi ketika Vian pergi, bahkan rumahnya sudah berantakan seperti mereka tengah mencari sesuatu didalam sana dan lemari kamar milik pak Bonar sudah tak karuan bentuknya.


“Shit!! Aku telat. Arrrgghh!!” geram Vian memukul wajahnya sendiri saat itu. Ia bahkan tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan pada papi Seno untuk keadaan ini.


Hingga akhirnya papi membalas teleponnya. Tangan Vian gemetar seolah tak mampu mengangkat


panggilan itu dan menjawab semua pertanyaan yang diberikan untuknya setelah ini. Akan tetapi, ia harus bisa melakukan itu semua dan segera memberikan informasi yang ada.


“Bonar dimana? Kau… Baik-baik saja?” tanya papi di luar dari apa yang ia kira saat itu. Papi justru menanyakan keadaan Vian saat ini.


“Baiklah, kita bertemu di Rumah sakit setelah ini.” Papi Seno langsung mematikan teleponnya saat itu juga dan Vian segera menuruti perintahnya.


“Ada sesuatu?” tanya pak Cakra pada rekannya itu.


“Seperti yang kita duga, jika Bonar diserang kali ini. Sayangnya kita kalah cepat,” sesal papi Seno memukul pelan meja yang ada saat itu.


“Sudahlah, setidaknya dia selamat. Keluarganya juga aman ketika ku minta pergi bersama keluargaku ke luar kota.”


“Dan setelah ini… Kau,” tatap papi Seno pada sahabatnya itu. Tapi pak Cakra tampak begitu tenang saat ini seolah tak takut menghadapi esok hari yang seharusnya menakutkan baginya.


Papi Seno  tak perlu waktu lama untuk tiba disana dan menjenguk sahabatnya. Ia justru dikagetkan oleh kehadiran Demian, padahal ia seharusnya bersama Lyra.


“Maaf, saya diminta Vian untuk membantunya saat ini.” Demian menundukkan wajahnya tak enak hati.


Papi menatapnya tajam saat itu dan segera meminta Vian menjemput Lyra. Ia butuh kejelasan atas hubungan mereka bertiga saat ini.


Vian dengan napasnya yang begitu berat membelokkan mobil untuk menjemput Lyra di salon langganannya. Saat itu memang Lyra tengah menunggu karena semuanya sudah selesai tepat waktu, dan ia begitu bersemangat ketika tahu jika Vian yang akan menjemputnya saat itu.


"Sayang!" Lyra langsung berlari dan ingin memeluk, namun Vian menjulurkan tangan mencegah dan memperlihatkan noda darah dikemeja yang ia pakai.


"Astaga, Sayang... Kamu darimana?" kaget Lyra membungkam mulutnya sendiri saat itu.


"Aku tak ingin banyak bercerita. Tapi... Kau harus ikut aku saat ini," pinta Vian, dan Lyra segera menganggukkan kepalanya.


Papi Seno bahkan meminta sebuah ruangan kosong untuk mereka bertiga bicara saat itu. Demian sudah terlebih dulu disana dan diam menunggu mereka semua, dan ia tak bisa menjelaskan apa-apa saat ini karena ia hanya mengikuti alur yang ada. Ia tak juga bodoh, karena ia hanya ingin dekat dengan Vian lewat perantara Lyra. Demian juga menjawab apa danya ketika papi Seno bertanya akan hubungan mereka berdua, Demian dan Lyra.


Hingga kedua sejoli itu datang di ruangan itu, mereka masuk dan duduk bersama di sebuah meja bulat saat ini, yang sering digunakan oleh para staf disana untuk melakukan rapat. Suasana begitu tegang, apalagi dengan tatapan papi pada ketiganya secara bergantian, bahkan Vian seolah tak dapat mengangkat kepalanya sendiri saat ini.