
Mobil Vian setir dengan cepat hingga tiba di Rumah sakit. Lyra sepanjang jalan hanya diam seribu bahasa dan sama sekali tak bertanya mengenai apapun dissna. Ia justru bermain hp dan tampak tenang berbalas chat dengan Demian.
"Sama sekali tak cemas?" tanya Vian. Pasalnya, Laras seperti ini karena benar-benar mencemaskan Lyra sebagai anak tiri dan sahabat terdekatnya.
"Kau mau aki bagaimana? Aku berkeringat dingin, menangis? Itu semua hanya ku lakukan jika bersamamu," timpal Lyra dengan santainya. Ia masih saja apatis jika sesuatu berhubungan dengan Laras.
Sreekk! Vian meraih Hp Lyra dan mengantongi hp itu agar Lyra memperhatikannya. Tapi, Lyra hanya sekali menarik napas dan justru bersedekap menyandarkan keapala dibahu sofa mobilnya. Vian seakan tak bisa berbuat apa-apalagi dengan wanita yang ada dihadapannya saat ini.
Hingga keduanya tiba di Rumah sakit, Lyra turun sendiri dan membiarkan Vian berjalan dibelakang mengikutinya saat itu. Ya, mungkin sebenarnya Lyra ingin sekali menggandeng Vian hingga sampai di ruangan Laras.
"Ruangannya dimana? Apakah sudah lahir? Aku tak mau mrlihat proses mengerikan itu."
"Katamu mau mengandung anakku, bagaimana melahirkannya nanti?"
"Hamili aku segera agar kau tahu," ketus Lyra pada pria yang tampak menantangnya saat itu.
"Belum waktunya," jawab datar Vian.
Naik ke lift, Vian mendahului Lyra saat ini keruangan Laras. Tampak masih tertutup disana dan beberapa perawat tengah sibuk didalam. Vian membuka pintu, dan saat itu perawat datang menghampirinya. "Maaf, kami sedang dalam proses persalinan. Saya minta, Tuan tunggu di kursi yang tersedia."
Lyra yang nendengar itu langsung duduk di sofa yang memang ada di ruang VVIP itu, sementara ia bisa mendengar semua proses Laras tengah melahirkan adiknya didalam sana dan hanya bebatas oleh tirai yang ada.
Beberapa kali Lyra mendengar rintihan Laras, suaranya yang serak serta tampak bayangan sang papi menenangkan istrinya. Lyra tampak tegang, matanya juga berkaca-kaca membayangkan semua yang terjadi disana. Ia seketika ingat semua kenangan persahabatan mereka selama ini.
"Kau sedih?"
"Tidak, untuk apa aku sedih? Aku hanya... Hanya rindu hpku yang kau sembunyikan. Mana?" pinta Lyra mengulurkan tangannya.
Vian tahu Lyra tengah berkilah saat ini, Ia amat tahu Lyra tengah menyembunyikan perasaannya. Tapi Ia diam, menyaksikan berspa lama Ia dapat bertahan dengan kekuatan yang ia paksakan.
"Vian, kau disana?" panggil papi padanya.
"Ya, Tuan. Bersama Nona," lirik Vian pada Lyra disampingnya. Tampak mulai gelisah ketika mendengar erangan Laras dari sana, yang tengah menikmati semua proses kelahiran bayinya.
"Laras, Sayang... Kamu dengar, Lyra ada disana dan itu tandanya ia sudah baik-baik saja. Saat ini, kau hanya harus fokus dengan bayi kita. Okey?" bujuk papi yang terdengar oleh putrinya. Secemas itukah Laras hingga terpaku dengan Lyra?
"Benar, papi ngga bohong? Lyra ada?" tanya Laras disela mengumpulkan kekuatan untuk mengejan.
"Ya, aku... Disini," ucap Lyra menjawab pertanyaan Laras disana. Sontak saja Laras tersenyum dan menghela napas dengan begitu tenang.
Ia yang tadinya ditawari operasi, menolak karena ingin melahirkan dengan cara normal. Papi menggenggam tangannya kembali dan Laras menarik napas untuk mulai mengeluarkan bayinya.
Sementara Lyra sendiri tanpa sadar menggigit bibir dan mereemas ujung dressnya saat itu. Vian yang melihat, hanya tersenyum miring padanya. Setidaknya Lyra masih perduli pada sahabatnya saat itu. Tangan Vian merayap menggenggam tangan Lyra yang terasa dingin.
Lyra gugup, tapi tetap berusaha untuk menyembunyikan segala perasaan yang ada.
Dan bayi itu lahir. Terdengar dari tangisannya yang begitu kuat menggema mengisi seluruh ruangan besar itu. Laras menghela napas lega, dan papi mengecup keningnya yang berkeringat sembari mengucap terimakasih tak terhingga padanya..
Lyra memejamkan mata, dan tampak pula tarikan napas lega didadanya saat itu.
"Selamat," ucap Vian padanya.
"Apalagi? Kau punya adik sekarang. Dia pasti sangat lucu, apalagi jika kau menggendongnya."
"Aku lebih ingin menggendong bayiku sendiri," ketus Lyra yang langsung membuang muka dari Vian saat itu juga.
Semua proses tengah dilakukan disana. Para perawat mengurus bayi dan merapikan Laras yang kelelahan saat ini. Bayi yang telah cantik itu dibawa menjauh dari sang ibu sementara dengan tempat tidur mungilnya.
"Ada yang mau menggendong?" tawar perawat itu pada Vian dan Lyra.
"Taruh saja. Kenapa ayahnya terlalu sibuk disana, padahal banyak yang urus. Lebih baik disini menyapa anaknya," gerutu Lyra, tapi sesekali mencuri pandang pada bayi kecil yang ada didepan matanya.
"Hey, tampan sekali. Mirip papi," gemas Vian mencoleki pipi bersih calon adik iparnya itu.
"Kau mau dia mirip kau? Issh!"
"Kenapa ketus sekali? Aku hanya memuji,"
"Pujianmu berlebihan! Menyebalkan," geram Lyra. Tapi Vian menggeleng kepala berusaha tak menghiraukannya saat itu.
Dan akhirnya tirai dibuka. Laras yang telah bersih itu melirik Lyra dan Vian dengan senyum ramahnya. Ia meminta suster membawa sang putra karena ia harus belajar mengASIhinya.
"Eh, jangan mendekat. Apaan, orang mau nyusuin bayi." Lyra ketus lagi menutup mata kekasihnya.
Bagi papi, itu sebuah keperdulian Lyra terhadap Laras pada bagian tubuhnya. Tapi yang terjadi adalah, Lyra tak ingin Vian melihat bagian tubuh wanita lain selain dirinya.
Laras tidur karena lelah, dan hari memang sudah larut malam saat ini. Vian pamit mengajak Lyra untuk pulang, dan papi mewanti-wanti mereka agar pulang kerumah.
"Ya," jawab singkat Lyra. Mereka pamit setelah itu, Lyra sedikit melirik adik kecilnya ketika keluar dari ruangan. Mungkin sebenarnya gemas, tapi masih gengsi dengan pendiriannya yang keras.
"Katakan jika kau ingin menggendong dan menciumnya,"
"Apaan? Bisakah kau berhenti menggodaku?" tatap kesal Lyra, menghentakan kaki lalu meninggalkan Vian menuju mobil mereka.
Lyra masuk dan Vian menyusul dikursi setirnya. "Setidaknya dia adikmu, meski kau benci ibunya."
"Aku ingin buat yang seperti itu. Aku mau yang seperti Zayan," goda Lyra, mendekat dan mulai merayu Vian dengan geliatnya yang penuh goda.
Zayan adik baru Lyra, itu nama yang sudah lama dipersiapkan sejak papi mengetahui anaknya lelaki.
Lyra meraih bibir Vian dan mengecupinya saat itu juga, tak lupa dengan tangan meraba bagian bawah sana dan berusaha membangunkan lolipop raksasanya. Vian sudah merinding dan bahkan memejamkan mata, tapi sebuah panggilan mengganggu aktifitas keduanya.
"Ya, Om?" panggil Vian, sembari mengatupkan bibir meminga agar Lyra diam sementara.
"Kau kemana? Terlalu sibuk hingga tak bisa memberikan kabar hari ini? Bagaimana perkembangan dari yang kau cari?" tanya Om Dipta, seakan memaksa Vian memberi jawaban jelas padanya.
"Maaf, nanti Vian akan hubungi lagi. Vian sibuk hari ini,"
"Sibuk apa selain dengan misimu? Makin lama kau makin melenceng, Vian!"