
Vian tiba di rumah papi seno. Ia masuk dan langsung menuju ruang kerja sesuai perjanjian keduanya.
"Bagaimana lyra?"
"Dia baik-baik saja. Sedikit tenang setelah salsa datang dan meminta maaf padanya," jawab santai vian.
Papi seno kemudian meraih tas dan memberikan sesuatu yang ia dapatkan di ruang berkas tadi sore. Pencarian yang membuat lyra semakin berfikiran buruk padanya. Memang lyra selalu menggebu-gebu dan tak dapat mengontrol emosi ketika berhadapan dengan papinya, terutama papi dan wanita yang ada disekitarnya.
"Ini daftar orang-orang yang harus kau temui. Mereka semua ada kaitannya dengan mall, lahan, dan bahkan kebakaran itu."
Vian menerima berkas itu dan langsung membuka semua satu persatu. Seperti yang diketahui jika vian bukanlah orang bodoh yang tak mampu memahami semuanya dengan cepat, apalagi papi seno membantu menjelaskan semuanya satu persatu.
"Kenapa tuan membantu saya? Padahal dalam hal ini, kita bisa saja menjadi musuh yang bahkan mungkin akan saling melawan satu sama lain. Anda bahkan bisa saja membunuh saya sekarang sebagai seorang pengkhianat."
"Kau ingin melawanku? Temukan saja semua bukti yang ada. Baru kau putuskan, akan melawanku atau melawan bersama."
Vian menyipitkan mata mendengarnya. Secara tersirat, bermakna bahwa papi seno seperti ingin mengajak vian bekerja sama melawan om dipta bersama.
Mereka yang ada di data itu persis seperti yang dikatakan om dipta padanya. Tapi ini lebih lengkap, karena dilampirkan foto dan data mereka hingga mudah untuk mencarinya.
"Ini, om dipta juga sudah_"
"Ya, karena incaran kami sama. Kau boleh memberitahu kemajuan rencanamu, tapi kau tak boleh bilang akan bertemu siapa hari itu jika kau tak ingin mereka lolos lagi. Antara pergi, atau mati."
" kau tahu maksudnya tanpa ku jelaskan.
"Iya, saya mengerti." Vian menganggukkan kepalanya.."Tapi, adikku bagaimana? Bukankah anda janji akan mempertemukan kami?"
"Belum sekarang. Kita bahkan baru saja memulainya saat ini, dan aku takut kau akan tak fokus dengan semuanya nanti. Apalagi, jika dia tahu bahwa kau telah menemukan apa yang kau cari. Itu akan menjadi bumerang buatmu dan alatnya untuk membuatmu lemah."
Dan lagi, ucapan papi seno tampak semakin membuat om dipta terbaca sebagai akar masalahnya. Tapi ia begitu berhati-hati karena masih harus menjaga emosi vian saat ini. Ia hanya tak ingin semua berantakan hanya karena vian tak bisa terima dengan semua ucapannya.
Padahal vian sudah begitu rindu pada adiknya. Ia ingin segera bertemu dan memeluk adik yang selama ini ia rindukan, yang bahkan sempat ia kira sudah tak ada di dunia ini.
"Kau sering melihatnya, karena dia juga selalu ada di dekatmu. Dan meski nanti kau bisa merasakan kehadiran itu, maka kau harus bisa menahan diri untuk sementara waktu."
Clue yang diberikan bukan membuat vian semakin tenang, tapi justru membuat tanda tanya semakin berputar diatas kepalanya saat itu. Menduga-duga pada siapa, bahkan ketika laras hadir didepan matanya.
" Tidak, tak mungkin dia." Vian mengelak dugaannya sendiri dengan penampakan yang ada. Dan lucu saja jika memang laras, dan akan menjadi seprti judul sinetron yang rumit nantinya.
"Aku hanya ingin meminta sesuatu padamu saat ini. Agar kau bisa fokus pada semua rencana, bujuk lyra untuk mau dekat dengan demian.'
Vian terkejut bukan main. Bagaimana bisa ia sendiri meminta sang keksih agar dekat dengan orang lain, apalagi memang lyra sama sekali tak memiliki rasa untuknya.
"Kenapa anda seperti begitu ingin menjauhkan saya dengan nona?"