
Guyuran air dingin terasa begitu segar ditubuh Vian saat itu. Rambutnya ia basahi dengan shampo yang di berikan Maya padanya karena persediaan shampoo Vian sudah habis disana. Usai dengan ritual andi itu Vian keluar dengan handuk yang terlilit di pinggang dan diatas lututnya, berjalan mencari pakaian ganti yang ada di lemari.
Plukk!! Dekapan sebuah tangan melingkar dipinggangnya saat itu. Vian kaget, langsung menggenggam tangan itu dan berusaha melepaskannya dari sana segera terutama ketika tahu itu adalah Maya.
“Maya, lepas. Jika Om lihat, dia akan berfikir yang tidak-tidak nantinya.”
“Kak, Papa pergi sebentar. Sementara kita bebas dirumah berdua,” goda Maya begitu lembut. Bahkan dipunggungnya saat ini terasa gesekan dada Maya yang sudah menegang meminta dijamah olehnya.
“Maya sudah lama cinta sama Kakak. Maya ingin Kakak, Maya _”
“May, kau sepupuku!” Vian melepas dekapan itu dengan begitu kasar hinga Maya terdorong mundur kebelakang karenanya. Vian membalik badan, namun tanpa rasa sungkan Maya justru tersenyum melirik sesuatu yang ada didalam handuk Vian saat itu kamudian mendekat lagi.
“Maya tahu, Kakak juga ingin Maya selama ini. Tapi, tapi Kakak sungkan sama Ayah kan?” Maya justru semakin erat dan mengusap dada Vian dan memainkan jemarinya disana. Bibirnya berusaha menyentuh bibir Vian, bahkan tangan nakalnya meraba area bawah dan menyentuh milik Vian yang gagah dan sudah tegak sempurna.
“Lihat, dia juga sudah bangun. Katakan jujur jika Kakak juga mau Maya sekarang, Maya akan berikan dan kita menikmatinya bersama.” Maya menurunkan lengan dari lingerie tipis yang ia pakai saat itu, sengaja memperlihatkan gundukannya yang kenyal dan begitu indah.
Namun bagi Vian, taka da yang seindah dan senikmat milik Lyra yang justru saat ini membayanginya. Maka dari itulah miliknya bisa tegang sempurna menginginkan belaian kekasihnya.
“Maya, aku bisa laporkan pada Om jika kau_”
“Apa? Papa justru akan menikahkan kita nanti. Kakak tahu, meski sepupu tapi kita jauh. Bahkan Papa sendiri menampung Kakak disini hanya sebagai alat untuk mencari informasi di rumah bos Kakak saat ini.” Celoteh Maya tanpa sadar membongkar semuanya.
Dan jika Vian berhasil, ia akan menjadi pemilik Mall yang saat itu akan papa Maya kuasai. Begitu celotehnya lagi seperti tengah sakau karena sesuatu, tapi Vian tak mencium aroma alcohol dimulut adiknya saat itu.
“Apalagi?” tanya Vian, sementara membiarkan Maya larut dalam pusara gairahnya saat ini.
“Papa sudah punya buktinya, disana.” Maya mulai mengecupi dada Vian dengan begitu mesra, dan Vian berusaha menahan dengan menutup matanya membayangkan Lyra yang tengah melakukannya.
“Kau mau menikah denganku?”
“Mau, sangat mau.” Maya yang semakin bernapsu mengecupi pipi Vian dan ******* telinganya setelah itu.
“Apa kode brankas itu? Jika aku sudah menemukan semuaya, aku akan memberi kejutan pada om dengan menambah isinya disana. Om… Pasti akan sangat bahagia dan merestui pernikahan kita nanti.”
Maya beralih dan langsung menatapnya dengan begitu gembira. Seakan cintanya yang selama ini ada bersambut, hingga ia langsung menuruti apa yang Vian mau saat itu.
“Kau menyimpan pengaman?”
“Maya ada, di kamar Maya. Di nakas,” jawabnya. Untuk apa seorang gadis menyimpan alat seperti itu?
“Aku akan ambil sendiri. Agar aman dan kau akan menggila olehku malam ini,” bisik Vian dengan begitu mesra padanya.
Vian kemudian keluar mengambil alat itu di kamar Maya, lalu ia keluar lagi dari sana. “VIan, kau sedang apa?” tanya Java, salah seorang asisten om Dipta.
“Tak apa, hanya_” Java melihat sebuah alat pengaman ditangan Vian dan dia begitu emosi melihatnya. Langsung dicengkramnya dengan kuat hingga menabrak dinding begitu keras.
“Kau apakan Maya!!” emosinya seolah tak terkendali saat itu.
“Aku tak melakukan apapun padanya, dan jika kau ingin… Kau temui dia didalam kamarku sekarang juga.” Alat pengaman itu Vian berikan pada Java, membuat pria itu kebingungan tapi melakukan apa yang diperintahkan Vian padanya.
Java masuk kedalam kamar yang gelap itu, dan tanpa aba-aba Seorang wanita langsung menghampiri dan mengecupi seluruh tubuhnya dengan beringas. Java tahu itu Maya, dan Ia dapat merasakan tubuh polos itu tanpa sehelai benangpun melekat saat ini.
“Kak Vian, jangan lama-lama. Maya udah ngga tahan,” racaunya. Dan Java yang ikut bersemangat saat itu segera menghempas tubuh Maya ke ranjang dan mulai mencumbunya tak kalah beringas dan brutal.
Pekikan dan rintiihan kenikmatan itu bahkan terdengar ditelinga Vian saat itu, ketika ia keluar dari kamar Java dan megambil pakaian milik Java untuknya. Tak lupa segera menuju ruang kerja om Dipta untuk mengambil brankas yang dikatakan oleh Maya tadi, kemudian membawanya pergi dari sana.
Sementara di kamar itu, mereka masih bergumul dengan segala kenikmatan yang ada. Berbagai gaya keduanya coba untuk saling memuaskan satu sama lainnya, bakan Maya tak segan menjerit ketika mendapatkan pelepasan hebatnya.
“Aaahh!! Kak Vian! Kakak memang luar biasa,” puji Maya. Java yang mendengar itu hanya diam tertawa dalam hati, agar tak ketahuan dan masih bisa menikmati Maya hingga akhirnya mencapai puncak bersama.
Saat ini Maya tengah duduk dan bergerak menggoyangkan pinggul diatas Java, mendesaah dengan begitu nikmatnya terbang hingga entah kelangit yang keberapa.
“Kakak, Maya_”
“Bersama May!” pekik Java, dan mereka tergeletak lemah bersama diatas ranjang besar itu, dan Maya masih mengira Vian lah yang bersama hingga ia menyalakan lampunya.
“JAVA!!!!” pekik Maya sejadi-jadinya.