My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Bagaimana aku bisa tenang?



“Kenapa Kau menolongnya! Bodoh… di aitu musuh besar kita,” geram om Dipta pada keponakannya itu.


“Tapi, bukan kah Om sudah mendapatkan apa yang om mau? Aku hanya tahu, ada CCTV di ruangan yang mereka gunakan saat itu. Maka dari itu Aku menolong dan setelah itu kembali untuk menghapus CCTVnya.” Vian berusaha menjelaskan meski sebenarnya semua itu tak ada.


“Tapi sekarang dia di rawat dan dan akan sembuh. Dia bisa menjadi boomerang untuk kita,”


“Itu urusanku, Om. Aku yang akan menangani itu semua besok. Hanya menghilangkan nyawanya, kan?”


“Kau bisa? Jangan sampai ada yang tahu, dan kau tertangkap setelahnya.” Om Dipta tampak benar-benar tegang saat ini.


Vian terus berusaha meyakinkan Om Dipta dengan semuanya, menjelaskan semua rencana bohong yang ia atur sendiri sejak tadi dan akan merapikannya bersama papi Seno dan rekannya yang lain disana. Semua harus berhasil, harus selesai hingga ia akhirnya bisa menikahi Lyra sesuai janjiinya.


Vian tak berminat sama sekali dengan mall itu. Ia konsisten hanya ingin kejelasan akan kematian kedua orang tuanya sejak dulu hingga saat ini. Dan meski alurnya ternyata begitu panjang, namun semua begitu jelas baginya dan bisa dengan tepat menentukan siapa dalah dibalik itu semua. “Hanya tinggal alasan, kenapa dia sampai membakar rumah dan isinya.” VIan bahkan refleks mengepalkan tangan mengingat itu semua.


Panggilan ia matikan dan setelah itu beranjak untuk membersihkan dirinya kembali setelah selesai pertempurannya dengan Lyra. Yang bahkan kekasihnya saat ini masih tergolek lemah memejamkan mata untuk mengumpulkan kembali tenaganya yang sempat habis.


“Euuunngghh!!” Lyra mengulet meregangkan otot-ototnya saat itu, meraba sebelah dan tak mendapati Vian disana. Tapi ia tak berteriak karena mendengar suara air shower mengalir dari sana. Vian sedang mandi. Lyra bahkan seakan mencium aroma Vian dari tempatnya saat ini, begitu harum dan benar-benar ia sukai.


“Kau sudah bangun? Mandilah, aku antar kau pulang ke rumah sekarang juga. Aku yakin, Laras disana sudah menunggumu sejak tadi.”


“Vian_”


“Jangan merengek, aku tak suka. Kau harus patuh perintahku saat ini.” Vian lantas berjalan menghampiri Lyra yang memanyunkan bibirnya. “Karena, aku calon suamimu sekarang,” kecup mesra Vian dibibir ranum nan manis itu.


Lyra langsung terpacu semangatnya dan segera menuruti apa perintah Vian saat ini. Ketika siap keduanya segera pulang meski Vian harus pergi lagi dengan segera untuk menemui papi disana.


“Kenapa lama, kalian mampir kemnaa?” tanya Laras penuh curiga, yang bahkan ia meraih penutup dada Lyra dan mengintipnya terang-terangan.


“Hey…. Apa-apaan? Kau sendiri punya yang lebih besar!” sergah Lyra yang langsung menepis tangan sahabatnya itu. Apalagi memang saat itu Laras tengah mengASIhi Zayan di pangkuannya.


Laras hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, sesekali merasakan perih dengan hisapan kuat dari putranya.


“Aku sudah mendengar semuanya dari papi,”


“Lantas? Kau mau apa?”


“Kau kira, aku bisa apa? Bukankan kau saja belum mengakui aku sebagai ibumu meski mungkin kau mengakui Zayan sebagai adikmu.”


“Entah, begitu sulit untuk mengakuimu sebagai ibu. Karena pada kenyataannya, Kau bukan ibuku.” Tatapan Lyra begitu dingin pada Laras saat itu, untung saja Laras sudah amat terbiasa dengannya hingga tak lagi ada kata sakit hati. Ia hanya bisa menghela napas dalam-dalam dan membuangnya dengan lega saat itu.


Lyra yang datar langsung berdebar mendengar harapan Laras padanya saat itu. Setulus itukah dia pada Lyra, hingga tak lagi merasa semua adalah beban baginya. Laras tampak begitu bahagia saat ini, apalagi dengan bayi kecil dengan tangan yang ia genggam begitu menggemaskan.


Pintu di ketuk. Laras yang siap berdiri dan membukanya saat itu langsung dilerai oleh Lyra, hingga ia yang berjalan membuka pintu itu. Padahal selama ini ia akan berteriak memanggil bibik sesuka hatinya. Laras hanya tersenyum melihat perubahan Lyra.


“Dem? Kenapa kemari?” kaget Lyra ketika Demian datang membawa Salsa, bahkan dengan koper masing-masing.


“Nona, saya diminta tuan dan kak Vian untuk kemari. Tapi saya sendiri tak tahu untuk apa,” celetuk Salsa dengan wajah bodohnya.


“Bahkan kamu menurut saja meski kamu tak tahu apa-apa? Bagaimana jika mereka memintamu terjun dari Gedung mall tinggi itu?” tatap geli Demian padanya.


“Sejahat apapun, mereka tak akan memerintah seperti itu padaku.” Salsa menjawabnya, tapi tampak seperti tengah menahan kesal para Demian saat ini.


“Aku diminta Vian, untuk menjagamu dan Mami. Bahkan, Vian akan mengirim beberapa orang nanti yang akan menjaga disekitar rumah ini.” Demian menjawab sesuai perintah yang ada. Entah kenapa ia seolah menurut sekali dengan VIan saat ini.


Lyra terharu melihat mereka semua. Baru ia sadari, banyak orang yang mencintainya selama ini meski acapkali mendapat perlakuan tegas darinya. Lyra yang tak kuasa langsung memeluk mereka berdua bersamaan.


“Kamar Salsa dimana?” tanya gadis itu terburu-buru, apalagi ia menahan kebelet saat ini.


Lyra tertawa dan segera menunjukkan kamar Salsa yang ada di sebelah kamar vian, sementara Demian disebelahnya saat itu. “Jaga diri, Salsa.” Lyra menggoda adik Vian itu agar berjaga dari Demian.


“Ih, apaan? Selesa Salsa bukan dia. Lagian dia juga_”


“Apa?” tatap tajam Demian padanya saat itu juga.


“Ngga papa, mau pipis.” Salsa langsung kabur dan masuk ke kamarnya saat itu juga.


“Lyra, maaf… VIan memintaku untuk menyimpan hpmu saat ini, agar kau tak menghubungi dia sementara waktu,” ucap Demian mengulurkan tangannya. Ia juga sebenarnya tak tega, tapi harus membantu Vian untuk fokus pada semua rencana yang ada.


“Loh, kenapa dia jadi seenaknya begini? Kenapa sampai harus_ Ngga… ngga mau!” Lyra langsung mundur dan berusaha melindungi hpnya saat itu, yang paling parah adalah perasaannya pada Vian yang mendadak jadi gelisah.


"Kamu tahu rencana mereka? Katakan, Dem... Apakah ini berbahaya?"


"Lyra, aku juga kurang tahu, tapi Vian memang harus benar-benar fokus saat ini. Beri dia waktu hingga kembali, dan kau harus tetap tenang."


"Bagaimaan aku bisa tenang?"