My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Galaunya Vian



Vian langsung masuk dan meraih tubuh pak bambang yang sudah tergeletak begitu lemah di lantai rumahnya. Lyra yang ada dibelakangnya saat itu lantas menghubungi polisi untuk membantu mereka mengevakuasi jasadnya saat itu karena sudah dipastikan jika ia telah meninggal dunia.


Vian mengepalkan tangannya dengan begitu kuat, andai ia lebih cepat pasti setidaknya pak Bambang tertolong meski keadaannya begitu kritis.


"Dia memiliki serangan jantung selama ini." Lyra yang sempat mengetahui lantas menceritakannya pada vian mengenai riwayat Kesehatan sepuh di mall milik keluarganya itu. Ia selama ini bahkan sudah banyak menjalani pengobatan bahkan hingga ke luar negri untuk penyakitnya. Maka dari itu ia pension dini dari mall yang telah ia bangun bersama papi lyra dan beberapa rekan lainnya..


Para petugas segera datang kerumah itu dan segera mengambil alih jasad pak bambang. Duda beranak satu itu sudah tinggal terpisah jauh dari anak dan mantan istri yang ada di luar kota, dan memang sebatang kara di rumahnya.


Mereka semua melakukan outopsi atas jasad pria paruh baya itu, dan memberikan penyebab sementara kematiannya pada vian dan lyra yang sejak tadi menunggunya disana.


"Menurut riwayat kesehatan, pak bambang terkena syok hingga jantungnya kambuh. Apalagi ia tinggal sendiri hingga telat mendapatkan pertolongan," terang sang petugas pada keduanya. Dan kemungkinan lain akan menyusul karena vian meminta mereka untuk mengecek semuanya karena insting vian mengatakan ada yang berbeda.


Hingga sebuah mobil mewah datang menyusul, dan tak lain adalah papi lyra bersama demian. Lyra mencebik kesal melihat sang papi yang begitu lengket dengan pria itu saat ini. "Kenapa tak bergandengan saja supaya tampak semakin mesra," sindir kesal lyra pada keduanya.


"Tuan," tunduk vian melihat bosnya datang kesana.


"Ada apa kau datang kemari?" tanya papi seno.


"Ada... Keperluan dengan beliau," jujur vian padanya, tapi papi seno lantas menatapnya penuh curiga.


"Dia bukan anak kecil yang pantas kau lindungi," balas sang papi padanya.


"Ini bukan perkara anak kecil atau yang lain. Papi lihat sendiri jika ia sangat tertekan saat ini,"


"Kau sudah mulai memperdulikan orang lain? Siapa yang mengajarkanmu?"


"Yang jelas, bukan papi." Lyra dengan wajah datarnya menatap sang papi yang berdiri tepat didepan matanya saat ini.


Papi membalas tatapan itu, tersenyum miring melihat gelagat sang putri yang menurutnya aneh saat ini. Biasanya lyra apatis dan tak perduli apapun yang ada disekitar kecuali dirinya sendiri. Terlebih lagi selepas kepergian sang mami yang menambah rasa sakit diinti hatinya yang terdalam kala itu


"Bela dia semampunmu, Lyra. Hingga kau akan tahu semuanya, dan hanya tinggal memberi keputusan bagaimana terhadapnya nanti," ujar papi yang menyulut rokoknya saat itu.


Lyara hanya mengerenyitkan dahi dan menatap sang papi pergi dari hadapannya. Lantas ia kembali menghampiri vian yang terduduk lemah diatar kursi panjang yang ada, menatap seluruh rumah itu telah dipasangi garis polisi saat ini.


Ia gamang. Fikirannya tak tahu lagi akan mencari kemana orang-orang yang sempat bekerjasama dan pernah menjadi sahabat ayahnya. Ia hanya tahu pak bambang karena ia yang terdekat saat itu, dan ia melihat pak bambang hadir dan menangis di pusara keluarganya..


Papi lyra juga disana, tapi saat itu papi seno hanya diam terus menatap pusara sahabatnya tanpa berbicara apapun disana. "Siapa yang bisa aku cari lagi setelah ini?"