
Lyra mengganti pakaiannya dengan yang lebih rapi. Ia sudah siap untuk berangkat, dan sesuai janjinya ia akan mengajak vian untuk kencan malam ini dan ia telah mandadani vian dengan begitu rapi.
"Hmmh, harumnya." Lyra menghirup dalam aroma parfum vian dengan hidung bangirnya.
"Haruskah ini? Jujur aku tak percaya diri untuk makan diluar dengan keadaan seperti ini. Hanya tak ingin_"
"Hey, sudahlah. Tak akan ada yang curiga pada kita, lagipula semua orang tahu jika kau adalah supir pribadi merangkap ajudanku." Lyra sembari memakaikan ikat pinggang vian, hadia mahal dari lyra untuk menunjang penampilannya. Ia semakin tampan dan rupawan dengan setelan jas dan celana baan hitam, apalagi bagian dadanya yang terbuka.
Lyra segera mengancing bagian dada itu agar tak ada orang lain yang akan melihatnya.
"Ini sesak," ucap vian yang baru akan membuka kembali kancing itu namun lyra segela mencegahnya. "Hey, ayolah..."
"No!! Aku tak ingin wanita lain melihatnya, Vian! Tutup," rengek lyra padanya. Vian hanya bisa patuh, dan entah sampai kapan semua itu terus bertahan.
Mereka berdua keluar bersama. Lyra juga memakai dress hitam seksinya, yang memperlihatkan Sebagian paha dan dada atasnya. Ia berjalan berlenggak lenggok didepan vian yang sejak tadi memperhatikan dirinya.
Begitu indah. Meski mungil dan nyaris setengahnya dari tubuh vian, tapi bokong itu begitu besar dan selalu bisa menggoda setiap mata yang melihatnya. Apalagi dua buah indah yang ada didadanya dan selalu memancing dahaga.
"Kau lihat apa?" tanya lyra yang seketika mengagetkannya.
"Tidak... Hanya sesuatu yang seperti ingin mendesak keluar sejak tadi. Kau tak ada dres lain?" tanya vian padanya.
"Kau tahu selama ini styleku bagaimana. Aku tak ada yang lain saat ini. Dan lagi, ini sepertinya semakin membesar gara-gara ulahmu." Lyra menguncup dua bulatan indah itu dengan kedua telapak tangannya.
"Hey, Aaaah!" Vian segera menurunkan tangan itu dari sana agar tak ada orang lain yang dapat melihatnya. Lyra hanya tertawa, padahal saat itu mereka Hanya didalam lift berdua dan tak ada siapa-siapa.
Mungkin jika ada kain apapun itu disana langsung vian pakaikan pada sang nona.
"Ada kau didekatku, mana berani mereka melirik. Tapi, aku suka kalau kau cemburu. Itu menggemaskan," colek lyra didagu kekasihnya.
Mccckk! Vian mencebik kesal atas perlakuan lyra padanya.
Lift terbuka, dan mereka kelur bersama menuju mobil yang terparkir di basement apartement mewah itu. Perjalanan begitu santai antara keduanya, lyra sembari memboking tempat untuk mereka berdua disebuah restaurant mewah untuk kencan mereka.
"Harusnya aku yang mentraktirmu."
"Aku yang ajak kencan. Lagipula_"
"Hmmm?" Vian kemudian menatapnya. Ia tahu apa yang akan lyra ucapkan, tapi lyra berusaha menahannya agar tak keluar dan menyakiti hati vian.
"Maaf," sesal lyra yang seketika mengunci bibirnya. Ia takut vian tersinggung, dan ia akan meninggalkan lyra untuk pekerjaan yang lebih baik diluar sana.
"Besok, aku akan mengikutimu. Aku janji. Kali ini karena aku yang ajak, kamh ikut aku, ya?" bujuk lyra padanya..
Lyra sedikit tenang, karena setidaknya vian tak langsung membalik arah dan membawanya pulang ke apartemen atau bahkan rumah utama.
Hingga akhirnya mereka berdua tiba di restaurant itu, disambut pelayan yang bertugas dan segera masuk ketempat yang sudah dipesan oleh lyra. Tak salah lagi, tempatnya begitu mewah dan romantis dengan suasana privat hingga tak ada yang bisa mengganggu keintiman mereka berdua disana.
Jujur saja vian kurang nyaman, tapi sepetinya lyra menyukai ini semua. Kadang vian bertanya dalam hati, maukah lyra menyesuaikan diri dengannya nanti?
"Ayo makan, kenapa lihatin aku terus? Gemes ya?" goda lyra pada kekasihnya itu.
"Ya, kau sangat menggemaskan. Rasanya ingin memakanmu," balas vian, yang langsung mengambangkan senyum lyra disana.
Makan malam berjalan begitu tenang dan romantis. Meski vian sendiri banyak diam, tapi lyra yang terus mengisi suasana disana menjadi lebih berwarna. Membicarakan keinginannya atas hubungan mereka, dan masa depan berdua.
Vian berusaha tak merusak suasana dengan membahas semua rasa insecure dalam dirinya. Disana ia terus memperhatikan lyra, wajahnya, dan semua kesempurnaan dalam dirinya. Begitu sempurnya dan nyaris setiap hari membuatnya gila.
Dulu lyra tak seperti ini, ia lah yang selalu mengajari lyra berolahraga karena semua alat lengkap dirumah mewahnya. Alat yang biasa dipakai papinya. Dan pantas saja meski dalam usia kepala lima, papi lyra masih begitu bugar tubuhnya.
Alunan musik diputar, sepertinya memang pegawai resto itu sengaja karena memang suasana romantis yang lyra minta. Lampu juga berganti remang, berkelap kelip menambah intim suasana mereka disana. Vian hanya tersenyum menggelengkan kepala, seakan mengerti benar maksud lyra padanya.
Pria itu lantas mengulurkan tangan layaknya seorang pangeran mengajak seorang putri untuk berdansa. Meski nyatanya ia bukanlah seorang pangeran, melainkan hanya seorang pengawal dari sang nona.
Tapi lyra segera membalasnya, dan mereka berdiri untuk berdansa disana. "Meski kau begitu dingin, tapi kau juga selalu peka dengan apa yang aku mau,Vian." Lyra menempelkan kepala di dada bidangnya. Begitu nyaman dan hangat disana.
Tangan keduanya saling bertautan, dengan kaki bergerak kompak ke kanan dan kekiri mengikuti irama lagu yang terputar indah disana. Lyra bahkan melepas tangan mereka dan memilih untuk memeluk vian dengan erat, dengan kepala mendongak terus menatap wajahnya yang sempurna.
Memang sepertinya lyra lah yang tergila-gila pada supir pribadinya itu. Meski dia lama bersama riko, tapi rasanya tak seperti ketika bersama vian yang membuatnya menggila setiap hari.
"Andai aku tahu bersamamu seindah ini, aku tak akan menyiakan waktuku bersamanya. Beruntung dia belum mendapatkan semua itu dariku,"
"Penyesalan selalu datang di akhir. Terimakasih karena kau telah menjaganyanya untukku," kecup vian dengan mesra dikeningnya.
Tapi vian memperingatkan lyra, agar ia kembali dapat mengontrol emossinya mulai sekarang. Ia semakin dewasa, dan meledaknya amarah yang suka tiba-tiba itu begitu tak baik untuk semua pekerjaan yang ia lakukan.
" Bisa jadi, orang lain nanti akan memanfaatkanmu dengan itu."
"Iya, aku akan mencobanya. Tapi kau juga harus janji untuk tak memberikan kekuatanmu itu pada siapapun. Aku tak mau, jika kau_"
"Tidak akan. Aku seutuhnya milikmu, Lyra." Ucapan yang begitu menenangkan melebihi sebuah rsyuan maut dan kata-kata manis yang pernah riko ucapkan.
Mereka terikat saat ini. Tak mau saling meninggalkan dan saling menyakiti, namun akan terus saling menikmati satu sama lain. Lyra bahagia, bahkan ia rela tubuhnya remuk demi memuaskan kekasihnya itu, yang seakan begitu kuat dan tak terkalahkan. Mampu mengoyak tubuhnya luar dalam dengan segala kenikmatan yang ia berikan.
"Aku juga akan terus berlatih untuk memuaskanmu. Aku tak ingin hanya terus dipuaskan seperti ini," tekad lyra untuk kekasihnya.