
Vian kembali ke kamarnya usai memberi lyra ketenangan. Lyra langsung terkulai lemas usai pelepasan yang luar biasa, hingga vian langsung menyelimuti dan meninggalkannya. Ia membereskan kamar yang sudah seminggu lebih ia tinggali itu sendiri, karena ia memang tak terbiasa memanggil asisten rumah tangga meski ia juga berwenang disana.
Ia membuka lemari, kemudian mengeluarkan satu kotak yang ada disana untuk melihat isinya. Sebuah foto keluarga yang tampak begitu bahagia, terdiri atas Vian, ayah ibu dan seorang adiknya. Ia menatap rindu pada foto itu, ketika mereka sudah tak ada lagi di dunia ini dan tak bisa lagi memeluk mereka selamanya.
Tanpa sadar airmatanya menetes dan ia segera mengusapnya saat itu juga.
Keluarga vian meninggal dalam peristiwa kebakaran Sepuluh tahun lalu, dan kabarnya sang adik sebenarnya selamat namun hingga kini tak diketahui keberadaannya. Ia saat itu tengah menjalankan sekolah diluar kota ikut dengan sang paman jauh dari orang tuanya. Ia langsung pulang ketika mendengar itu semua, namun sayangnya semua telah habis ketika ia datang. Bahkan jasad orang tuanya telah menjadi abu diantara puing-puing tempat tinggal mereka.
Vian saat itu tetap melanjutkan study meski harus tertatih mencari biayanya sendiri hingga menyelesaikan kuliahnya.
"Paman, ada apa menelponku?" tanya vian.
"Kamu dimana sekarang?"
"Dirumah, tempatku bekerja. Kenapa? Dirumah Senopati," jawabnya dengan jujur.
"Kau sudah menemukan Sesutu disana? kau sudah terlalu lama untuk pergerakan itu, vian. Setidaknya jika kau tak mau membahas mengenai ibu dan ayahmu, carilag petunjuk mengenai adikmu. Semua orang yakin jika dia masih hidup dalam musibah itu."
Paman tirta terus meyakinkan atas kejadian itu, pasalnya memang beberapa saksi mengatakan hal yang sama, jika adik vian saat itu diselamatkan oleh seseorang dan dibawa pergi saat api tengah begitu besar berkobar menghabisnya bangunan rumah mereka. Orang itu adalah asisten rumah tangga mereka, dan semua orang curiga jika ia juga ikut andil dalam semua peristiwa itu.
"Ningsih rupanya sudah tak bekerja disini, sejak ia mulai sakit. Mereka juga tak ada yang tahu dia dimana, aku masih terus mencarinya disela semua kesibukan yang ada. Paman tahu, aku menjadi supir dari nona besar pewaris tunggal Senopati," jawab vian padanya.
"Ya, paman tahu jika kamu Sudah berusaha keras disana. Paman hanya ingin mengingatkan kembali tujuan utama kita, mencari Livy." Paman melunak ketika mendenga suara vian yang tampak lelah dengan segala tugasnya. Ia paham benar bagaimana kesibukan vian yang harus terus mengawasi sang nona besar.
Pembicaraan di akhiri, dan vian menyimpan kembali semua rahasianya didalam lemari paling bawah. Ia merebahkan tubuhnya sejenak di ranjang empuk itu kemudian memejamkan matanya.
Sementara vian terpejam, lyra justru membuka matanya. Ia sempat mencari vian yang terbiasa didekatnya, hingga ia sadar jika vian tak ada disana. Ia hanya bisa mencebik kemudian menghembuskan napas kasar dari mulutnya.
"Fake situation," ucapnya datar, kemudian berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.
Ia merasakan kakinya masih sedikit lemas. Lagi-lagi ia teringat vian yang baru saja memberinya kenikmatan dengan lidah dan jarinya dibawah sana dan lagi-lagi membuatnya terpesona. Pria itu benar-benar telab membuatnya gila, dan setiap saat hanya ingin bersamanya.
"Lyra?" panggil seseorang dari luar.
Lyra yang paham benar suara itu, serasa begitu malas untuk menemuinya. Apalagi untuk mengobrol berdua. Tadi saja karena vian, maka lyra mau menegurnya didepan sang papi.
Lyra membilas tubuhnya. Ia tak lagi mendengar suara laras memanggilnya saat itu, hingga ia merasa semua aman san ia bisa segera keluar. Hanya dengan lilitan handuk sebatas dada dan paha atas, ia melenggang keluar sembari mengusap rambutnya yang basah.
"Kamu baru mandi?" tanya Lara, yang saat itu membuat lyra terlonjak kaget karenanya.
Lyra menarik napas dalam, kemudian berlalu tanpa sepatah katapun ia ucap pada sahabatnya itu. Padahal laras sudah begitu berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka berdua yang berantakan saat ini.
Lyra memilih pakaiannya sendiri, sedikit sulit karena ia terbiasa dilayani. Saat itu laras mendekat dan mencoba membantunya, karena ia paham benar bagaimana lyra.
"Aaahhh!" Laras memekik karena kaget.
"Aku bahkan tak mengenaimu, kenapa menjerit? Sengaja memancing mereka semua datang dan menyalahkan aku? Iya?"
"Bu-bukan begitu, Lyra. Aku hanya kaget tadi, aku ngga bermaksud untuk_"
"Ciiih... Sudahlah, keluar sana. Jangan sibuk cari muka denganku, karena semua sudah terlanjur hancur berantakan sejak kau merusak semua kepercayaan yang ada." Lyra memasang wajah sebal, begitu sengit pada laras hingga melihat wajahnya saja amat malas.
Dari ujung rambut hingga ujung kaki, ia bersumpah tak akan pernah menganggapnya sebagai mama apapun yang terjadi.
" Ra, haruskah seperti ini? Berapa kali aku harus meminta maaf padamu?" tanya laras, karena semuanya bahkan sudah tak terhitung lagi baginya.
"Maka dari itu, diamlah. Aku sudah katakan sejak awal, bahwa kita tak memiliki hubungan lagi sejak kau menghianati aku dan mami!" Lyra tetap pada ucapan yang sudah dua tahun ia lontarkan, ketika ia tahu bahwa papi menikahi sahabatnya sendiri.
"Tapi Ra, sudah aku bilang kalau aku hanya_"
"Aku juga pernah bilang, jika bertanggung jawab bukan berarti harus menjadi ibuku."
Suara keributan itu terdengar hingga keluar. Papi seno yang ada dibawah langsung naik untuk menjadi penengah antara keduanya, dan vian juga seketika membuka mata ketika mendengar hal yang sama.
" Ra, "
" Apa? Sudah ku bilang pergi! Aku ngga mau lihat muka sok baikmu lagi disini. Pergi!" Lyra bahkan mendorong tubuh laras hingga mundur kebelakang. Untung saja papi seno yang datang segera mengangkapnya agar tak jatuh ke lantai.
"Lyra!" bentaknya pada sang putri, dan baru kali ini papi membentak lyra hingga seperti itu, bahkan membuat tubuh lyra gemetar seketika.
"Kamu, ngga pernah menghormati laras sebagai ibu kamu. Setidaknya adik kamu tengah ia kandung saat ini,"
"Dia yang datang dan mengganggu lyra. Kenapa lyra yang di salahkan? Atau, kamu memang sengaja, ya? Ngaku?!"
"LYRA!!" Papi semakin keras membentak lyra didepan istri barunya. Ia tak sadar jika itu semua sudah benar-benar menghancurkan perasaan lyra.
"Pi, sudah, jangan marahin lyra begitu."
"Stop! Diem! Jangan cari muka lagi, aku muak lihatnya. Ini kan, yang kamu mau? Menghancurkan hubungan aku sama papi. Ngaku!"
Perdebatan itu menjadi panjang seakan makin dibahas semakin panas dan sulit menemukan penyelesaian. Meski laras sudah memohon pada papi lyra untuk keluar, tapi papi masih saja mencecar lyra dengan segala tuduhan yang ada. Ia tahu watak putrinya yang keras, dan baginya keras juga bisa membuatnya berubah, padahal itu semua salah.
"Tuan, Nona?" Vian datang, dan ia lansung melerai mereka disana. Vian langsung berada ditengah mereka dan meminta lyra diam tak melawan lagi dengan papinya.
"Apa? Kenapa jadi aku lagi yang salah? Kenapa semua salahin aku? Kalian_... Keluar sekarang!" usir lyra, yang mendorong vian keluar dari kamar itu termasuk papi dan laras.