My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Tak cemburu sama sekali



Lyra dan vian berpisah dan mereka naik ke mobil masing-masing. Saat itu meera menatap vian dengan amat sinis seolah benar-benar ingin menyaksikan bagaimana kecemburan pria itu padanya. Ia bahkan bersumpah akan mengirim gambar ketika ia tengah berdua dengan demian, bahkan mungkin akan berfoto begitu dekat dengannya.


Pasalnya meera amat kesal karena vian selalu bisa mematahkan kata-katanya jika tengah memuji demian didepannya saat itu. Wajah datar itu tak memasang kecemburuan sama sekali atau bahkan hanya sekedar menasehatinya saat ini.


Lyra bersama papinya, di dalam mobil mereka lebih banyak diam tanpa interaksi diatara keduanya. Dan itu benar-benar sudah jadi kebiasaan mereka, atau justru aneh jika mendadak tampak akrab atau bahkan menunjukkan rasa sayang satu sama lain dengan begitu mesra.


Bakan hingga keduanya tiba di mall, langsung menuju sebua café dan demian sudah menunggu keduanya disana. Demian langsung tersenyum menyambut dan bahkan menyapa lyra dengan ramahnya.


“Apa kabar, Lyra?”


“Baik, kamu?” tanya lyra yang berusaha ramah, setidaknya ketika ada sang ayah didekatnya saat itu.


Demian diam. Ia memperhatikan penampilan lyra dari ujung kepala sampai ujung kaki yang tampak seksi dan cantik baginya, apalagi dengan rambut terurai seperti itu menambah kesan feminism lyra yang amat disukai oleh demian saat itu. Bahkan demian mengeluarkan sebuah jepit lalu memakaikannya dirambut lyra yang indah.


“Terimakasih,” ucap lyra canggung, tapi cukup berkesan dipertemuan kedua mereka.


Papi seno saja ikut tersenyum dengan kedekatan keduanya. Ia mengajak duduk dan membicarakan tentang bisnis mereka disana yang memang sudah terencana sejak lama. Mungkin papi fikir, lebih cepat selesai tentang bisnis maka ia akan segera bisa pergi dan meninggalkan mereka berdua untuk saling mengakrabkan diri satu sama lain.


Sementara itu saat ini vian tengah berkunjung kerumah pak cahyo. Beliau adalah seorang kontraktor alat berat yang kala itu sempat bertugas menggusur pemukiman warga sekitar, dan ia juga salah seorang teman ayah vian kala bekerja.


“Permisi, apakah ini benar rumah Pak cahyo?” tanya vian pada seorang wanita paruh baya yang tengah menyapu halaman rumah sederhana itu.


Dan entah kenapa bisa sederhana, mengingat geliat usahanya yang bekembang pesat dan Berjaya dimasanya. Apalagi dengan beberapa mobil yang terparkir di garasi, jauh dari kata mewah dari seorang kontraktor sepertinya.


“Anda siapa?” tanya wanita itu pada vian.


“Saya anak sahabat pak cahyo. Hanya ingin berkunjung dan melihat keadaan beliau saat ini,” jawab vian dengan ramah.


“Oh, mari duduk. Biar saya panggilkan suami saya, dia sedang istirahat didalam.” Ibu itu lantas meminta vian duduk diteras. Meski tanpa kursi, tapi disana bersih dan udaranya amat segar terhirup dihidungnya, dengan sebuha pohon yang rindang didepan, dan ia takt ahu pohon apa itu.


Mungkin akan ia jadikan alat untuk bertanya nanti pada pak cahyo sebagai mediator mereka beradu kata.


Dan akhirnya terdengar langkah kaki menghampirinya saat itu. Langkah yang terdengar begitu berat ditambah sebuah alat yang sepertinya adalah sebuah tongkat.


Ya, tongkat. Vian melihat pria itu mengenakan tongkat saat ini dan kakinya hanya satu. Vian tercengang, tapi ia berusaha biasa saja dan menyambut pria itu untuk duduk bersamanya diteras.


“Pak, perkenakan saya anak Sapta.” Vian memperkenalkan dirinya.


Pak cahyo cukup terkejut. Ia memang seperti mengenal vian, tapi tak menyangka jika anak sahabatnya itu sudah tumbuh menjadi sosok pria dewasa, tampan dan tegap seperti ayahnya. Bahkan pak cahyo tampak menitikan air mata terkenang semua pesahabatan mereka.


“Bapak terakhir mendengar kamu kuliah di luar kota, kamu sudah kembali?”


“Ya, saya kembali. Tapi sayangnya saya telat karena kebakaran itu sudah terjadi dan menyantap semua keluarga.” Vian ikut sedih mengenang semuanya.


Mereka mengobrol santai hingga beberapa lama, lalu akhirnya pak cahyo seolah sudah bisa membaca apa yang sebenarnya vian cari hingga begitu jauh menemuinya saat ini.


“kebakaran itu, pasti janggal bagimu. Benar?”


Vian menoleh dan menganggukkan kepala padanya, namun tanpa berkata apa-apa.


“Bisnis? Mall?” tanya vian, dan pak cahyo menganggukkan kepala. Ia lantas menceritakan asal usul bagaimana mall itu akan mereka bangun, mengumpulkan dana, mencari donator dan mempersiapkan semua alat yang ada. Dari sebuah minimarket kecil hingga menjadi sebuah mall besar serba ada seperti ini.


Pak cahyo baik. Bahkan ia menceritakan semua pada vian dengan detail menurutnya meski ada yang janggal bagi vian saat ini. Seperti ada sesuatu yang pak cahyo lewatkan dari semua cerita yang ada, dan seseorang yang ta kia sebut disana.


Vian ingin bertanya, tapi terpotong ketika istri pak cahyo menyuguhinya dengan kopi dan bakwan jagung nikmat buatannya sendiri. Ia dengan ramah mempersilahkan vian menikmati semuanya saat ini dan tak usah sungkan selama diana.


Perlakuan itu membuat vian tersipu. Bahkan, bakwan jagung yang ia makan mengingatka vian akan mendiang sang ibu yang tewas atas kebakaran itu. Jantung vian terasa sesak, perih hingga tanpa sadar air matanya keluar seketika.


“Nak vian ingat ibu,”


“Ibu tahu?” tanyya vian dengan suara seraknya.


“Ya, tahu noh. Kan ini yang ajarin buat ya ibumu,” ujar ibu sekar yang tersenyum padanya. Bahkan pohon yang ada disana adalah tanaman ibu vian ketika masih sering berkunjung kesana.


“Pohon cemara, katanya supaya duduk diteras serasa dipantai sejuknya.” Bu mita menambahi keterangannya.


“Ya, memang sangat sejuk,” ucap vian mengusap air mata. Jujur, ia sampai lupa bagaimana indanya pantai dengan pohon cemara disekelilingnya, karena ia selalu ingat ibu karena itu pohon kesukaan ibu selama mereka masih bersama.


“Aku ingat bahkan pohon itu ikut terbakar dan menyisakan bagian keringnya saja.” Vian kembali mengenang semua ingatan pahit itu.


Pak cahyo tampak memberi kode pada istrinya, yang kemudian bu mita pergi meninggalkan mereka berdua. Tapi tak lama dan akhirnya kembali lagi dengan beberapa berkas ditangannyya.


“Hanya ini yang bisa bapak beri, dan sampaikan salam bapak pada seno. Bapak tahu kamu bekerja dengannya saat ini,”


Papi seno, dan bukan om dipta yang ia sebutkan sejak tadi dalam ceritanya. Sebenarnya apa yang om dipta utarakan jika semua cerita adalah kebohongan? Apa yang om dipta incar dari bohongnya vian saat itu.


“Pak, terimakasih. Lain kali saya akan kembali kemari untuk berkunjung,” ucap vian padanya.


“Besok kamu akan kemari lagi,” balas pak cahyo dengan begitu yakin, dan vian hanya menganggukkan kepala padanya.


Setelah itu vian pergi dengan bekal bakwan jagung yang cukup banyak dari bu mita, bahkan meminta vian membaginya dengan papi seno, majikannya saat ini.


Ting! Hp vian berbunyi, dan ia sengaja meninggalkannya didalam mobil saat itu.


Lyra mengirim sebuah foto, yang mana ia begitu dekat dengan demian dan bahkan tampak begitu akrab saat ini.


Tapi balasan vian tak seperti yang lyra inginkan. Vian justru memberinya emoticon tersenyum dan love, bukan emoticon marah atau cemburu padanya.


“Arrghhh… Vian! Menyebalkan,” geram lyra padanya.


“Vian, supirmu yang sering kau bawa?” tanya demian.


“Iya, dia juga bodyguard sih, multitalent.”


“Dia sepertinya begitu dekat denganmu. Dimana dia sekarang?” tanya demian, dan lyra hanya menjawab apa adanya saat itu.