
Permainan selesai dengan lenguuhan napas mereka bersamaan. Vian terengah mengecupi pipi lyra yang sudah lemah tak berdaya akibat buasnya permainan itu, untung saja lyra sudah bisa mengimbangi semuanya..
Vian melirik kearah pintu, dan seperti sadad jika pintu sedikit terbuka dari biasanya. "Sayang, bersihkan dirimu. Aku menunggu disini,"
"Hmm, biasanya kau tak cukup sekali? Ada apa?" tanya lyra membelai pipi kekasihnya.
"Nanti. Hanya saja, kita kedatangan tamu." Lyra cukup terkejut mendengarnya, kemudian ia meraih gaun tidur robek itu untuk menutupi tubuh polosnya saat itu.
Lyra membenarkan posisi, mengecup bibir vian sekali kemudian berjalan ke kamar untuk membersihkan diri. Vin hanya kembali mengenakan boxer dan celana bahan yang tadi jatuh dilantai, kemudian dengan tubuh atas yang terbuka ia keluar menemui tamunya
"Sejak kapan kau disini?" Salsa terlonjak kaget mendengarnya, dan ia segera berdiri tanpa mampu menatap wajah vian saat itu.
"Kak, maaf. Salsa tadinya mau ketemu nona. Tapi_"
Vian menelengkan kepala agar salsa masuk kedalam. Ia juga mengajak salsa duduk disofa. Salsa menurut, tapi ia menghindari bagian sofa tempat mereka sempat bermain barusan. Bahkan hingga saat ini ia belum bisa mengangkat tegap kepalanya.
Bayangan panasnya permainan itu dan suaranya ternging-ngiang. Bagaimana kuatnya vian menerjang sang nona dengan keperkasaannya, dan bagaimana lyra begitu menikmati setiap hujaman yang vian berikan. Semua mengoyak lyra dengan begitu nikmat sepertinya. Tubuh salsa saja masih merinding hingga saat ini.
"Salsa?" panggil lyra yang keluar dengan rambut basahnya. Tampak ia begitu segar saat ini dengan aroma tubuhnya yang wangi. Pantas saja vian begitu candu dengannya.
"Nona, maaf. Saya tadinya kesini mau minta maaf dan menjelaskan kesalah pahaman tadi. Tapi_"
"Sejak kapan kau disana? Kau melihat semua?" potong vian pada ucapan salsa, dan gadis itu menganggukkan kepala.
Lalu lyra kaget, ia lantas duduk dan meminta penjelasan dari salsa saat itu juga. Meminta salsa agar menjaga semua rahasia yang ada antara lyra dan vian.
"Hubungan kalian, sejauh ini. Sejak kapan?" Salsa penasaran.
"Kau tak perlu tahu. Turuti saja ucapan nonamu, karena jika tidak kau tahu akibatnya."
"Vian," tegur lyra. Ia menatap kekasihnya itu sedikit kasar saat ini dan bahkan pada salsa yang sempat begitu akrab dengannya.
"Salsa janji, salsa ngga akan cerita ke siapapun termasuk Tuan papi." Salsa mengacungkan kedua jarinya pada mereka berdua.
Vian hanya diam, ia duduk disamping lyra dan mendengarkan obrolan mereka berdua. Dan salsa menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan papi seno. Bahwa semua tak seperti yang lyra fikira, bahkan salsa saat itu mengatakan jika papi seno adalah orang pria yang setia dengan mami laras yang tengah mengandung istrinya.
Ya, salsa sering temenin tuan papinya ketika ada pertemuan, jadi salsa tahu bagaimana beliau diluar sana. Meski banyak yang menggoda, tapi papi seno begitu kuat dengan godaan yang ada didepan mata.
Meski kesal, tapi lyra menganggukkan kepala mendengarnya. Lyra juga tahu jika papi benar-benar setia pada mami bahkan di pernikahan mereka yang menjelang 30tahun. Hanya saja semua berantakan ketika papi justru menikahi sahabat yang sudah dianggap anak oleh maminya.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak memujinya. Cukup dengan kau menjelaskan semua, aku memaafkanmu." balas lyra padanya..
Salsa menghela napas lega, meski masih penasaran dengan hubungan mereka berdua. Saling cinta, atau hanya sekedar....
Ah, itu urusan mereka dan salsa sudah kadung janji untuk tak membocorkan semuanya.
Sementara saat itu vian tengah memainkan tab lyra dan mencari beberapa data perusahaan difilenya. Bahkan sudah tak ada rahasia antara mereka berdua, toh selama ini papi seno paham jika vian orang kepercayaan lyra.
Hari sudah cukup malam, dan saat itu salsa pamit pulang pada keduanya. Lyra juga menelpon papi seno untuk izin menginap di apartemen malam ini. Tentunya bersama vian.
"Pulangkan dia sebentar, papi ada urusan dengannya."
"Papi selama ini hanya perduli dengan vian. Bahkan anak sendiri tak pernah ditanya bagaimana keadaannya. Padahal baru saja memergoki papi nyaris menggoda asisten mudanya."
Ucapan lyra saat itu terdengar oleh laras yang tengah duduk disebelah suaminya. Laras lantas menatap papi seno dengan tajam, bak belati yang siap melukainya kapan saja.
Papi seno hanya bisa menelan saliva melihatnya.
" Hey, kau ini. Kau bahkan tak mau mendengar penjelasan papi tadi. Terlalu emosi hanya dengan apa yang kau lihat,"
"Ya, tadi salsa sudah datang dan menjelaskan semuanya. Dia bahkan minta maaf," ujar lyra dalam ceritanya.
"Harusnya kau yang minta maaf karena fikiran kotormu itu," omel papi pada putrinya.
Mereka lantas berdebat lagi hanya gara-gara salsa. Sebuah kata maaf yang tak tepat sasaran, diucapkan oleh yang tertuduh padahal ssmua tuduhan itu tak benar. Lyra harus belajar semua itu, bahwa apa yang ia mau tak harus sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Haish, sudahlah. Papi mau vian? Lyra akan kirim dia sekarang juga kesana. Tapi ingat, setelah semua urusan selesai, segera kembalikan dia pada lyra."
"Kenapa kau begitu takut ditinggal supirmu itu?" curiga papi.
"Kenapa? Karena justru vian yang lebih paham lyra dibanding papi sendiri. Dan mungkin jika lyra hilang, vian yang akan setengah mati mencari lyra, dan bukan papi."
Lyra langsung mematikan hpnya saat itu juga. Ia menaruhnya kasar diatas nakas, hingga vian yang baru keluar dari kamar mandi itu menatapnya seketika.
"Kenapa?"
"Kau diminta papi segera ke rumah. Katanya ada banyak yang harus dibicarakan." Lyra bersedekap kesal menjelaskannya.
"Padahal aku masih ingin kamu," goda lyra yang kemudian berdiri meraba dada bidang sang kekasih yang tak ditutup saat itu. Vian hanya mengenakan handuk sepinggang, yang jika disentil sedikit saja maka akan melorot semuanya.
Lyra sudah akan meraih itu, tapi vian menahan tangannya."Ingat perjanjian kita. Bahwa kau tak boleh menahanku menyelesaikan semua urusan yang ada," tatap tajam vian padanya.
"Mccckkkk! Baiklah, aku mengalah. Pergi sana, jangan lupa pulang kemari setidaknya untuk memelukku ketika tidur nanti." Lyra tampak kesal, tapi masih bersikap begitu manja.
Vian kemudian berjalan menuju lemari untuk mengambil beberapa pakaian dan mengenakannya dengan rapi. Sedangkan diatas ranjangnya, lyra memperhatikan vian dengan begitu gemas menggigit bibir sendiri.
Apalagi ketika vian mengenakan boxer, rasanya lyra ingin segera melepas itu dan berlutut dihadapannya saat itu juga. Lyra gemas, membayangkan apa yang ada didalam sana. Sebuah pusaka yang selalu bisa membuatnya gila.
"Aku pergi," pamit vian yang begitu menghindari kepekaannya terhadap lyra.