My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Calon adik lyra



Pertemuan lyra lakukan disebuah café sekaligus makan siang bersama koleganya. Mereka adalah klien lama penghuni salah satu toko tas mewah yang ada di lantai Dua mall milik lyra. Rencananya mereka akan menambah sewa dan menambah satu unit untuk memperluas posisi usaha mereka disana..


"Tapi bukankah Anda tahu, jika disebelah itu milik toko pakaian yang juga sudah lama ada disana. Mereka membayar sewa tepat waktu, dan sama-sama bekerja dengan baik sesuai dengan perjanjian." Lyra menimpali semua bujuk rayu mereka padanya. Ia tak bisa semena-mena, apalagi dengan kata mumpung mereka tengah naik hingga harus didewakan dimana-mana.


"Nona harusnya bisa mengatur itu semua. Terlalu sayang jika kami nanti satu toko dalam dua lantai," ucap Wanita itu padanya, Wanita keturuna tionghoa dan memang sangat mahir dalam menjalankan bisnisnya.


Lyra hanya menggelengkan kepala, rasanya ia tak mau berdebat saat ini dengannya karena memang tak akan pernah mudah mendapatkan penyelesaiannya. Mereka sudah bekerja sama bahkan sebelum lyra memimpin mall itu dari ayahnya.


Salsa terus mengamati semuanya, ia hanya takut terjadi keributan hari ini karena lyra memang cukup sulit menahan emosi. Apalagi vian tak ikut bersamanya untuk membantu lyra mengontrol dirinya.


Namun apa yang salsa lihat saat ini cukup mengejutkan, bahwa lyra memilih diam dan melanjutkan makan siangnya hingga tandas. Meski salsa masih harap-harap cemas jikalau lyra bisa meledak kapan saja dengan emosinya.


"Kami akan naikkan Dua kali lipat biaya sewanya, bagaimana?" Wanita itu terus membujuknya.


"Memang harus naik dua kali lipat karena kalian akan menyewa dua ruko disana. Tapi tak bisa, karena kalian tak boleh mematikan jalan orang lain hanya untuk memperluas jalan kalian," balas lyra dengan mengiris steak setengah matangnya.


Mereka terus membujuk lyra dengan berbagai cara agar lyra mau menuruti maunya mereka. mereka semua khawatir, lyra tak terbantahkan dan akan begitu sulit untuk membujuknya. Lyra persis seperti ayahnya, yang keras kepala dan arogan didepan para karyawannnya.


"Nona jangan seperti itu, terlalu keras tak baik buat Wanita dan bisa buat jadi perawan tua."


"Aku Sudah tak perawan lagi," jawab lyra dengan gamblangnya tanpa filter apapun keluar dari mulutnya.


Semuanya terkejut, tak terkecuali salsa yang menjadi tangan kanannya disana.


"Nona," tegur lirih salsa pada ucapan frontalnya. Tapi lyra tak perduli dan hanya mengedikkan bahunya didepan mereka semua.


Wanita yang ada disana hanya menggelengkan kepala. Ia fikir akan menjodohkan lyra dengan putra tampannya agar mempererat hubungan bisnis mereka. Tapi ia juga tahu lyra, apalagi dengan pernyataan barusan. Ia memilih untuk menyudahi pertemuan itu dan mengulangnya esok hari dari pada menambah masalah lain nantinya. Ia fikir lyra hanya tengah frustasi, mengingat kabarnya putus dari sang kekasih hati.


"Lihat saja, dengan pria berwajah pas-pasan saja dia bisa sebucin itu, apalagi dengan anak tampanku nanti. Ia bisa melakukan semua apa yang ku mau, menguasai area perdangangan di mall itu. Awas kau lyra," racaunya usai meninggalkan mereka berdua disana.


"Nona kenapa bilang seperti itu? Iiih," kesal Salsa padanya.


"Kenapa selalu bilang jika perawan tua sebagai sebuah kesialan? Aku juga belum terlalu tua saat ini, enak saja mengecap seperti itu." Lyra tampak begitu santai menjawab semua pecakapan yang ada diantara mereka.


Dan tak lama kemudian papi lyra menelponnya, lyra melirik karena tumben dalam satu minggu sang papi menghubunginya dua kali. Biasanya perhitungan itu ia dapat untuk sebulan, ada apakah gerangan? Dan lyra segera menjawabnya meski dengan nada yang begitu malas.


"Ya?"


"Kau dimana?"


"Aku sedang bekerja dengan semua tugas yang ada, kenapa?" tanya lyra.


Saat itu sang papi hanya memberi kabar kepulangan yang akan ia lakukan dua hari lagi. Saat itu lyra kesal, karena itu artinya ia dan vian tak akan bebas lagi seperti biasanya karena pengawasan ketatnya kembali datang.


"Kau tak senang papi pulang? Padahal ingin mengajak mami barumu untuk_"


"Stop! Dia bukan mami lyra, jadi jangan bujuk lyra mengakuinya." Lyra begitu emosi ketika sang ayah membicarakan tentang istri baru yang ia nikahi Dua tahun ini. Lyra sama sekali tak setuju saat itu, apalagi sang papi menikahi sahabatnya sendiri.


Baik sahabat maupun papi, lyra membenci keduanya karena sudah berani mengkhianati sang mami. Walau memang mami lyra sudah meninggal cukup lama.


"Hey, ayolah. Papi datang untuk menabarkan jika kau sebentar lagi punya adik kecil."


"Anak papi, atau anak pria lain? Hebat juga papi masih bisa menghamilinya," ledek lyra dengan nada sinisnya. Sang papi sudah kepala Lima saat ini, ia tak percaya jika sahabatnya itu bisa hamil dengan kekuatan renta papinya.


"Jaga ucapan kamu, Lyra! Dia bahkan tak pernah sekalipun pergi tanpa papi disampingnya," geram sang papi padanya.


"Ya, kita lihat saja nanti. Bagaimana ketika adik kecil itu lahir, dan bahkan papi lebih pantas menjadi kakek untuknya. Aaah, atau benar-benar mau cucu? Lyra akan berikan." Lyra semakin menjadi untuk memancing emosi sang papi. Ia ingin papinya marah dan membentaknya, atau bahkan tak akan pernah kembali untuk melihatnya lagi selamanya.


"Kamu jangan macam-macam, vian akan selalu melaporkan apapun yang kamu lakukan pada papi."


"It's true, lyra tahu dan paham itu. Bahkan vian sudah melebihi papi dalam menjaga lyra saat ini, ketika papi disana bahagia bersama istri barunya."


"Lyra!!"


"Bye, papi... Have a nice day, selamat atas kandungan istrinya disana." Lyra kemudian mematikan telepon tanpa menunggu papi membalasnya. Ia melempar hp itu pada salsa, untung tepat jatuh diatas pangkuannya. Ia segera berdiri dan berjalan meninggalkan salsa tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya.


Salsa hanya mencebik kesal, untung saja makanan itu semua sudah dibayar oleh klient mereka hingga ia juga bisa cepat pergi dari sana menyusul sang nona.


Mobil salsa buka kuncinya dari jauh. Lyra masuk terlebih dulu dan salsa menyusul duduk didepannya untuk menyetir. Dibelakang lyra sibuk berbalas pesan pada seseorang, ia bahka tersenyum sendiri dan tampak gelisah, membuat salsa bertanya-tanya sedang apa sang nona dengan hpnya.


Siapa lagi jika bukan vian yang tengah ia goda. Bahkan vian saat itu tengah membantunya mengawasi keadaan di mall besar itu daripada hanya duduk memakan gaji buta beserta bonus yang diberikan padannya. Bonus yang tak akan pernah orang lain nikmati dari lyra.


"Aku tak mau dibayar karena telah menyenangkanmu, aku bukan gigolo."


"Wah, apakah ada kemajuan untuk hubungan kita? Apakah kita saling memiliki setelah ini?" tawa lyra dalam pesannya. "Itu tandanya, kapanpun aku mau kau juga harus menurutinya."


"Sesukamu, Nona. Aku ada kapanpun kau mau." Jawaban itu seketika membuat lyra semakin bahagia. Masa bodoh jika ia akan dianggap gila oleh orang lain yang melihatnya , terutama salsa. Ia juga tak kan bisa berkata apapun pada lyra atas kelakuannya.


"Ya, Tuan?" Vian menjawab panggilan dari papi lyra, yang saat itu mengabarkan hal sama pada vian akan kepulangannya sebentar lagi.


"Aku pulang untuk mempersiapkan kelahiran laras yang ditaksir sebentar lagi. Aku tak ingin lyra nanti buat ulah yang akan membahayakan Kesehatan mami dan calon adiknya."


"Siap, Tuan." Vian mengangguk lalu mematikan panggilan mereka.