
Braakk!!! Pintu lyra tutup dengan begitu kuat. Vian hanya berdiri dan tertunduk tepat di depannya sembari menghela napas denga napa yang terjadi pada lyra saat ini. Ia tak menyangaka jika lyra akan separah ini ketika laras berusaha kembali mendekatinya.
"Mas, aku minta maaf karena membuat lyra seperti ini. Aku tadi hanya_"
"Sudahlah, Laras, kau tak perlu lagi terlalu keras mendekati lyra. Emosinya masih susah dikendalikan ketika bertemu denganmu," balas papi seno pada istrinya.
Laras hanya sedikit merasakan keluluhan lyra tadi pagi ketika ia sudah mau menjawab sapaannya. Laras kira itu semua benar-benar terjadi, dan merupakan jalan agar mereka kembali akrab lagi. Tapi kenyataan yang ada tak sesuai dengan fikiran laras, yang kemudian bertanya-tanya akan kenapa sikap lyra padanya yang berbeda.
"Vian?" panggil papi, dan vian seketika memutar badan menundukkan kepala dan akan menyanggupi semua perintah yang turun padanya.
"Kau bisa menenangkan dia?" tanya papi ketika masih mendengar lyra mengamuk di dalam kamarnya. Bisa dibayangkan ketika lyra membuat berantakan seluruh barang yang ada didalam sana.
"Tuan mengizinkan saya masuk ke kamar nona?" tanya vian sebagai formalitas agar mereka tak curiga.
"Lyra ku serahkan padamu, aku bingung harus melakukan apa padanya." Papi kemudian menggandeng sang istri untuk kembali masuk ke kamar mereka, menunggu waktunya makan malam tiba. Ia tak ingin istrinya stress lagi saat ini.
"Maaf, Mas. Aku... Aku ngga sengaja, dan ngga sangka kalau lyra justru akan seperti ini." sesal laras yang menitikan air matanya.
"Sudahlah, serahkan semuanya pada vian saat ini. Sekarang kau istirahat dan fikirkan bayi kita, karena semua akan mempenagruhi pekembangannya." Papi seno membantu karas untuk merebahkan dirinya di ranjang. Ia akan pergi ke sebuah pertemuan penting saat ini, dan mempercayakan keadaan rumah itu pada vian terutama kedua wanita yang harus ia jaga.
Papi masih melihat vian berdiri didepan pintu kamar putrinya, entah apa yang ia lakukan, karen ajika itu dia maka akan segera mendobrak dan membuka paksa pintu itu meski harus merusaknya.
Papi hanya diam, ia lantas keluar dan pergi meninggalkan mereka semua. Dan ketika vian yakin papi sudah jauh dari rumah, barulah ia mengetuk pintu kamar lyra dan meminta lyra agar segera membukanya.
"Nona, ini aku. Bolehkan aku masuk ke dalam?" panggil vian padanya. sedikit lama hingga akhirnya lyra membuka pintu dan mmebiarkan vian masuk kedalam kamarnya.
Semua berantakan. Pakaian di lemari, bantal, dan semuanya sudah acak-acakan dilantai hanya karena lyra seorang, dan vian hanya bisa menghela napas kasar melihat semua perbuatan sang nona.
"Apa?" tanya lyra yang kemudian duduk di ranjangnya, bahkan masih mengenakan kimono mandi dan rambutnya masih begitu berantakan.
Vian meraih sebuah dress untuk lyra, bahkan pakaian dalam untuknya. Ia menaruhnya di dekat lyra sembari berjalan menuju hairdryer untuk mengeringkan rambut kekasihnya. Lyra lantas mendekap pinggang vian yang tepat ada didepannya, "Kenapa kau diam?"
"Kau mau aku bagaimana? Memarahimu? Rasanya ingin sekali aku menjewer telingamu agar diam sejak tadi, Lyra."
"HArusnya kau peluk aku, seperti ini." Lyra mengeratkan pelukannya.
"Sudah, pakailah bajumu." Vian lantas menyingkir dan membereskan hairdryer itu dari tangannya. Tapi lyra justru mencekal tangan vian agar tak pergi, dan terus ada disana untuknya.
"Aku hanya ingin membereskan semua ini, atau kau bisa membereskannya sendiri?" Lyra menggeleng, ia malas karena tak pernah melakukan itu semua dan terbiasa dilayani olehnya.
"Bantu aku memakai baju," manja lyra padanya.
Vian lagi-lagi hanya bisa membuang napas dengan kelakuan sang nona. Ia lantas meraih gaun itu sementara lyra membuka handuk kimono yang ia pakai hingga lekuk tubuh tak terbungkus itu terpampang nyata didepan mata vian. Pria itu hanya bisa meneguk saliva dan menjaga diri dari semua godaan yang ada.
Mulai dari bra, vian bahkan memasangkannya di tubuh lyra karena wanita itu justru hanya mengangkat kedua tangan kemudian berputar ketika vian akan menuncinya di belakang. Begitu juga dengan panty tipisnya, lyra benar-benar begitu manja hingga tak mau memakainya sendiri ditubuh indahnya.
"Kau sengaja menggodaku?" tanya vian yang mulai memakaikan dress di tubuh lyra.
"Aku lelah... Lelah mengamuk gara-gara dia," jawab datar gadis itu yang justru memanyunkan bibirnya pada vian.
Semua sudah ia pakai, dan bahkan rambut sudah ia sisir dengan rapi meski dibiarkan terurai dengan indah dibahunya. Lyra duduk menyaksikan semua aktivitas vian membersihkan semua barang yang berantakan di lantai itu."Kau sama sekali tak ingin membantuku?" tanya vian, dan saat itu lyra seolah hanya bisa menggelengkan kepala tanpa bisa menjawab dengan kata lainnya.
Buughh!! Vian melempar sebuah bantal mengenai tepat di wajah mulus lyra. Ia memekik, tapi setelahnya tertawa dan Menyusun bantal itu di ranjang besarnya. Lebih besar dari yang ada di apartement, hingga ia mendambakan kapan vian mencumbunya disana, pasti akan sangat nikmat dengan berbagai gaya yang berbeda.
"Kau memikirkan apa?" tanya vian, ketika lyra tersenyum mengelus-elus bantalnya.
"Tidak, aku tak membayangkan apapun. Hanya bertanya, kapan kita akan tidur disini bersama, dan_" Lyra cengengesan menghentikan kata-katanya. Entah bagaimana otak cerdasnya berfikir saat ini, karena sepertinya ia begitu haus akan belaian vian ke seluruh tubuhnya, bahkan seperti membuatnya bodoh seketika.
"Mari kita lakukan sekarang, jika kau ingin aku pergi jauh darimu segera." Vian justru menantang lyra dengan naik dan merangkak diatas tubuhnya.
Lyra gugup, ia sebenarnya suka dan ingin, namun memendam keinginannya ketika mendengar ancaman mengerikan vian terhadap hubungan mereka."Ampun, Vian, maaf. Aku tak mau kau pergi dariku, dengan alasan apapun itu," jawab lyra yang menaruh telapak tangan di dada bidan vian.
"Kau takut?" tanya vian, dna dibalas anggukan lyra saat itu juga. Ia sangat takut, karena memang vian yang paling dapat mengerti lyra saat ini dengan sifat dan egonya yang tinggi. Vian benar-benar memperlakukan lyra dengan baik dan lembut, bukan menenangkannya dengan paksa atau justru ditambah kekerasan lainnya.
Vian hanya diam, ia kembali melipat pakaian lyra dan memasukkannya didalam lemari dengan rapi. Ia melakukan itu semua sendiri ketika lyra berbaring dan memainkan tabnya sejak tadi, untung saja vian sudah sangat terbiasa dengan semuanya.
"Pak seno, Anda datang?" sapa salsa pada bos besarnya. Ia langsung gugup, karena meski lyra begitu garang tapi papi seno lebih mengerikan karena tak bisa melihat kesalahan dari tindakan yang di lakukan. Sedangkan lyra tampak seperti masih memiliki Nurani ketika memperlakukan karyawannya sendiri.