My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Salah sangka pada Salsa



Maya keluar setelah mendapat penolakan dari vian. Rasanya amat kecewa dan marah, terutama mendengar nama seorang wanita disebut olehnya bahkan bahkan ketika bermimpi. Padahal ialah yang selalu ada untuk vian selama ini.


"Kesaaaaal!" rengam maya yang menghempaskan diri diatas ranjang mewahnya. Ia tampak amat frustasi saat ini hanya gara-gara ingin vian, apalagi ia amat tahu bagaiman pria itu dengan tubuhnya dan bahkan senjata vian yang luar biasa gagahnya.


"Aaaaahhh! Kak Vianh!" Akhirnya jemari maya mengambil alih semua hasraatnya saat itu juga.


Sementara vian tengah berusaha kembali memejamkan mata meski terjebak dalam bayang-bayang lyra dikepalanya. Apalagi ia nyaris ON hanya karena sentuhan maya.


Sementara itu papi seno tengah membongkar semua file dan dokumen pentingnya. Ia mengambil itu semua untuk vian agar semakin mempelancar semua penyelidikannya, karena itu juga untuk papi seno dan membersihkan nama yang selama ini dibuat kotor oleh orang lain.


Salsa saat itu membantunya, membongkar beberapa dokumen lama yang bahkan sudah berdebu dan usang disana. Ia memilah dan memilih semua dokumen penting berdasarkan titah sang tuan.


"Teliti yang benar, Salsa. Ini semua penting bagi perusahaan kita, dan bahkan kamu."


"Kenapa saya?" tanya bodoh salsa pada bosnya.


"Kalau perusahaan dan mall kita bangkrut, atau terkena skandal yang menyebabkan penutupan, kamu mau kerja dimana?" tanya papi seno dengan tatapan tajamnya.


"Oh iya, lupa. Iya, Tuan... Saya akan cari baik-baik seusai dengan perintah," manut salsa dengan anggukan kepalanya.


Terutama pada berkas anggota lama pendiri mall, bahkan siapa saja perintis disana termasuk ayah vian dan pak bambang. Semua data dengan jelas harus dikumpulkan semuanya bahkan kontraktor yang ikut mengerjakan semua proyek yang ada.


"Sampai segitunya, ada apa?" gumam salsa, yang bahkan sudah menemukan berbagai data yang diminta.


"Tuan, ini datanya.. Aaarrrhhh!"


Bruuugggh! Salsa justru tersandung dan jatuh memeluk papa seno yang ada tepat dihadapannya saat itu. Ia terlungkup, sementara papi seno rebah dengan salsa diatasnya.


"Aaah, malah jatuh lagi. Maaf, Tuan, salsa ngga sengaja." Salsa langsung membersihkan diri dan membenarkan posisi duduknya saat itu, bahkan papi seno juga lantas merapikan kemeja yang ia pakai dan mereka tampak semakin berantakan.


"Papi!" Lyra memekik melihat mereka berdua dengan segala fikiran buruknya.


Hari sudah sore, bahkan beberapa staf sudah pulang saat itu. Tapi mereka berdua malah bersama dalam ruangan dengan bentuk yang berantakan, apalagi lyra melihat rok span salsa sedikit terangkat keatas.


"Lyra, kamu kenapa kemari?" tanya papi seno mengerenyitkan dahi.


"Lyra yang pegang mall ini, kenapa papi tanya? Justru lyra yang tanya, ngapain kalian berdua?" tanya keras lyra.


"Papi tak melakukan apapun, hanya meminta salsa untuk..."


"Apa? Dirumah laras lagi hamil besar, bisa-bisanya godain daun muda disini. Salsa itu asisten lyra! Apa kurang papi_".


"Nona, maaf. Salsa dan Tuan tak melakukan apapun, kami hanya_ hanya_"


Salsa hanya pasrah, ia tahu jika sudah seperti ini lyra tak akan mempan hanya dengan sebuah penjelasan dari mulutnya saja. Lyra sudah terjebak dalam prasangka negatifnya yang membabi buta.


"Ya, Nona sudah dikhianati oleh sahabat dan papinya. Wajar jika sekarang seperti ini, karena pasti ia takut akan dikhianati lagi." Salsa yang begitu paham mencoba menenangkan diri saat ini. Ia tak bisa grasak grusuk menenangkan lyra disana, apalagi saat vian tak ada.


"Kau berfikir apa tentang papi, Lyra? Kau fikir papi akan menggoda salsa? Sebejad itu fikiranmu terhadap papi?"


"Pengalaman membuat lyra waspada akan semuanya. Cukup laras, dan itu sudah sangat membuat lyra kecewa karena pengkhianatannya." Lyra yang terus saja terjebak dalam lingkaran masa lalu mereka bertiga.


"Kamu yang yang masih saja tenggelam ketika semua orang bahkan sudah kering dan berganti baju baru." Papi seno mengumpulkan kembali berkas yang diberikan salsa lalu merapikannya. Ia bahkan memberikannya pada lyra usai ia masukkan kedalam sebuah plastik layaknya itu adalah sebuah data forensik yang amat penting dan rahasia saat ini.


" Berikan pada vian," ucap papi dengan santainya.


"Kenapa tak berikan sendiri? Papi kira, lyra tak ada pekerjaan lain setelah ini?" sinisnya.


"Baiklah, papi akan berikan ini sendiri nanti." Papi menarik kembali berkas itu dari sang putri, namun lyra justru menghentakkan kakinya kesal dan meninggalkan papinya disana sendirian tanpa sepatah katapun.


"Apa maunya gadis itu?" heran papi pada putrinya sendiri.


Lyra melewati setiap ruangan yang ada untuk kembali keruangannya sendiri. Ia menyesal telah begitu rajin menengok mall hingga menemukan pemandangan menyakitkan saat itu. Tapi, ia juga jengah untuk selalu di rumah dan selalu bertemu dengan laras yang pasti menyakitkan hatinya.


"Kenapa mereka semua!" geram lyra yang sampai menggebrak meja. Salsa yang tadinya didepan pintu lantas terlonjak kaget hingga pintu itu terbuka dan lyra melihatnya disana.


"Ada apa? Kau mau menjelaskan apa?" tanya lyra, hingga akhirnya laras benar-benar masuk dan menghadapnya saat itu juga.


"Nona, saya berani bersumpah jika saya tak melakukan apapun pada Tuan. Bahkan tadi, tadi memang saya yang menawarkan bantuan ketika melihat tuan sibuk. Kebetulan lewat dan_"


"Aku tahu kau, Salsa. Tapi, aku tak percaya pak tua itu saat ini. Apapun yang dia lakukan, apalagi ketika melihat wanita muda ada dihadapannya." Lyra justru mengatau papinya sendiri saat ini. Meski salsa sendiri menjelaskan jika papi seno bahkan sama sekali tak meliriknya selama mereka berdua didalam rungan itu.


" Pulang, dan istirahatlah. Aku pun ingin pulang ke Aprtemen, hanya karena aku malas melihat laras dan pak tua itu disana." Bahkan lyra begitu rindu dengan vian dan ingin bermalam bersama disana malam ini.


Lyra lantas menghubungi vian yang saat itu tengah berbincang dengan om dipta mengenai semua rencana mereka.


" Ada beberapa orang lagi, Cakra, Bonar, dan Lando. Mereka satu tim dengan ayahmu dalam pembuatan mall itu, yang mana mereka sempat menentang pembebasan lahan. Tapi yang om dengar, mereka justru membelot dari ayahmu hanya karena uang yang seno janjikan jika berhasil membuat lahan itu dikuasainya." Om dipta menjelaskan semua perkara yang ada, dan saat itu vian begitu fokus mendengar dan mencerna semuanya.


Bahkan hp vian ditinggal di kamar, dan saat itu lyra beberapa kali menghubungi agar vian segera kembali dan menuju apartemen jika urusannya selesai. Lyra akan menunggu disana untuk menghabiskan malam indah mereka berdua.


"Loh, hp kak vian ditinggal?" tanya maya yang kebetulan masuk ke kamar itu, dan saat itu merupakan godaan terbesar maya untuk mencari tahu siapa kekasih vian yang sebenarnya.


Akankah maya nekat dan melakukan itu semua? Dan, bagaimana jika maya mengetahui lyra sebagai kekasih vian saat ini yang tak lain adalah majikannya sendiri?