My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Ingin hamil anakmu



Malam ini lyra dan vian masih kembali ke apartement mereka. Lyra terus membujuk vian agar tak tergesa-gesa membawanya pulang kesana karena masih ingin menghabiskan moment berdua bersama kekasihnya dengan bebas tanpa adanya pengawasan dan kekangan dari siapapun.


"Ayolah, Vian.... Mereka saja baru datang siang, besok pagi kita pulang kesana. Aku mohon," rengek lyra padanya.


"Baiklah, tapi malam ini kau harus janji untuk tak menggodaku. Bagaimana?"


"Adakah syarat yang lebih manusiawi?" tatap lyra kesal. Tapi ia harus menuruti vian kali ini, lagipula tubuhnya benar-benar sudah lelah dan ingin lekas istirahat malam ini. Asal vian masih mendekapnya hangat dalam tidur hingg esok hari ketika terbangun.


Vian mengajak lyra mampir sebentar disebuah taman dan duduk disana menikmati pemandangan malam yang indah. Malam juga belum terlalu larut, hingga masih cukup ramai disana dengan anak-anak yang bermain bersama teman ataupun orang tuanya. Tatapan vian tertuju kepada mereka, tampak begitu senang menatap mereka semua yang ceria dan bebas bermain disana.


"Kau suka anak-anak?" tanya lyra padanya.


"Hah? Ah, iya, Nona. Mereka tampak bahagia dan bisa membuat semua orang tersenyum ketika melihatnya.


Lyra yang mendengar itu lantas terenyuh, kemudian menopangkan dagunya ke bahu vian dengan begitu mesra. "Aku mau hamil anakmu," celetuk lyra, membuat vian seketika tersedak dengan air minum yang baru saja mendarat dimulutnya.


Vian terbatuk sampai mengeluarkan airmata mendengar semua ucapan sang nona padanya. spontanitasnya memang sudah tak diragukan lagi, kadang membuat orang yang tak terbiasa lantas membekap mulutnya sendiri saat itu.


"Hey, kau bicara apa? Jangan main-main, Lyra."


"Kenapa? Aku serius ketika bilang jika aku siap untuk mengandung anakmu. Toh, kita sudah_"


"Hey! Aaahh, kau ini." Vian lantas membekap mulut lyra dengan semua ucapan frontal yang terus ia ucapkan dari mulut mungilnya itu. Padahal disana ramai, tapi lyra sama sekali tak bisa menjaga ucapannya dan melihat situasi dimana mereka berada.


"Hey, aku hanya berusaha jujur." Lyra segera melepas bekapan tangan vian dari bibirnya.


"Iya jujur, tapi lihat situasi. Kau ini," balas vian yang terus saja menengok kanan kiri dari tempat yang ia duduki saat ini.


Lyra hanya mencebik. Baginya vian terlalu kaku dan susah dajak bercanda, meski bercandaannya sendiri sering kali membuat orang yang mendengarnya emosi. Kemudian meraih ice cream yang sejak tadi ada dikantong kresek dan mulai menyantapnya sebelum cair, dan begitu semangat karena vian yang memberikan itu padanya ketika dalam perjalanan menuju taman tadi.


Mereka menikmati cemilannya masing-masing. Meski begitu sederhana dan ia belum pernah duduk ditempat sembarangan selama hidupnya, tapi lyra tampak bahagia karena vian yang selalu ada. Ia berusaha tersenyum dan menerima dengan semua yang vian berikan padanya meski itu tak seberapa. Rasanya lyra ingin menaikkan gaji vian serratus kali lipat agar pria itu bahagia dan bisa mentraktirnya belanja ditempat mewah.


Lyra tampak begitu menikmati ice creamnya. Menjilat, melumaat bahkan kadang memasukkan ice cream besar keseluruh mulut mungilnya. Hal itu lantas membuat vian yang memperhatikan meremang dan merasakan ngilu dan nyeri dibawah sana. Ia menelan saliva kuat hingga jakunnya turun naik, menggenggam botol minum ditangannya itu hingga uratnya tampak tergambar jelas disana.


"Aaah!! HAisssh!!" Vian menyiram wajahnya sendiri demi menepis bayangan kotor yang ada dalam kepalanya saat ini. Rasanya ada sesuatu yang menyengatnya dibawah sana, dan begitu nyeri jika ia tahan tanpa pelampiasan.


"Kenapa?" tatap bodoh lyra padanya hingga menelengkan kepala. Ia melihat celana vian basah karena tumpahan air minum dan spontan ingin membantu membersihkannya.


Vian lantas menggenggam tangan lyra dan menariknya untuk pergi dari sana, tak perduli dengan semua makanan yang mereka tinggalkan. Hingga mereka tiba dimobil, segera memaksa lyra masuk dan duduk diam ditempatnya, vian lantas ikut dan duduk dikursi setir dengan segera.


"Kamu kenapa?" tanya lyra yang begitu penasaran dengan perubahan sikap vian padanya. Aneh, gugup, dan bahkan tampak sedikit pucat. Lyra tak pernah melihat vian seperti itu selama mereka bersama.


"Tak apa, aku lelah dan kita harus pulang."


"Ya tiggal bilang, kenapa harus seperti ini. mencurigakan," gerutu lyra yang masih belum selesai juga dengan ice cream ditangannya. Vian berusaha kuat agar tak menoleh dan membuatnya semakin sakit dibawah sana, hingga rasanya begitu menyiksa.


"Padahal hanya karena sebuah ice crem. Apa karena aku sudah begitu terbiasa dengan mulut dan lidahnya? Gila!!" rutuk vian dalam hati yang tengah menjaha bir*hinya sendiri. Vian menyetir dengan begitu cepat hingga akhirnya tiba di apartement mereka, membawa lyra langsung naik untuk beristirahat bersama.


"Kamu mau kemana?" tanya lyra ketika vian melangkah keluar meninggalkannya.


"Tidur diluar,"


"No! Kau harus tidur disini bersamaku, ini perintah!" tegas lyra padanya.


Tapi vian tak bergeming, ia terus berjalan meninggalkan lyra dengan lingerie diatas ranjangnya. Tak perduli lyra emosi dan melemparkan begitu banyak bantal dengan sekuat tenaga ketubuh besarnya saat itu juga.


"Vian jahat! Vian... Brengsek! Aku benci vian!" Lyra terus meravcau dan memaki, tanpa tahu betapa berat yang vian rasakan saat ini.


Sementara itu diluar kamar lyra, ketika vian sudah membentang bantalnya. Papi lyra kembali menghubungi untuk mempertanyakan keadaan sang putri dan keberadaan mereka saat ini.


"Bagaimana kalian masih tidur di apartemen? Disana bahkan kamarnya hanya ada satu."


"Maaf, Tuan... Saya tidur di sofa saat ini, sementara nona tidur dikamarnya. Bila perlu akan saya_"


"Tidak... baiklah jika seperti itu, terimakasih karena masih bertahan menjaganya hingga saat ini. Kan ku beri bonus tambahan untukmu nanti dalam jumlah yang besar." Ucap papi pada jasa supir pribadi putrinya itu. Vian menolak tapi, mengatakan karena itu semua memang sudah menjadi tugasnya selama ini. Terlebih lagi, semua bonus dari lyra sudah ia terima melebih apapun di dunia yang begitu berharga untuknya.


"Tak perlu sungkan, Vian. Kau sudah mampu menjaganya selama ini saja Sudah merupakan sebuah keajaiban untuk lyra, dan kau pantas mendapatkan semuanya." Papi lyra terus memaksa, hingga mau tak mau vian akan menerimanya.


Vian lantas membaringkan tubuh ketika semua rasa sakitnya itu mereda. Ia menaruh kepalanya diatas bantal agar semakin nyaman, dan berusaha memejamkan matanya berharap pagi segera datang menghampiri tanpa adanya gangguan lagi.


Tapi apa yang terjadi. Lyra ternyata saat itu menjatuhkan dirinya diatas tubuh vian dengan tubuh menelungkup dan dada besarnya menghimpit dada vian saat itu. Vian hanya bisa menarik napas panjang, meraih selimut kemudian menutup tubuh mereka berdua yang masih bertumpuk disana. entah bagaimana cara mengambarkan perasaan vian dengan kenyataan yang menimpa.