
Senin pagi sebelum jam 7 Alara sudah berada di sekolahan, sengaja datang pagi untuk menyiapkan upacara dan memang senin ini juga jadwal dirinya menjadi pembina upacara. Senin memanglah menjadi hari yang sibuk untuk kalangan pekerja. Andaikan boleh meminta, rasanya ingin hari minggu itu ada 36 jam atau lebih. Jelas mustahil.
Tepat jam 7 pagi, upacara di mulai. Alara melihat pemimpin upacara hari ini adalah Andre. lelaki yang tengah beranjak dewasa itu begitu bersemangat karena pembina upacara kali ini adalah wanita spesialnya. Konyol memang.
Hanun tertawa kecil sambil mencolek sahabatnya. "Hari ini kalian jodoh."
"Sembarangan," ucap Alara lirih. Saat itu dirinya masih dalam satu barisan dengan guru yang lain. Hanun dan Azura ikut tertawa lirih.
Upacara hari ini Alara memberikan arahan pada anak didiknya yang tengah beranjak dewasa ini untuk selalu disiplin, giat belajar demi masa depan yang lebih baik. Mengisi kegiatan yang positif karena masa remaja memang biasanya memiliki pola pikir yang senang mencoba. Alara berharap semoga anak didiknya ingin mencoba pada hal-hal yang baik.
Selesai upacara, seluruh peserta menuju kelasnya masing-masing. Tapi tidak dengan Andre, ia menghampiri Alara lalu modus salim alias cium tangan guru kesayangan.
"Minum Miss." Andre memberikan sebotol air mineral pada Alara.
Alara menerimanya, "Makasih."
"Diminum, kan habis kepanasan, pasti haus."
Alara melirik Andre, padahal muridnya itu begitu perhatian dan baik padanya, tapi rasanya tetap aneh jika sampai saling mencintai.
"Iya nanti di kantor guru, Miss mau ke kantor dulu yah, siapin bahan ajar." Alara bergegas ke kantor, sementara Andre masih terdiam di tempat, menunggu pujaan hati tak terlihat lagi.
Sesampainya di kantor, Hanun memberikan air mineral pada Alara, tapi melihat sahabatnya sudah memegang botol air, ia tidak jadi memberikannya.
"Kan di sini ada, kenapa beli di kantin sih," ucap Hanun.
"Ini dari penggemar setia," ucap Alara terkekeh. Andaikan saja penggemar-penggemarnya itu direktur utama, atau duda kaya raya, minimal sugar daddy deh, dirinya pasti akan senang tiada terkira. Sayangnya yang menyatakan cinta padanya selalu mereka-mereka yang masih meminta uang orangtua.
"Aku mau ke kelas duluan ya." Azura ternyata ada jam mengajar setelah upacara, sedangkan Alara dan Hanun nanti setelah istirahat pertama baru mengajar.
"Semangat mak Zura."
"Kemarin gimana pas MC?" tanya Hanun pada Alara. Saat itu Alara sedikit tersendak saat Hanun menanyakan hal itu.
"Kenapa? pelan-pelan minumnya, Ra."
Alara sekilas teringat wajah Adam yang tampan rupawan namun sedikit menjengkelkan.
"Apa ketemu bos-bos ganteng di sana Ra?"
Alara menghela nafas, "Ketemu kuntilanak." Selain teringat Adam, Alara juga teringat saat dirinya bertemu dengan Donita. Si pengganggu rumah tangga orangtuanya itu.
"Hih, masa sih? kok serem? masa hotel ada kuntilanaknya, serius?"
Alara terkekeh, senang sekali jika meledek Hanun yang memang penakut itu.
"Iya, aku jambak itu kuntilanak, gemas soalnya."
"Ih merinding nih, Ra." Hanun mengusap lengannya.
Alara tertawa lirih, "Donita Hanun, mirip kuntilanak juga dia, bahkan lebih menyeramkan."
Hanun lega, "Oh dia."
"Eh, dia kondangan? sama ayah kamu?"
Alara menggeleng, "Dia mau chek in sama bule."
"Hah?"