
Selesai membayar tagihan, Alara dan Hanun keluar dari cafe, di susul Adam tentunya. Lelaki itu mencegah Alara agar jangan pulang dulu karena dirinya ingin membayar tagihan kopi tadi.
"Saya ambil ponsel dulu sebentar, mohon tunggu, Ra." Adam berlari menuju mobilnya. Honda Civic berwarna hitam.
Hanun langsung menyenggol lengan Alara, "Itu Adam yang kamu ceritain Ra?"
Alara mengangguk. Hanun tercengang, ternyata seganteng dan sekeren itu. Tapi herannya sahabatnya kenapa tampak biasa saja, apakah Adam kurang kaya raya?
"Ganteng, Ra. Gebet Ra."
"Hus, kayanya udah punya istri yang model begitu mah, kasihan istri dan anaknya yang menunggu di rumah, type aku selain kaya raya, tapi harus single juga, Nun. Kalau rebut suami orang, nggak ada bedanya aku sama kuntilanak Donita."
"Ah sok tahu, coba ntar aku tanyain."
Alara menepuk lengan Hanun, "Jangan, udah ah."
"Ra_" Adam menghampiri Alara.
"Minta nomer rekening kamu," pinta Adam pada Alara.
"Nggak usah Pak, ikhlas kok, cuma segitu."
"Nggak ah, harusnya malah saya yang bayarin kamu."
"Masa sih?" Alara mengerutkan dahinya, pasalnya baju kemeja saja harus dicuci dirinya segala.
"Kok masa sih?" Adam bingung.
"Nggak Pak, udah beneran nggak usah."
"Saya juga nggak mau kalau cewek yang bayar, tolong dong Ra, harga diri nih." Adam terus saja memaksa, karena selama ini dirinya tidak pernah mau dibayari oleh wanita. Prinsip hidupnya lelaki adalah 'giver.'
"Heh malah panjang lebar, mau sampai 2050 ini begini." Hanun mengeluarkan ponselnya lalu memberikan nomer rekening Alara pada Adam. Keduanya memang kerap saling bantu dalam hal keuangan, sehingga keduanya menyimpang nomer rekening satu sama lain.
"Hanun_" Alara menepuk lengan Hanun.
"Ih bentar lagi magrib, aku dah dicariin ibu nanti, kalian mau sampai subuh debat gini."
Alara segera mengecek mutasi rekening di ponselnya, ia tercengang ketika Adam memberikan uang kopi sepuluh kali lipat.
"Pak Adam, ini kebanyakan, nol nya kelebihan satu, saya balikin yah."
"Nggak usah, itu buat sekalian bayar laundry yang kemarin saya titip ke kamu."
"Tapi masih kebanyakan."
"Ih, biarin Ra, dia kaya tujuh turunan," ledek Hanun. Adam terkekeh.
"Kamu sih." Alara mendelik pada Hanun.
"Eh sekalian kamu minta tolong gih," bisik Hanun pada Alara. Minta tolong perihal menjadi saksi perselingkuhan Donita dan Edward. Alara tersenyum tipis saat mendengar bisikan Hanun.
"Mau pulang sekarang? apa masih banyak kegiatan?" tanya Adam pada kedua wanita yang ada di depannya.
"Pulang Pak, sudah magrib, nanti bisa di gebuk sama emak, anak gadis belum pulang jam segini," jawab Alara diselingi dengan candaan.
"Bapak juga pastinya mau langsung pulang kan? takut di marahi istri karena telat pulang?" Hanun ingin tahu, apakah Adam sudah berkeluarga atau belum dengan menggunakan pertanyaan yang memancing.
Adam terkekeh, "Bisa aja kamu, emang ada istri yang begitu?"
"Ya banyak lah, kalau telat pulang pasti cemberut," ucap Hanun. Dengan jawaban Adam seperti itu, dirinya merasa jika lelaki itu memang sudah berkeluarga.
Adam tertawa lirih, "Ya sudah kalian pulang, saya juga pulang deh. Kalian pakai kendaraan nggak?"
"Iya pakai Pak, pakai motor sendiri-sendiri kok," jawab Alara. Adam lalu pamit pulang lebih dulu, sebelum itu ia mengucapkan hati-hati saat pulang pada Alara dan Hanun.
Seperginya Adam, Hanun menghela nafas, entahlah hatinya tiba-tiba kecewa, karena Alara belum berkesempatan menemukan kandidat calon suami.
"Sepertinya Adam itu emang udah punya istri Ra, buktinya tadi nggak menyangkal kalau udah punya anak istri," ucap Hanun.
"Ya siapa juga yang berharap, orang kaya pak Adam nggak mungkin jomlo lah, yang suka juga banyak, setidaknya misal nggak punya istri, pasti punya tunangan, kalau engga ya gebetan, pacar, ah bahkan banyak mungkin," kata Alara, ia lalu mengajak Hanun bergegas pulang ke rumah karena sebentar lagi sudah berkumandang adzan Magrib. Keduanya lalu melajukan sepeda motornya menuju rumah masing-masing.