
Pagi ini Alara sudah berada di rumah Andre untuk memberikan les tambahan yang sudah di sepakati sebelumnya. Seharusnya hari minggu adalah hari yang bisa di gunakan Alara untuk bersantai, tapi karena ini perintah langsung dari paman Andre yang menjabat sebagai ketua yayasan akhirnya Alara menyetujui karena tidak enak hati.
Tumben sekali rumah Andre kali ini tampak sepi, biasanya lelaki remaja itu sudah menunggunya di gazebo depan, tapi hari ini tidak terlihat batang hidungnya.
"Miss Alara_" Yunita ibu Andre menghampiri Alara.
"Maaf ya miss, sepertinya hari ini Andre nggak les dulu, dari semalam demam, maaf juga yah lupa memberi kabar, soalnya kepikiran Andre, apalagi dia kalau sakit manja banget."
"Ah iya bu tidak apa-apa, semoga Andre cepat sembuh yah. Boleh tidak bu saya jenguk Andre?"
"Boleh sekali miss, tadi dia juga sempat pesan kalau miss Alara datang katanya suruh antar ke kamarnya, mau ngobrol sebentar." Yunita lalu mengantarkan Alara menuju kamar Andre.
Alara dan Yunita masuk ke dalam kamar Andre. Alara melihat kemegahan di dalam kamar Andre, ruang tamunya saja megah apalagi kamarnya. Desain kamar tidur Andre di sangat menampilkan kesan maskulin. Menggunakan warna cat netral abu-abu, cokelat, hitam. Meja belajar minimalis, dan lukisan abstrak.
"Miss_" Suara Andre begitu lirih.
Alara menghampiri muridnya itu, lalu menanyakan kondisi Andre saat ini. Sementara Yunita meninggalkan keduanya, mengambilkan minuman untuk Alara.
"Semenjak melihat miss, rasanya jadi semakin membaik," jawab Andre sambil tersenyum. Kali ini Alara ikut tersenyum, ternyata melihat Andre sakit rasanya tidak tega juga.
"Kenapa bisa sampai sakit?"
"Iya kemarin hujan-hujanan Miss, maaf yah lupa ngasih kabar, semalam setelah diperiksa dokter, saya langsung istirahat."
"Iya nggak apa-apa, semoga cepat sembuh yah, besok senin kalau masih sakit izin aja dulu."
Andre mengangguk.
"Saya pamit dulu ya Ndre, kamu lanjutkan istirahatnya." Alara beranjak dari tempat duduk, melihat Andre yang masih lemas rasanya kasihan juga.
"Miss, ini nanti akan jadi kamar kita, kalau miss Alara nggak suka warna gelap, saya rela kok di cat warna pink atau warna cerah lainnya." Andre terkekeh lirih.
Alara langsung melengos, buru-buru keluar dari kamar Andre, sepertinya selain diobati dokter, Andre juga perlu di rukiyah karena bicaranya sudah ngelantur. Alara berpapasan dengan Yunita yang tengah membawa minuman.
"Lhoo, sudah miss ngobrol sama Andre nya?"
"Ke ruang tamu dulu yuk, ini sudah dibuatkan minum lhoo."
Alara mengangguk, ia menuju ruang tamu dengan Yunita. Sesampainya di ruang tamu ternyata di depan pintu sudah ada Ana yang tengah mengucapkan salam sedari tadi.
"Eh jeng Ana, masuk sini juga," ucap Yunita. Ana yang melihat di rumah Yunita ada Alara begitu antusias masuk ke dalam rumah.
"Eh ada miss Alara juga rupanya." Senyum Ana mengembang. Alara segera mencium tangan Ana dengan sopan.
"Iya ini, biasa Andre hari ini les, eh malah dia sakit, jadi ya nggak jadi deh. Oh ya maaf juga yah, nggak bisa bantu buat resep kue baru. Andre kalau sakit manja, nggak bisa ditinggal," ucap Yunita. Dirinya dan Ana kemarin sudah sepakat akan membuat kue dengan resep baru, tapi ternyata ada halang melintang.
"Oh ya ampun, semoga Andre cepat sembuh yah, ya sudah nggak apa-apa, nanti aku antar saja kue nya ke sini, icip-icip."
"Ibu, tante, saya pamit pulang dulu yah." Alara pamit pulang pada kedua wanita yang ada di depannya.
"Ya sudah, aku juga pamit juga nih Yun." Ana juga ikut pamit.
Alara dan Ana keluar bersama, namun saat di depan pintu gerbang rumah Andre, Ana mengajak Alara ke rumahnya untuk mampir dan mencoba membuat kue dengan resep baru.
"Ikut yuk Miss, please. Bikin kue bareng bunda, biar lihat rumah bunda ih, bunda nggak ada yang bantu nih." Ana begitu memohon pada Alara agar mau menginjakan kaki di rumahnya.
"Tapi Bun_" Alara malu dan merasa tidak pantas bergaul dengan kalangan atas.
"His, udah ayo, nggak usah malu, anak dan suami bunda nggak ada, ada sibuk semua minggu ini. Bunda sendirian, sepi banget rumah." Ana langsung saja menggandeng tangan Alara menuju rumahnya.
Rumah bunda Ana sama besarnya dengan rumah Andre, kawasan elit pasti berdiri rumah-rumah elit pula.
"Mau lewat depan apa belakang?"
"Belakang aja tante."
"Oke biar langsung ke dapur yah." Ana begitu sumringah bisa mengajak Alara ke rumahnya sebelum Adam membawanya. Putranya itu memang lelet.
☘️Bersambung☘️