
"Besok ke KUA yuk, Ra."
Alara terbahak, lelaki di depannya ini sungguh pandai membanyol, mengajar ke KUA serasa mengajak ngopi di cafe.
"Kok ketawa sih, serius."
"Mana bisa, yang antri aja udah banyak, masa kita asal datang ijab kabul, mana boleh."
"Demi Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso mampu mendirikan candi dalam satu malam, demi cintaku padamu, aku mampu urus pernikahan kita dalam semalam."
Alara kembali tergelak, ternyata Adam mampu menggombal seperti itu. Apa mungkin saja sudah terbiasa seperti itu dengan wanita lain, seketika itu juga dirinya langsung terdiam, memasang wajah jutek.
"Kenapa? kok ilang tertawanya? renyah banget lhoo tadi, kaya rempeyek lebaran."
"Kok bisa gombal? udah biasa yah begitu?"
Adam mengernyitkan dahi, "Nggak lah, cuma sama kamu."
"Yang bener? apa masih ada laki-laki di dunia ini yang tulus mencintai?"
"Tuh kan mikirnya gitu lagi, ya jelas ada, bunda sama ayah, awet cintanya sampai sekarang, dan aku akan banyak belajar dari mereka, sudah yah jangan berprasangka aneh-aneh lagi."
Alara mengangguk, ia akan mencoba mempercayai Adam, semoga saja apa yang dikatakan lelaki itu benar adanya.
"Adam_"
Alara dan Adam menengok ke arah sumber suara. Wanita muda tengah memanggil Adam sambil menggendong seorang balita perempuan.
"Yasmin." Adam balik menyapa.
"Eh bener Adam, apa kabar? ih kok kelihatan beda sih." Yasmin menghampiri Adam lalu duduk di samping lelaki yang dulu pernah satu kampus dengannya, bahkan satu kelas waktu itu.
"Alhamdulillah baik, kamu apa kabar? ini anak kamu yah? lucu banget." Adam menjawab dengan ramah, dulu sempat ada debar di dada saat berada di dekat Yasmin, tapi tidak untuk saat ini.
"Baik juga, iya ini anak aku, namanya Juwita. Eh ini siapa? teman kerja? atau?"
"Teman main aja mba," ucap Alara, ia mengulurkan tangannya pada Yasmin, keduanya berjabat tangan dan saling berkenalan.
"Oh teman, enak yah kalau masih single, masih bisa bebas ke cafe, bisa tongkrong tanpa beban," ucap Yasmin. Ia merasakan selama menikah, yang lebih ia prioritaskan adalah keluarga kecilnya, apalagi setelah memiliki anak, mau tidak mau, kemanapun pergi harus membaaa Juwita bersamanya.
"Kalau sudah menikah bukannya lebih enak lagi, biasa tongkrong bareng suami dan anak, kayanya seru," ujar Alara, walaupun dirinya belum pernah merasakan, tapi dulu saat ayah dan ibunya masih baik-baik saja, ia sering di ajak belanja bersama, makan bersama di luar.
"Aku udah bercerai, Dam." Mata Yasmin berkaca-kaca mengingat perceraian yang menimpanya karena suaminya berselingkuh, apalagi kini dirinya sudah memiliki anak, rasanya semakin berat, namun anaklah penyemangat untuk melanjutkan hari-hari kedepan.
"Maaf yah. Kamu mau beli apa? nanti biar sekalian tagihannya bareng aku aja." Adam mengalihkan pembicaraan tentang privasi Yasmin.
"Nggak apa-apa Dam, aku yang bodoh, seharusnya dulu aku terima yah cinta kamu, kamu sekarang udah beda banget waktu zaman kuliah dulu, culun." Yasmin tertawa kecil, namun tidak dengan Alara yang memasang muka masam setelah mengetahui jika Adam pernah menyukai single mom satu ini.
Adam menyadari ketidaksukaan Alara, ada saja ujian cinta yang sedang ia perjuangkan ini, tiba-tiba bertemu dengan masa lalu, di depan Alara lagi.
"Kamu mau beli apa?" Adam kembali mengalihkan pembicaraan.
"Ah iya mau beli es kopi sama kue-kue di sini buat cemilan," jawab Yasmin, dirinya padahal ingin memberi kesempatan lagi pada Adam, tapi lelaki itu sepertinya tidak enak hati dengan Alara, malu mungkin saja, karena status dirinya sudah single mom.
"Nanti satukan saja dengan pesanan aku."
"Makasih banyak ya Dam."
Adam mengangguk, sebelum negara api semakin berkobar, Adam pamit pulang pada Yasmin, begitu juga dengan Alara.
Keduanya bergegas menuju parkiran, muka Alara masih ditekuk, namun hal itu membuat Adam gemas dan senang, cemburu Alara berarti tanda cinta. Ada untungnya juga bertemu dengan Yasmin hari ini.
"Mas antar saja yah. motor kamu nanti biar orang suruhan mas yang antar ke rumah kami."
"Nggak."
Adam mengusap kepalanya. Perempuan kalau sudah marah memang sulit di bujuk.
"Ayo mas antar aja."
"Nggak."
Tanpa meminta persetujuan Alara, Adam langsung menggandeng Alara dengan paksa, lalu memasukannya ke dalam mobil.
"Mas Adam, maksa banget sih."
"Iya sayang, udah nurut aja yah." Adam masuk ke dalam mobil, tapi sebelum melaju, ia mengambil ponselnya. Mentransfer sejumlah uang untuk Alara agar tidak marah berkepanjangan. Bukankah wanita akan mudah reda emosinya jika di beri uang?
"Mas ini apa?"
Adam malah nyengir bagai kuda.