Ms. Alara

Ms. Alara
Cafe



"Mau pesen apa?" tanya Hanun sambil membaca selembaran daftar menu. 


"Es kopi, kentang goreng, burger, ih ada es cream juga tuh, mau Nun. Terus apalagi yah, ah ini salad buah boleh lah," jawab Alara. Seketika itu juga langsung mendapat tatapan tajam dari Hanun.


"Kenapa?"


"Laper? pesen banyak banget."


"Pusing aku tuh, aku kalau pusing gini, banyak makan."


Hanun tertawa, "Biasanya kalau pusing itu males makan, merenung, ngelamun, galau, ini malah makan sebakul."


"Dih, aku mah sayang sama badan, sayang lambung juga."


Hanun mengangguk-angguk, lalu mencatat pesanannya juga pesanan Alara. Sambil menunggu pesanan datang, Hanun menanyakan perihal Andre.


"Jadi les privat itu bocah?" 


Alara mengangguk, "Haduh bahkan udah dibayar, Nun. Kemarin Pak Agung WhatsApp pribadi, minta nomor rekening."


Hanun malah tertawa, "Dikerjain sama bocah ini mah."


"Ya begitulah, orang kaya mah bebas."


"Itu namanya terobsesi si Andre, nanti lama-lama kamu beneran jadi menantu pak Agung."


"His, jangan gitu dong ah, masa aku sama bocil sih. Ah sudah jangan bahas itu. Ini bagaimana ini cara ngomong ke Alula?" Saat ini pikiran Alara hanya tertuju pada adiknya. Ia tidak ingin nasib pernikahan adiknya sama seperti kedua orangtuanya.


"Minta aja cctv hotel yang kemarin, terus minta tolong cowok itu yang kemarin."


"Aku ke kantornya lagi berarti? Ah susah ketemu dia mah, orang penting, harus ada janji dulu, gimana mau buat janji coba. Di kartu nama, tertera nomor perusahaan, bukan nomor ponsel dia."


"Dia ganteng nggak?" 


Alara mengernyitkan dahi, "Kok tanya di luar pembahasan."


"Ya aku penasaran." Hanun terkekeh.


"Dekil dari Hongkong, cantik mantuliti begini, kalau dekil nggak mungkin Andre dan berbondong-bondong lainnya naksir."


"Heits, sudah. Jangan bahas bocah itu lagi. Aku mau makan dulu." Pesanan sudah datang, Alara bingung mau lebih dulu makan apa karena banyak yang ia pesan.


"Bingung kan? kalap sih,"ledek Hanun. Ia hanya memesan jus dan nasi goreng.


"Tenang, semua pasti di makan."


"Eh, ibu sehat kan? lama nih nggak main."


"Alhamdulillah sehat, malah makin cantik, kelihatan awet muda, ya mungkin rahasia awet muda itu nggak punya suami kali ya Nun, banyak contohnya, Wulan Guritno, Shopia Latjuba, cantik seksoy semua. Ibu juga begitu sekarang, dulu sebelum bercerai, haduh lusuh, sakit lahir batin," jawab Alara. Hal itu juga yang mendasari kenapa dirinya belum juga menikah sampai saat ini. Mencari calon suami harus teliti, salah pilih, bisa menderita seumur hidup.


Hanun terkekeh, "Bisa aja, Markonah."


"Ya kenyataannya begitu." Alara terus saja melahap makanannya tanpa jeda. Perutnya kecil, tapi mampu menampung banyak makanan. Apalagi jika sudah mengingat tentang perceraian orangtuanya, rasanya meja kursi juga ingin ia lahap.


Selesai makan dan mengobrol panjang lebar tentunya, keduanya bergegas menuju kasir yang kala itu sedang melayani beberapa pengunjung yang akan membayar.


Alara melihat laki-laki yang berdiri persis di depan kasir seperti sedang kebingungan mencari sesuatu. 


"Mbak, dompet saya kayanya ketinggalan, apa jatuh ya, hape saya juga di mobil, saya ambil dulu boleh?" ucap lelaki itu. Alara mendengarnya, mbak kasir memperlihatkan ekspresi tidak suka.


"Berapa tagihannya mas ini mbak?" ucap Alara. Hanya cafe biasa, tagihan lelaki yang datang seorang diri pasti tidaklah banyak.


"Alara _" 


"Eh, Pak Adam _"  Alara terkejut ketika lelaki yang ada di depannya berputar badan.


"Nggak usah, Ra. Saya ambil ponsel saja di mobil, itu cuma di depan kok."


"Nggak apa-apa, sekalian aja pak Adam, cuma ngopi doang kan paling." Alara langsung maju ke kasir, berdiri di sebelah Adam, lalu membayar.


Hanun melongo, berucap dalam hati, apa ini yang dimaksud pak Adam yang Alara ceritakan?