Ms. Alara

Ms. Alara
Bertengkar



"Siapa?"


Alara lalu melirik Edward, "Dia." Ia menunjuk lelaki itu dengan berani.


"Apaan sih kamu, Mbak. Nggak usah ngada-ngada deh." Alula menyingkirkan tangan kakaknya yang sedang menunjuk ke arah calon suaminya.


"Aku nggak ngada-ngada, memang dia yang bersama Donita malam itu di hotel, ngaku kamu." Alara melotot ke arah Edward.


"Hah aku? salah lihat kali," ucap Edward menyangkal.


Alara naik pitam, ia menggebrak meja lalu memaksa Edward agar berani mengakui perbuatannya dan segera meninggalkan adiknya.


Edward mengerutkan dahi, ia hanya diam. Tidak mungkin mengaku karena selama ini Alula adalah sumber uang nya selama di Indonesia. Jika tidak ada Alula, mungkin saat ini dirinya akan terlunta-lunta. Bermodalkan wajah tampan, Edward sudah bisa menggaet wanita cantik dan royal seperti Alula.


"Mbak, jangan kurang ajar yah." Alula juga tersulut emosi, tidak suka jika calon suaminya yang sudah rela pindah agama demi menikah dengannya malah dibentak.


"Kamu diam saja Alula, aku mau dengar pengakuan dari mulutnya," ucap Alara. Matanya masih menatap tajam ke arah Edward.


"Sayang, apa benar apa yang dikatakan kakakku?" Alula mencoba menanyakannya sendiri pada calon suaminya.


"Tidak tahu, aku tidak seperti itu. Aku cuma cinta kamu, Sayang," jawab Edward dengan santainya.


"Bohong kamu, tidak mau mengaku, jangan percaya dia La, aku lihat sendiri dia dengan Donita malam itu, tolong jangan teruskan pernikahan ini, aku tidak setuju." Alara memohon pada adiknya, dirinya benar-benar tidak ingin jika adiknya bernasib sama dengan ibunya.


"Kamu jangan fitnah yah." Edward kini menunjukan wajah marahnya ketika mendengar Alara menyuruh untuk membatalkan pernikahan Alula dengan dirinya.


"Kamu yang bohong." Alara tak kalah menunjukan sikap garangnya. Pengunjung lain mulai melihat ke arahnya. Ia sudah tidak perduli dengan reputasi, mungkin saat ini orang-orang menganggapnya sedang berebut lelaki.


"Cukup, aku baru kenal kamu tadi, kamu gila ya tuduh aku selingkuh." Edward terus saja membela diri.


"Kamu yang gila, kencan sana sini tidak tahu malu, sana pulang ke negara asalmu, jangan cari mangsa di sini."


"Kamu harus percaya sama aku, buat apa aku cape-cape kesini. Lihat seragam ini masih nempel di badan, tapi demi kamu, aku mau nunjukin semuanya biar kamu berpikir ulang mengenai pernikahan ini." Alara masih tetap dengan pendiriannya yaitu meyakinkan Alula bahwa Edward bukanlah laki-laki yang tepat.


"Cukup mbak. Kamu pasti iri kan, aku yang menikah duluan. Tega kamu mbak." Alula berkaca-kaca.


"Astaga, bukan begitu Alula. Tentang jodoh ada yang sudah dipertemukan, ada yang masih mencari, ada yang masih menanti. Semua memiliki waktunya masing-masing. Aku nggak iri sama sekali."


"Sudahlah mbak, lebih baik aku pulang. Oh ya, nanti jangan datang ke pernikahanku, pasti mbak cuma akan mengacaukannya." Alula beranjak dari tempat duduk sambil mengajak Edward, lebih baik memang pulang saja karena tidak ingin memperpanjang pembahasan tentang perselingkuhan Edward yang dikatakan kakaknya.


"Kamu nggak percaya sama, Mbak?" Alara mencoba mencekal lengan Alula, namun adiknya menepis dengan kasar.


"Nggak mbak, kamu cuma iri." Alula menggandeng Edward, berlalu meninggalkan Alara, sedangkan Edward tampak tersenyum sinis pada Alara.


Alara tidak tinggal diam, ia mengejar Alula juga Edward. Setelah dekat dirinya menarik baju Edward dengan kasar.


"Tukang selingkuh, ngaku kamu." Kemarahan Alara begitu menggebu.


Edward yang tubuhnya lebih besar dan lebih kuat dari Alara langsung saja melepaskan tangan Alara dari bajunya lalu mendorongnya dengan kuat.


Aaaaahhh


Alara merasakan tubuhnya melayang, tapi seketika itu juga ditangkap oleh seseorang. Akhirnya terjatuh bersama, mirip sekali dengan adegan film India.


Aduh


Alara melirik sekilas ke belakang.


Dia lagi.