Ms. Alara

Ms. Alara
TAMAT



"Saya terima nikah dan kawinnya Alara binti Rudi dengan mas kawin seperangkat perhiasan di bayar tunai," ucap Adam dengan lantang. Saksi serempak mengucapkan sah. Begitu juga dengan penghulu, suasana mengharu biru, akhirnya Adam dan Alara sah menjadi suami istri.


Masih terngiang di telinga Alara pagi tadi saat suaminya mengucapkan ijab kabul. Saat ini dirinya dan suami tengah berdiri di pelaminan menjadi raja dan ratu sehari. Adam sudah menyiapkan resepsi di hotel mewah, dirinya ingin memberikan yang terbaik dalam momen sekali seumur hidup untuk istrinya.


Alara juga cukup senang karena Rudi, ayahnya akhirnya mau menjadi wali nikahnya. Sedangkan Alula tidak hadir di pernikahan ini karena masih menyimpan kemarahan dengan kakaknya.


Mirna juga turut bahagia akhirnya putri tercinta mendapatkan jodoh impiannya. Alara memang berhak menjadi Cinderella. Hatinya yang baik, sifatnya yang penyabar walaupun diberi segudang masalah dan ujian.


Tamu undangan malam ini cukup ramai, salah satunya ada Andre juga tentunya karena Ana dan Yunita adalah tetangga akrab. Andre ikut datang juga untuk memastikan jika pernikahan miss tercinta dengan tetangganya berjalan dengan baik. Jika tidak ya tidak jadi masalah, dirinya siap menggantikan. Angannya seperti sinetron yang tidak jadi kawin lalu ada pengganti dadakan. Oh Andre.


"Jaga miss Alara dengan baik, andai aku seumuran denganmu, pasti dia lebih memilihku, kalau sampai menyakiti, akan aku rebut sekuat jiwa raga," ucap Andre ketika memberi selamat pada Adam dan Alara. Adam tidak marah, ia justru terkekeh dan mengangguk. Sudah pasti dirinya akan menjaga istrinya dengan baik.


"Suatu saat kamu pasti bisa dapatkan yang lebih baik, sekolah dulu yang rajin yah," ucap Alara. Andre hanya bisa mengangguk dengan hati pilu. Beginilah cinta, harus siap terluka.


Andre turun dari pelaminan dengan gamang, loyo dan rungkad. Usai sudah perjuangannya sampai di sini, besok sudah tidak bisa merayu lagi.


Selain Andre, guru-guru juga datang turut memberi selamat, Renata juga ikut serta, memandang gemerlap ruang resepsi dengan hati bergemuruh. Alara yang sering ia perlakukan tidak baik kini bak Cinderella.


Selebihnya dan yang terbanyak adalah tamu dari keluarga Adam. Mirna tidak mengundang sesiapa, karena sejak dirinya bercerai, semua teman menjauh, begitu juga dengan Alara yang hanya mengundang teman sejawat di tempat kerja.


Acara resepsi berjalan dengan lancar, sebelum istirahat memasuki kamar hotelnya masing-masing, Mirna menemui Adam terlebih dulu, ada banyak hal yang ingin ia sampaikan pada menantunya itu.


Mirna menatap serius menantunya. "Aku hanyalah seorang ibu yang berbicara atas nama diriku sendiri dengan melihat putriku sebagai istrimu dan kamu sebagai menantuku. Dam, kamu sudah berjanji akan menjadi imam dunia akhirat untuk Alara, kamu juga telah bersumpah untuk membawanya hingga ke baka dan memberinya satu tiket ke surga. Bila ada kelemahan dari istrimu dan seribu lagi keburukan yang dilakukannya akibat kelemahan dan juga karena kekurangan darinya, bukankah menjadi tugasmu untuk mendidiknya sekarang, begitu yang seharusnya. Seorang suami tak boleh membiarkan mata istrinya basah walau hanya serupa tetesan embun dini hari. bukankah kamu sebagai suaminya yang harus melindunginya dengan rasa tentram dan aman. maka berikanlah keteduhan bagi jiwanya. Kamu suami yang dipilih Tuhan untuk putriku, bersabarlah terhadap istrimu dan tetaplah bersikap lemah lembut padanya. Kamu menikahinya atas nama Tuhanmu, maka sayangi dan peliharalah istrimu dengan jalan Tuhan. Sebagian besar penghuni neraka adalah perempuan dan itu disebabkan mereka durhaka terhadap suaminya, maka selamatkanlah istrimu dari dosa yang lebih besar, karena nanti pun kamu akan ditanya tentang tanggung jawab bagaimana mengurus mereka." Mirna menyeka air matanya, begitu juga dengan Alara, meneteskan air mata juga ketika mendengar pesan ibunya untuk sang suami.


Mirna tidak ingin Alara senasib dengannya, cukup dirinya saja yang merasakan kepedihan pernah memiliki suami yang tidak baik.


Adam meyakinkan pada mertuanya jika dirinya berjanji akan menjaga Alara sepenuh hati. Jika berani menyakiti, dirinya akan berhadapan juga dengan bundanya yang begitu mencintai Alara.


Selesai mengobrol, Mirna begitu lega melepas Alara karena putrinya sudah mendapatkan orang yang tepat. Mereka lalu bergegas menuju kamar masing-masing karena sudah larut malam.


Alara begitu takjub ketika melihat hiasan kamar pengantinnya. Elegan, wangi dan indah sekali. Adam memeluk wanitanya dengan gemas.


"Terimakasih ya mas, kamu sudah mencintaiku selama ini tanpa peduli dengan keadaanku. Senang, sedih, gundah, dan banyak masalah pun Kamu selalu ada. Aku tahu itu karena Kamu mencintaiku tanpa syarat. Terimakasih untuk hal itu. Tidak ada yang lebih berharga selain keberadaanmu.” Alara memutar tubuhnya, lalu tersenyum bahagia, kini mereka saling berhadapan.


"Sama-sama Sayang. Sungguh karunia Tuhan yang teramat indah tentang kehadiranmu yang tidak aku duga sebelumnya. Terima kasih, berkat dirimu aku sekarang tahu arti mencintai dan dicintai yang sesungguhnya." Adam tak kalah memberi ucapan manis juga untuk istrinya. Alara lalu memeluk Adam dengan erat.


Hari ini rasanya bagaikan mimpi di negeri dongeng. Ternyata tidak semua hidup itu penderitaan, juga tidak semua hidup itu kebahagiaan. Badai pasti berlalu, kata yang tidak asing lagi di telinga, ibarat semua masalah akan berlalu begitu saja jika dihadapi dan tidak selalu menghindar. Menghadapi suatu persoalan adalah keharusan yang mau tidak mau, suka tidak suka harus diselesaikan masalah tersebut.


Dibalik luka terdapat nikmat bahagia yang akan muncul. Seperti analogi setelah hujan pasti ada pelangi yang indah. Sama seperti bahagia yang akan hadir setelah luka. Walaupun menghadapi rasa luka sangat berat dan sangat menguras tenaga dan pikiran. Anggap saja luka ini sebagai bentuk motivasi manusia untuk menjadi pribadi yang kuat. Alara kini sudah bahagia setelah mendapatkan luka bertubi-tubi dalam kehidupannya.


~TAMAT~