
"Kamu mau nggak sama anak bunda?" Ana melirik Alara yang ternyata juga tengah melihatnya.
Alara menelan salivanya, tahun ini sepertinya keberuntungan dalam hidup di borong olehnya, diminta menjadi istri dari seorang Adam si ganteng dan kaya raya, saat ini, ditawarkan juga menjadi menantu dari konglomerat yang baik pula.
"Kenapa? sudah punya pacar? apa sedang menunggu seseorang?" Bunda penasaran kenapa Alara tak kunjung menjawab.
"Sedang mempertimbangkan seseorang, Bun. Alara suka sama orang itu, tapi ada perjalanan hidup ini yang membuat saya trauma dengan percintaan, jadi saya mau melihat seperti apa usaha laki-laki itu meyakinkan bahwa dia tak sama dengan ayah ataupun laki-laki jahat yang selama ini banyak ditemui," jawab Alara lugas. Ia tidak ingin bimbang, karena pilihannya fokus pada Adam.
"Oh begitu, yah sayang sekali, bunda telat dong. Eh tapi jodoh itu kan rahasia ilahi yah, siapa tahu ternyata tiba-tiba, lelaki itu anak bunda." Ana terkekeh, berharap yang diceritakan Alara adalah Adam anaknya. Alara hanya tersenyum manis.
Alara dan bunda Ana kembali fokus menghias dessert. Ponsel Alara berdering, ada notifikasi pesan masuk, ia langsung merogoh ponselnya yang ia letakkan di kantong celana. Ada pesan dari Adam.
^^^Siang Ra, udah selesai belum ngajar les nya? mau nggak aku jemput, nanti kita pergi jalan-jalan hari minggu, beli es cream yuk.^^^
Alara tersenyum lalu langsung membalasnya.
^^^Siang juga mas, hari ini aku jadi ngajar les karena murid aku sakit. Tidak perlu dijemput, kita ketemuan saja di kafe cemara yah.^^^
"Bun, saya boleh nggak bawa dessert ini 2, satu mau saya kasih ke ibu, satunya lagi buat teman lelaki yang sedang dekat ini." Alara memberanikan diri meminta pada bunda dengan jujur.
"Boleh sekali, ambil semau kamu berapa aja boleh kok. Makasih ya sudah menemani bunda, nanti kapan-kapan bunda hubungi kamu yah, kita buat cake yang lainnya."
Alara tersenyum senang, bunda Ana baik sekali, sayang sekali padahal kalau dilewatkan jika menolak menjadi menantunya, karena mendapatkan mertua baik adalah rejeki yang tiada terkira, idaman semua wanita-wanita single seluruh dunia, yaitu memiliki mertua baik hati.
Selesai menghias dessert cake, Alara pamit pulang pada bunda Ana. Ana membawakan beberapa kue dan tentunya dessert yang ia buat tadi.
"Hati-hati yah Ra, nanti bunda hubungi kamu."
Alara mengangguk tersenyum, ia memilih untuk lewat pintu belakang lagi, bunda mengantarkan hingga ke halaman rumah, di sana terparkir motor Alara yang biasa ia gunakan.
Sesampainya di cafe Cemara, ternyata Adam sudah sampai lebih dulu, ia bahkan sudah memesan beberapa makanan, tidak sedikit tentunya, entahlah hobi sekali membuat Alara menjadi berisi.
Alara duduk di depan Adam, menyunggingkan senyum lalu meletakan tasnya.
"Mau pesan apa?" tanya Adam memberikan buku menu pada Alara.
"Sudah banyak ini lhoo mas, suruh pesen lagi, nanti aku gendutan."
"Ya nggak apa-apa, jangan sampai pingsan lagi karena nggak makan lhoo." Adam selalu saja teringat kejadian sore itu, tidak tega sekali melihat Alara lemas tak berdaya.
"Mas ini." Alara menuruti permintaan Adam dengan memilih satu menu makanan. Satu saja, di meja pesanan mas Adam juga banyak, gampang nanti icip-icip saja.
"Nggak jadi les tadi, terus kemana?"
"Ke rumah tetangganya Andre, ibu-ibu."
Adam mengerutkan dahi, tidak paham dengan perkataan Alara.
"Maksudnya?"
Alara lalu menceritakan pertemuannya dengan bunda Ana. Adam sempat terkejut dengan nama Ana karena sama persis dengan nama ibunya, tapi ya nama Ana bukanlah hanya nama ibunya saja, banyak di luar sana yang memiliki nama itu.
"Ibu itu saja baru bertemu beberapa kali langsung nyaman, apalagi mas," ucap Adam sedikit menggombal.
"Nggak hanya nyaman mas, bunda Ana juga menawarkan aku jadi menantunya." Alara sengaja bercerita demikian untuk meledek Adam, benar saja lelaki itu langsung melotot.
"Besok ke KUA yuk, Ra."