Ms. Alara

Ms. Alara
Kamu Lagi



"Haduh, mampus, mati, apes," ucap Alara dalam hati. Ia berinisiatif untuk mengeluarkan jurus amnesia sesaat. Harapannya juga semoga lelaki yang ada di hadapannya sudah melupakan kejadian tadi di dekat toilet.


Setelah tenang, Alara bernafas dalam-dalam, actingnya akan segera di mulai. 


"Makasih banyak ya Mas, udah nolongin aku." Alara mencoba menatap lelaki itu. Ia lalu memejamkan mata sesaat.


"Haduh kenapa ganteng sih, kan jadi pengen naksir, tapi kesan pertama aja udah kacau balau," ucap Alara dalam hati. Lelaki di depannya berkulit bersih, berpenampilan rapi, outfit yang dikenakan jelas semua branded, tidak ada yang murah, tidak sebanding dengan dirinya yang ah sudah lah tidak perlu dijabarkan, di dapur masih ada beras saja rasanya sudah beruntung.


"Sama-sama, lain kali kamu harus hati-hati, jangan sembarangan bertengkar seperti itu, takutnya dia melaporkan ke polisi, kamu bisa di penjara."


Nasehat lelaki itu memang benar, tapi dirinya rela di penjara demi keluarganya, apalagi demi ibunya.


"Jika penjara adalah tempat terbaik untuk membalas sakit hati ibu, aku pasti akan melakukannya," ucap Alara matanya nanar melihat ke arah lelaki itu.


"Luka di hati kamu sepertinya sangat dalam."


Alara segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. 


"Mana teman kamu tadi yang bareng MC?"


"Udah pulang." Ah yah, Alara hampir saja lupa waktu, ia langsung melihat jam dinding yang terpajang di lobby. Ia buru-buru beranjak dari tempat duduknya. Tidak lupa dirinya mengucapkan terimakasih pada lelaki yang menolongnya.


"Mau kemana?"


"Pulang."


"Dalam keadaan seperti itu? rambut kamu? baju kamu? kamu bawa kendaraan?"


Alara seketika langsung melihat dirinya di pantulan kaca lobby. Oh My God, rambutnya acak-acakan bekas jambakan. Ada beberapa cakaran juga di tangannya. Ia segera merapikan rambutnya dengan tangan, bekas cakarannya biarlah nanti di obati di rumah saja.


"Apa nggak bahaya? udah jam 12 malam. Kenapa nggak nginep aja dulu."


Alara melirik lelaki itu, ingin sekali berprasangka buruk, tapi tampangnya tidak mendukung jika dikatakan sebagai penjahat.


"Besok masih harus kerja." Alara sudah tidak ingin meladeni lelaki itu. Ia ingin secepatnya pulang, namun baru saja kakinya melangkah, lelaki itu membuatnya berhenti melangkah.


"Baju aku bagaimana ini? noda lipstik, bekas air mata dan ingusnya, bagaimana?"


Alara balik badan, "Astaga, laundry aja sih, nanti aku yang bayar deh, sini mana nomer rekening mas nya, biar aku transfer nanti tagihan laundry nya."


"Enak aja laundry, cuci dong pakai tangan kamu, harus bertanggung jawab." Lelaki itu membuka jas dan kemejanya.


Alara melongo, "Eh, di lobby main buka-buka aja." Tapi ternyata lelaki itu mengenakan kaos pendek di dalam kemejanya.


"Ini baju-baju aku, kamu cuci yang bersih, terus ini kartu nama aku, kalau sudah bersih, antar ke alamat kantor ini."


Alara menerima baju dan kartu nama lelaki itu.


Adam Erlangga, Direktur Utama. 


Alara menelan salivanya, melirik Adam yang masih berdiri di depannya. Masih muda, namun sudah menjadi direktur utama. Pasti ada campur tangan orang tua alias pewaris perusahaan. Eits, dilarang julid melilid. Orangtua bekerja keras dari muda pasti karena ingin anaknya tidak kesusahan di kemudian hari. Orangtua bekerja keras jelas untuk keturunannya, memangnya untuk siapa lagi. Itulah cita-cita Alara ingin menjadi istri orang kaya, agar anaknya tidak kesusahan seperti dirinya. Walaupun menikah dengan orang kaya adalah jalur tercepat untuk menjadi kaya, tapi tidak masalah bukan? Namanya juga cita-cita.


"Secepatnya aku akan mencuci dan mengembalikannya ke kantor, MAS ADAM." Alara mengucapkan nama lelaki itu dengan penuh penekanan. Entahlah, cita-citanya ingin menikah dengan orang kaya, namun sudah dipertemukan malah justru tidak ramah.


Adam tersenyum, Alara balik badan lalu bergegas keluar dari lobby hotel, menunggu taksi online pesanannya datang.