
Alara melirik sekilas ke belakang.
Dia lagi.
Tapi sejenak ia lupakan karena ingin menghajar lelaki yang telah meracuni otak adiknya dengan omong kosongnya itu. Apalagi sudah mendorongnya hingga terjerembab.
"Awas." Alara menyingkirkan tangan kekar Adam. Iya, yang menolongnya adalah Adam, entahlah ini sudah yang keberapa kalinya bertemu secara kebetulan dengan lelaki itu.
Alara bangkit, lalu berlari mengejar Edward, ia langsung menendang lutut Edward hingga calon suami adiknya itu terjatuh. Alula terkejut dengan sikap arogan kakaknya, ia segera melayangkan tamparan ke pipi Alara.
Plak
Alara terpaku sambil memegangi pipinya. Sakit, sakit sekali, tapi bukan pipinya, melainkan hatinya. Adiknya yang dulu selalu bersama dalam suka maupun duka kini berani melukainya.
Alula segera menolong Edward. Melihat Alara lengah, Edward kembali mendorong bahu Alara hingga wanita itu kembali terjatuh.
Melihat Alara diperlakukan kasar, Adam bergegas menolong Alara. Sementara Edward dan Alula pergi begitu saja tanpa permintaan maaf.
Alara masih memegangi pipinya, hatinya sungguh terluka. Sorot matanya menatap dua sejoli yang tengah dimabuk asmara pergi meninggalkan restoran.
"Kamu nggak apa-apa, Ra?" tanya Adam, ia khawatir melihat wanita yang kini duduk di lantai bersamanya melotot sambil memegangi pipinya yang mulai memerah.
Bulir air mata jatuh begitu saja membanjiri pipi Alara, ia akhirnya menangis sesenggukan sambil tetap melihat ke arah pintu keluar restoran.
Hiks
Alara patah hati lagi, kali ini yang mematahkan adalah adiknya sendiri. Padahal ia menganggap keluarga adalah segalanya.
Sesekali Alara mengusap air matanya, namun semakin diusap justru semakin menyedihkan. Ia masih dalam posisi duduk, ingin rasanya memeluk sesuatu agar sedikit tenang. Dirinya yang sudah terlanjur reflek ingin memelukmu Adam segera Alara urungkan. Air matanya malah semakin deras.
Melihat Alara yang ingin memeluknya tapi tidak jadi, akhirnya Adam yang berinisiatif mendekap wanita itu dalam pelukannya.
"Kenapa ujian hidupku berat sekali," ucap Alara dalam dekapan Adam. Hati Adam ikut terenyuh, semur hidup baru kali ini melihat wanita menangis karena sebegitu terlukanya.
"Karena Tuhan percaya kamu mampu." Adam mengusap punggung Alara. Untung saja sore ini tidak terlalu banyak pengunjung, hanya ada segelintir yang menonton dirinya juga Alara.
"Aku cape dengan kehidupan ini." Alara masih menangis sesenggukan.
"Sudah siap pulang ke akhirat memangnya?" Adam menanggapi Alara dengan candaan walaupun wanita itu tengah menangis.
Alara menengadah, ia sudah tidak malu lagi dengan kondisi wajahnya yang penuh dengan air mata dan ingus tentunya.
"Aduh." Adam mengaduh karena dadanya di cubit Alara.
"Sembarangan," ucap Alara. Ia segera melepaskan pelukannya.
"Udah peluknya? sudah lega memangnya?" tanya Adam, ia kembali merapikan kemejanya yang lecek dan basah terkena air mata dan ingus.
"Bau," ceplos Alara. Adam langsung mencium lengannya serta kemejanya.
"Nggak ah, bau apa memangnya?"
"Bau duit," ucap Alara, ia segera menyeka sisa air mata di pipinya.
Adam tergelak, ia lalu mengambil sesuatu yang ada di dalam kantongnya.
"Tau aja kalau bau duit." Adam mengeluarkan dompet tipis yang berisi kartu kartu Atm yang memang ia siapkan takut terlupa lagi seperti kejadian di cafe.
"Kalau soal duit perempuan ada alarmnya." Alara mencoba untuk berdiri lalu menepuk membersihkan bajunya yang terkena debu lantai.
"Segitunya? kenapa segitunya?" Adam juga ikut berdiri.
"Ya walaupun uang bukanlah sumber kebahagiaan, kalau sedikit."
"Emang gitu?"
"Ih gitu gitu terus, tanya aja sana sama istri kamu."
Adam mengerutkan dahi, ia nampak bingung. "Istri yang mana?"