
Sesampainya di rumah Alara, Adam memapah wanita itu dengan hati-hati. Mirna yang melihat langsung tergopoh-gopoh menghampiri putrinya.
"Kenapa kamu Ra." Mirna mengambil alih memapah Alara.
"Makasih ya nak Adam." Adam mengangguk pelan. Mereka lalu duduk di sofa.
"Aku nggak apa-apa kok Bu, cuma tadi telat makan aja," ucap Alara menenangkan ibunya yang terlihat begitu panik. Tentu saja panik, saat ini yang menemani ibu hanya dirinya, yang lain sudah menjauh dan tak peduli.
"Kan ibu selalu pesan, jangan telat makan, jangan terlalu ngirit, jangan di forsir juga tenaga mu, Nak." Mata Mirna berkaca-kaca, takut terjadi apa-apa dengan putrinya.
"Iya maaf Bu."
"Nak Adam, tolong nanti selalu ingatkan Alara biar makannya nggak telat yah. Ibu kerja, nggak boleh main hape soalnya," pesan Mirna pada lelaki yang ia yakini naksir dengan putrinya. Sudah kedua kalinya mengantar pulang, tidak mungkin jika tidak ada perasaan apapun.
"Baik Bu." Dengan senang hati dirinya akan menjalankan tugas dari bu Mirna. Padahal Adam juga cukup sibuk, tapi entahlah kenapa mau saja.
"Mas, aku istirahat dulu yah, maaf yah nggak bisa menemani kamu ngobrol."
"Ah iya Ra, aku juga mau pulang. Jaga kesehatan yah." Adam pamit pulang.
Di perjalanan saat mobilnya berhenti karena ada lampu merah, Adam menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada Alara.
^^^Ra, ini nomer mas Adam. Simpan yah.^^^
Adam lalu melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya. Sampai di rumah, dirinya mengecek ponsel, belum juga ada jawaban dari gadis itu. Baru kali ini ada wanita yang tidak cepat merespon dirinya padahal sudah tahu jelas profilnya.
"Jam segini baru pulang? kemana aja?" Bunda Ana melipat kedua tangannya. Putranya tengah sibuk berjalan masuk ke dalam rumah sambil menunduk melihat ke layar ponsel.
Adam menengadah. "Kerja Bun, kemana lagi memangnya?"
"Kerja kan pulang sore jam 4, ini udah jam berapa? hayo ngaku habis ngedate yah. Ih bunda senang tahu, kamu ternyata normal, suka sama wanita."
Adam menghela nafas, "Normal Bun, bunda nih kenapa sih kepikiran jelek begitu."
Bunda menepuk lengan Adam. "Ya karena sekarang itu sudah zaman edan, banyak laki-laki yang begitu. Kamu juga mencurigakan, sudah 29 tahun tapi belum ada tanda-tanda kenalin calon istri ke Bunda."
"Ya kan cari istri bukan kaya cari cendol Bun, harus hati-hati. Masa depan anak-anak itu di tentukan dari pertama kali laki-laki cari calon istri. Harus pintar, cerdas, sopan santun, nggak asal Bun." Ada saja alasan Adam jika didesak mengenai jodoh.
"Iya, tapi kamu lama banget dapetnya, kamu carinya dimana sih, sampai lama banget." Bunda juga tak mau kalah jika berdebat masalah calon percalonan.
"Kan Adam sibuk kerja."
"Ya sudah, bunda kasih kamu cuti setahun buat cari istri yah, tenang aja bunda gaji kamu seperti biasanya, asalkan dapat istri." Bunda terkekeh, merasa ide nya begitu berlian.
"Kabur nanti ceweknya kalau tanya pekerjaan aku apa? pengangguran gitu?"
"Tenang aja Bun. Berdoa aja semoga nanti ulang tahun ke 30, Adam dapat jodoh. Sekarang Adam lagi nyicil belajar ilmunya dulu, ilmu rumah tangga, siap financial dan mental, biar nggak nyusahin anak orang nantinya." Manusia yang telah dewasa dan sehat akalnya menginginkan hidup bahagia, cukup sandang dan pangan, rumah bagus, rukun dalam rumah tangga dan rukun dengan tetangga dan dicintai oleh masyarakat dimana pun berada. Keinginan Adam sangatlah baik, namun untuk mencapai keinginan tersebut tidak bisa hanya dengan angan-angan saja, melainkan membutuhkan ilmu yang diikuti dengan pengamalannya.
"Bunda setiap hari mendoakan kamu, tinggal kamu nya yang mau berusaha atau tidak untuk urusan jodoh. Dicari Adam, kamu nggak akan menemukannya di laci kantor."
"Iya bun iya, udah siap kok, tinggal cari, syukur-syukur ada yang nyantol. Udah ya Bun, Adam mau ke kamar dulu, mau mandi." Adam bergegas menuju kamarnya untuk melepas penat.
Setelah mandi dan bersantai, Adam menatap layar ponselnya. Ia menghela nafas, pesan untuk Alara sudah centang biru, artinya sudah terbaca, tapi tidak ada balasan. Sungguh terlalu gadis itu. Menurut Adam ini terlalu menggemaskan, karena tidak ada balasan dirinya berinisiatif menelfon Alara saat itu juga.
Iya Mas ada apa?
Adam mengerutkan dahi saat panggilan telfon sudah diterima oleh Alara, bingung, gadis itu malah bertanya ada apa? padahal sudah jelas pesannya tidak di balas.
Kok pesannya nggak di balas?
^^^Emang harus di balas ya Mas? kan itu cuma kalimat pemberitahuan, aku tinggal save.^^^
Adam menepuk jidat, Alara menyebalkan atau menggemaskan sih ini.
Kamu lagi ngapain?
^^^Rebahan, masih pusing.^^^
Besok mau ke sekolah?
^^^Iya, hari ini seharian aku udah nggak ngajar, mana boleh besok izin. Kasihan juga anak-anak.^^^
Kamu nggak kasihan sama diri kamu sendiri memangnya?
^^^Nanti kalau sudah ketemu mereka pasti sembuh kok.^^^
Besok mas antar yah? kan motor kamu masih di restoran.
^^^Katanya mau dianterin.^^^
Iya tadi kelupaan telfon orang kantor buat ambil. Nggak apa-apa besok mas antar, sekalian pengen tau sekolahan bu guru.
^^^Nggak usah repot-repot deh Mas, besok ojek online aja.^^^
Jangan, nggak boleh.
^^^Hah? kenapa?^^^
Adam memejamkan mata, bingung akan menjawab apa. Dalam bayangannya jika Alara menggunakan ojek online, takutnya dapat driver bujangan ganteng. Eh tapi kenapa jika memang demikian? Hatinya masih menerka-nerka.