
"Selamat datang di istana saya, Miss," ucap Andre. Kedua tangannya direntangkan lebar, seperti menyambut permaisuri. Rumah yang Andre huni memanglah bak istana, Alara saja sampai ternganga melihat kemewahannya. Muridnya yang Absurd tinggal di komplek perumahan elit, berpenghuni kan manusia-manusia berduit pastinya.
"Istana bapak ibu mu Ndre," ucap Alara menegaskan pada muridnya.
"Ini nanti juga jadi milik saya, Miss. Akan di wariskan ke saya, memangnya mau ke siapa lagi?"
"Hus, orangtua masih hidup sudah gembar gembor warisan," ucap Alara mengingatkan. Walaupun yang dikatakan Andre memang benar. Kemapanan orangtua memanglah untuk anaknya dikemudian hari. Maka dari itu Alara juga berharap bisa memiliki suami mapan agar kelak anaknya tidak sesusah dirinya. Tidak ada seorang ibu satupun yang ingin anaknya kesusahan bukan?
"Iya miss maaf, ayo masuk ke dalam. Anggap saja rumah sendiri. Nanti kita akan tinggal di rumah ini kalau sudah menikah, jadi santai aja Miss."
"Saya akan menikah nanti, tapi bukan sama kamu Andre, masa depan kamu masih panjang, manfaat sebaik-baiknya," ucap Alara tegas. Remaja tanggung yang ada di depannya memiliki percaya diri yang begitu tinggi dalam mencintainya.
"Oke oke, jodoh itu nggak akan kemana kok, doa saya selalu kenceng Miss, semoga kita nanti bertemu di pelaminan." Andre terkekeh, membayangkan begitu bahagia dirinya jika bisa mendapatkan guru cantik tercinta.
"Iya, tapi sebagai tamu," ceplos Alara. Andre menelan salivanya. Nasib di tolak terus.
"Udah ah, saya ambil buku sama tempat pulpen dulu ya Miss, kita mau belajar di mana?" Andre mengalihkan pembicaraan mengenai jodoh perjodohan, semakin dikejar, miss Alara semakin jauh. Ah jadi kaya judul lagu.
"Di depan ada gazebo, ada taman nya lagi, seger banget kayanya. Di sana mau? nggak apa-apa yah."
Andre mengangguk, ia bergegas menuju kamarnya untuk mengambil buku dan alat tulis, sedangkan Alara keluar lagi menuju gazebo.
Rumah Andre pagi ini cukup sepi, tadi Alara sempat bertemu dengan Yunita, ibu Andre. Wanita itu tengah terburu-buru pergi katanya ada janji dengan teman. Alara mengerti, sepertinya pertemuan antara geng sosialita manjalita kalangan elit berduit.
Andre menuju gazebo, tidak berapa lama kemudian munculah asisten rumah tangganya membawakan minuman dan cemilan.
"Les kita cuma 1 jam, kenapa banyak banget makanan Andre."
"Ya emang 1 jam Miss, tapi ngobrolnya nanti sampai sore kan?"
Alara mengerutkan dahi, "Mana ada begitu, saya sibuk, kan kamu tahu sendiri."
"Ya sudah ayo mulai lesnya Miss." Andre kembali mengalihkan pembicaraan. Pikirnya jika miss Alara terus diajak mengobrol pastilah akan nyaman dengan sendirinya lalu enggan pulang.
Alara mulai memberikan materi yang ia yakin sebenarnya Andre sudah paham dan mengerti, tapi dasar bocah tengil itu saja yang memintanya untuk memberi jam tambahan karena begitu besarnya rasa cinta terhadapnya.
"Aduh." Andre tersadar dari lamunan indahnya. Entahlah, cintanya semakin hari semakin besar, miss Alara cantik mungil dan menggemaskan, memakai seragam SMA saja masih sangat pantas, yang di sesalkan kenapa tidak seumuran dengan dirinya.
"Nih kerjain soalnya." Alara memberikan lembar soal untuk Andre yang sudah ia persiapkan dari rumah.
"Siap Miss." Andre menerimanya dengan penuh semangat lalu mengerjakannya. Alara mengambil minuman yang dihidangkan tadi sambil terus mengawasi Andre.
"Yun, Yunita_"
Andre yang mendengar nama ibunya di sebut menengok ke arah sumber suara.
"Eh tante Ana. Ibu pergi Tan."
Ana menghampiri Andre. Ia melihat Andre sedang belajar.
"Lagi belajar kelompok?"
"Nggak tante lagi les, ini guru Andre."
"Eh tante kira teman kamu. Masih muda banget."
Alara menghampiri Ana lalu mencium tangan wanita setengah baya itu dengan lembut.
"Cobain deh resep baru bolu nastarnya Tante, Yunita nggak ada, jadi kamu aja yang cobain yah. Tante ganggu kalian sebentar yah, maaf yah." Ana langsung saja menyuapi Alara menggunakan sendok.
"Enak nggak?"
"Enak Tante," ucap Alara jujur. Rasanya memang enak, baru kali ini juga Alara makan bolu nastar. Langsung dari tangan kolongmerat lagi, semoga saja ketularan rejekinya seperti wanita di depannya itu yang nampak masih ayu.
"Ih, makasih banyak yah. Nanti tante bawain buat kamu deh. Oh ya, bu guru namanya siapa?"
"Alara Tante."
"A_lara?"