Ms. Alara

Ms. Alara
Ke rumah bunda lagi



Sepulang dari rumah Ayahnya, Alara mampir lebih dulu ke cafe untuk menenangkan pikiran. Rasanya semakin hari ada saja cobaan yang harus ia cobain. Ah rasanya sudah tak tergambar lagi, terkadang orang tersayang yang paling sengsara, entahlah mengapa. Saat ini Alara hanya berusaha sabar, tidak semua hal bisa ia selesaikan sendiri. Untuk hal-hal di luar jangkauan, dirinya harus belajar sabar dan merelakannya.


Es kopi dan nasi goreng sudah ada di atas mejanya, menu yang tidak sinkron, tapi tadi ia sarapan sedikit sekali, menghadapi keluarga yang toxic begitu menguras energi sehingga perut langsung lapar kembali. Kopi untuk relaksasi pikiran, nasi goreng untuk menenangkan perut.


"Aku bisa sabar menghadapi kebodohan tapi tidak tahan dengan orang bodoh yang membanggakan kebodohannya. Gimana sih caranya biar Alula dan ayah sadar," ucap Alara lirih, gemas dengan keluarganya yang sedang dimanfaatkan orang lain. Mulutnya masih mengunyah nasi goreng yang menurutnya enak, walaupun hatinya sedang tidak enak.


"Ra, Alara."


Alara menengok ke arah sumber suara yang memanggil dan menepuk pundaknya. Ternyata Bunda Ana, untung saja bukan tukang hipnotis seperti berita di TV dan media sosial.


"Bun_"


"Udah duduk aja, liat kamu kaya lagi lapar banget, lanjutkan aja makannya." Ana duduk di sebelah Alara.


"Iya nih bun, tadi belum sarapan di rumah, pagi tadi belum terasa lapar." Alara lalu melanjutkan menghabiskan nasi gorengnya.


"Bunda pesan kopi dulu yah." Ana bergegas menuju outlet pemesanan kopi.


Selesai mendapatkan pesanannya, Ana kembali menghampiri Alara.


"Sudah Bun?"


"Iya, ini mau di minum di rumah sama kue yang bunda bikin. Kamu nggak ngajar Ra, pagi-pagi udah ada di cafe, sendirian lagi?"


"Izin bun, tadi ada urusan penting yang nggak bisa ditunda."


"Sekarang udah selesai? mau langsung pulang?"


"Belum mau pulang Bun, mau santai dulu di sini," jawab Alara. Rasanya ingin merefresh pikiran dulu, tidak ingin terburu-buru pulang.


"Ke rumah bunda aja yuk Ra, nemenin bunda, kebetulan anak sama suami bunda sibuk kerja, ada kue yang baru aja mateng, nggak asik rasanya kalau makan sendirian." Ana tersenyum berusaha membujuk Alara. Ia berharap gadis cantik itu mau berkunjung lagi ke rumahnya. Dirinya benar-benar ngiler ingin punya mantu.


"Haduh, aku ngrepotin bunda terus nanti, aku nggak pernah ngasih apa-apa ke bunda, nggak enak rasanya." Alara bingung, antara tidak enak hati, tapi dirinya juga saat ini butuh menghibur diri namun tidak ingin sendiri.


"Eh nggak boleh ngomong gitu lhoo, bunda sayang sama kamu, nggak kepikiran begitu Ra, jangan aneh-aneh yah ngomongnya."


"Nanti motornya di bawa orang bunda."


"Nggak usah bun, biar Alara ke tempat bunda pakai motor aja. Bunda pakai mobil."


"Oh oke deh." Bagi Ana yang terpenting Alara mau di ajak ke rumahnya lagi.


Keduanya lalu bergegas meninggalkan cafe. Alara mengendarai motornya, sedangkan Ana menggunakan mobil.


Alara dan Ana sampai bersamaan karena memang Alara melajukan motornya di belakang mobil bunda Ana. Alara masih saja takjub dengan kemewahan rumah yang akan ia masuki.


"Yuk_" Ana menggandeng Alara masuk ke dalam rumah.


Baru saja selangkah masuk ke rumah megah itu, Alara langsung menelan saliva nya, mendadak tenggorokannya terasa kering. Matanya sedikit melotot, bukan karena melihat kemewahan yang ada di dalamnya, melainkan melihat figura foto begitu besar, terpampang wajah Adam begitu tampan di sana, bersebelahan dengan wajah bunda Ana.


"Masuk ayok, kenapa malah diem?"


"Ah iya bun." Alara segera tersadar dari lamunannya, tapi dirinya sadar, sulit dijelaskan memang.


Bunda mengajak Alara ke ruang makan dekat dapur. Alara masih terkejut dengan apa yang ia lihat, seperti mimpi. Pikirannya begitu banyak pertanyaan. Apa ini memang rumah Adam? apa bunda Ana orangtua Adam? Ah ya tentu saja. Jika bukan untuk apa terpampang jelas di figura.


"Nih tadi bunda bikin ini, marmer cake." Bunda perlahan memotong marmer cake yang tampilannya saja begitu menggoda selera.


"Cobain." Kue potongan pertama bunda Ana berikan untuk Alara.


"Makasih ya Bun." Alara menerimanya dengan senang hati.


"Bunda_"


"Bunda_"


Alara langsung menengok kanan kiri, ia paham sekali itu suara siapa yang memanggil bunda Ana.