
"Ayo cepat Mas lajukan mobilnya," pinta Alara pada Adam ketika keduanya sudah berada di mobil. Adam tampak bingung dengan tingkah Alara, apalagi gadis itu melihat ke arah spion terus.
"Kenapa?"
"Ayo cepat Mas."
Adam segera melajukan mobilnya, tampak dari spion remaja lelaki tengah mengejar mobilnya.
"Siapa itu Ra? murid kamu itu, apa kita berhenti dulu?"
"Nggak, ayo lebih kencang lagi."
Adam mengernyitkan dahi, kenapa guru melarikan diri dari muridnya begitu.
"Kenapa dia memangnya?" Adam begitu ingin tahu kenapa Alara bersikap seperti itu pada muridnya.
"Murid bar bar." Alara mengatur napasnya. Kucing-kucingan dengan Andre saat tidak sengaja dirinya melihat muridnya itu sedang berjalan di depan ruang OSIS. Alara yang hendak pulang jadi terburu-buru menghindarinya, karena jika tidak, remaja tanggung itu akan mengikutinya, ingin tahu Adam juga. Ah ribet sekali.
"Maksudnya?"
"Naksir berlebihan," jawab Alara ketus.
Adam tertawa kecil, lucu rasanya membayangkan Alara menghindari muridnya. Ia yang menolong, seperti sedang membawa kabur pacar orang.
"Kok ketawa?"
"Nih minum dulu, cape yah habis lari." Adam memberikan sebotol air mineral, Alara menerimanya dan langsung meminumnya. Lelah seharian mengajar, pulang mengajar di kejar-kejar.
"Makasih ya, nasib banget jadi guru SMA masih single, padahal umur udah tua, tapi pada nggak percaya, pada ngirim surat cinta, haduh remaja sekarang. Itu tadi yang ngejar sampai mengajak menikah nanti setelah lulus SMA, katanya tenang saja miss duit tabungannya banyak." Alara terus saja berceloteh. Adam sesekali tersenyum sambil melirik Bu guru cantik di sampingnya.
"Tapi mau nggak Ra, diajak nikah sama dia?"
Alara mengerucutkan bibir, "Ih, aku udah tua, walaupun udah tua tapi belum nikah, tapi aku juga masih waras, perbedaan usia yang sangat jauh rasanya aneh sekali mas Adam, kalau kamu nikah sama anak SMA masih cocok, lah kalau aku? jangan bercanda deh."
Adam tergelak, "Cantik sih, pinter, keibuan, siapa coba yang nggak suka sama kamu, Ra."
"Emangnya Mas Adam juga suka?" Alara menatap lelaki itu sambil senyum-senyum dengan niat ingin mengerjai.
Adam melirik Alara, ternyata gadis itu sedang menatapnya. Ia jadi salah tingkah.
"Suka lah,"ceplos Adam. Kini Alara yang jadi salah tingkah.
"Emm, mau kemana ini mas?" Alara sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Ke kantor aku dulu yah."
"Iya leptop aku ketinggalan. Depan kantor juga ada cafe kok, nanti mampir di sana, kita bicarakan rencana kamu, juga rencana ku," jawab Adam. Alara mengangguk, sudahlah menurut saja pada supir.
Sesampainya di kantor, Adam dan Alara berjalan beriringan menuju ruangan Adam, beberapa karyawan tampak menyapa Adam dengan ramah. Alara sedikit risih karena selain menyapa Adam, mereka juga tampak aneh melihat ke arahnya.
"Masuk Ra." Adam mempersilahkan Alara masuk ke dalam ruangannya.
"Wah, gede banget ruangannya, nyaman banget lagi."
"Mau kerja di sini? nanti aku angkat jadi sekertaris pribadi," ucap Adam. Ia menuju meja kerjanya, mengecek leptopnya lalu meletakannya ke dalam tas.
"Mau banget lah," ceplos Alara.
"Serius lhoo ini."
Alara terkekeh, "Nggak mas, nggak cocok aku jadi sekretaris. Bukan bidangku juga, yang ada malah bikin ribet nanti."
Adam tersenyum sambil mengangguk, ia juga lebih suka jika Alara menjadi seorang guru. Cocok, pantas juga keibuan, walaupun beberapa muridnya justru ingin menjadikannya kekasih bukan seorang ibu.
Setelah mengambil leptopnya, keduanya menuju cafe depan kantor. Alara memulai pembicaraan. Sabtu nanti saat dirinya libur sekolah, ingin ke rumah ayah bertemu dengan Alula.
Adam menyetujui, karena Sabtu juga kantor libur. Ia akan menyiapkan cctv sebagai bukti dan tentunya dirinya yang akan menjadi saksi, walaupun entahlah nanti keputusan adiknya bagaimana. Terkadang seseorang yang sedang dimabok cinta itu sulit dinasehati.
"Oke, tapi aku juga minta tolong yah sama kamu, Ra." Adam menatap Alara ragu, takut gadis itu marah.
"Minta tolong apa? kalau urusan pekerjaan, aku mana bisa."
"Minta tolong kamu main ke rumah aku, bunda mau ketemu kamu."
"Hah, maksudnya?"
Adam lalu menceritakan kejadian di cafe waktu Alara bertemu dengan Alula, bunda mendapatkan rekaman dirinya dan Alara saling berpelukan, bunda penasaran dengan Alara.
Alara reflek menengok ke arah samping dan belakang, ternyata banyak paparazi.
"Bagaimana?"
"Ya nanti kalau urusan Alula berhasil, baru aku mau main ke rumah mas."
"Kok gitu? kalau Alula tetap melanjutkan pernikahan, berarti kamu nggak mau ke rumah aku?"
Alara mengangguk dengan senyum tipisnya. Adam memasang wajah kecewa. Untuk meyakinkan Alula jelas akan susah, karena wanita ketika sedang cinta cintanya pasti susah dinasehati.
"Nggak adil, tau begitu, waktu pingsan aku bawa aja kamu ke rumah," ceplos Adam.