Ms. Alara

Ms. Alara
Beli Handphone



"Mau kemana ini Mas? kenapa nggak pulang aja ke rumah," tanya Alara ketika melihat Adam tak lewat jalan menuju rumahnya.


"Ya kan mau beli handphone."


"Sekarang?"


"Iya sayang." Adam melirik Alara sambil tersenyum manis.


Alara melotot lalu menepuk lengan lelaki yang ada di sebelahnya.


"Sembarangan sayang sayang peang."


Adam mengerutkan dahi, "Tadi kamu juga gitu, aku nggak marah lhoo, ikhlas malah."


"Itu beda situasi." Alara lalu mengalihkan pandangannya ke arah luar. Mengingat kejadian tadi memang dirinya sempat bermanja-manja bak seorang kekasih, ah malu rasanya.


"Kok sama calon suami gitu sih." Adam terkekeh, senang meledek Alara.


Alara hanya melirik sekilas, jadi teringat lagi dirinya mengaku-ngaku jika Adam adalah calon suaminya.


"Aku ngomong gitu demi melindungi kamu dari Donita, kalau aku bilang mas itu teman aku, bisa dilahap nanti sama wanita devil itu, ngeri." Alara mencoba membela diri.


"Kamu nggak rela kalau aku dilahap ibu tiri kamu?"


"Ya nggak lah," ceplos Alara.


Adam tergelak, "Kenapa?"


"Ya mas Adam bisa dapat wanita yang baik, kenapa harus Donita, bekas banyak orang, memangnya mas mau?"


Adam buru-buru menggeleng, ia kira jawaban Alara karena dia cemburu ternyata hanya sebatas ingin Adam mendapatkan wanita baik.


"Terus ini gimana? jadi kamu nggak mau ke rumah aku dong buat ketemu bunda?"


"Kapan-kapan deh, nanti aku kabari pokoknya kalau aku siap."


"Besok mau ngeles bocah tengil itu. Nanti malam juga ada job MC, maaf banget yah jadi belum bisa."


"Oh ya udah nggak apa-apa, nanti aku bilang bunda kalau mau sibuk, bunda pasti ngerti kok."


"Makasih ya." Alara tersenyum, ia merasa jika Adam adalah lelaki dewasa yang amat sabar, mau mengalah serta tidak egois.


Keduanya lalu melanjutkan perjalanan dan berhenti di salah satu mall untuk membeli handphone Alara yang sudah hancur.


"Silahkan mau pilih yang mana, nanti mas yang bayar," ucap Adam mempersilahkan Alara masuk ke dalam gerai handphone ternama.


"Emangnya mas udah gajian? nanti buat jajan sama buat makan gimana? jangan sampai kasbon lhoo cuma demi beliin aku handphone." Alara bicara demikian karena memang gajiannya masih seminggu lagi, jika saat genting begini, biasanya ya kasbon.


Adam menggeleng sambil tersenyum tipis, "Mas udah gajian dari kemarin-kemarin, ada kok uang buat makan, udah mas pisah."


Alara merasa lega, dirinya tidak ingin jika dimudahkan orang lain, tapi justru orang tersebut kesusahan demi dirinya. Alara lalu memilih handphone merek OPPA edisi termurce, hanya dua juta saja.


"Yang ini? bukan yang APPAL aja, kan bagus kameranya." Adam terkejut ketika Alara memilih handphone dua jutaan. Gadis ini memang low budget, tidak memanfaatkan dirinya sama sekali.


"Nggak ah, mahal banget itu, nanti aku nyicil ke kamunya berat."


"Ini aku mau kasih ke kamu, aku nggak nyuruh nyicil kok."


"Nggak ah, takut nanti diungkit kalau kita bertengkar."


Adam justru tertawa mendengar alasan Alara. "Memangnya ada yang begitu?"


"Ada mas banyak, apalagi yang sudah pacaran, kalau di kasih barang-barang, pas putus, eh malah minta di balikin semuanya itu barang-barang, ditambah biaya kencan juga selama pacaran, kalau macam aku yang honorer bagaimana kalau ditagih begitu coba," cerocos Alara, memberitahu pengalaman orang lain yang curhat di media sosial.


"Ada lelaki begitu, serius?"


Alara mengangguk, "Kamu jangan gitu ya Mas."


"Iya, nanti kita langsung nikah aja, nggak usah pacaran- pacaran yah," ucap Adam. Wajah Alara langsung bersemu merah. Kenapa Adam jadi senang sekali meledeknya.