Ms. Alara

Ms. Alara
Sarapan gombalan Andre



"Assalamualaikum, Miss."


"Waalaikumsallam cah bagus." Sepagi ini sudah mendapatkan sambutan hangat dari Andre. Seperti biasa motornya sudah bertengger di sebelah tempat parkiran motor Alara.


"Sehat Miss?"


"Alhamdulillah, lumayan." Alara turun dari motornya, merapikan baju seragam yang sedikit lecek.


"Kok lumayan, apanya yang sakit."


Alara melirik remaja yang sebenarnya gagah namun sayangnya jauh di bawah umurnya. Walaupun cinta tidak memandang usia, tapi biasanya untuk si laki-laki nya yang lebih tua terpaut jauh. Tidak masalah, justru malah ngemong. Kalau yang ini? Dirinya kah yang harus ngemong? kan tidak lucu.


"Nggak apa-apa, Andre." Alara bergegas menuju ruangan guru. Andre mengekori dari belakang, bahkan menawarkan membawakan tasnya.


"Miss itu pipinya kenapa? siapa yang udah nyakitin?" Andre melihat wajah miss Alara yang biasanya cantul hari ini nampak sendu, bahkan pipinya saja terlihat bengkak.


Alara menghentikan langkahnya lalu mengambil kaca kecil dalam tas. Benda pipih itu memang sangat penting bagi kaum hawa untuk dibawa kemana saja. Ternyata lebamnya masih terlihat, apalagi bocah tengil di hadapannya itu begitu teliti dalam suatu hal.


"Emm, kemarin kena aspal?" jawab Alara dusta. Tidak keren jika di jawab di tampar adiknya. Apalagi karena bertengkar dengan bule buaya.


"Hah? serius? ya ampun. Motornya ganti aja Miss, saya belikan yang terbaru. Apa mau bonceng saya pulang pergi, dijamin aman, nggak akan saya biarkan lecet apalagi sampai nyium aspal." Andre begitu khawatir ketika mendengar jawaban dari miss Alara. Andaikan boleh, ia ingin melindungi wanita tercintanya itu dari hal apapun yang menyakiti.


"Heh, sembarangan. Jangan berlebihan, Ndre." Alara kembali melangkah, dan tentunya Andre kembali membuntuti.


"Miss berarti nanti hari minggu udah mulai les yah?" Andre nampak terkekeh.


Alara melirik sekilas, "Katanya cinta, tapi merepotkan."


"Justru ini demi cinta Miss, Ibaratnya nih jika satu-satunya tempat di mana saya bisa melihat miss Alara adalah dalam mimpi, saya akan tidur selamanya. Sabtu Minggu pun saya pengennya bisa ketemu." Andre terkekeh, entahlah dirinya benar-benar sedang dimabuk cinta. Pesona miss Alara membuat hatinya begitu tertarik. Sering kali menanyakan pada diri sendiri, normal kah?


"Pagi tadi mama masak endog, Miss. Kenapa memangnya?"


Alara menghela nafas, mau melarang untuk berhenti menunjukan cinta di hadapannya juga tidak mungkin. Rasanya percuma menasehati orang yang sedang jatuh cinta karena dia tak akan pernah mendengar. Matanya buta, telinga tuli, dan langkahnya terhenti pada sosok yang dipuja. Batubata serasa cokelat dan taik kucing dibilang bunga pasir. Biarlah sampai Andre lelah, semoga saja Alara cepat mendapatkan jodoh.


"Kamu mau ikut masuk?" Alara sudah sampai depan pintu masuk ruang guru.


"Eh iya ya, emm, hati-hati ya Miss. Kalau jalan hati-hati, itu pipi sering di kompres, jangan_"


"Hemm_" Alara buru-buru masuk karena pasti Andre akan memperpanjang kalimatnya hingga bel masuk kelas.


Alara menunduk saat masuk ke dalam kelas, Hanun tampak aneh melihat sahabatnya yang berjalan menunduk. Namun terkejut saat melihat wajah Alara yang tak biasanya, pipi sebelah merah dan sedikit bengkak.


"Heh, itu di gigit tawon?" tanya Hanun lirih. Baru saja bokongnya mendarat di kursi, sudah diwawancarai.


Alara mengangguk.


"Serius? kamu mau maling sarangnya yah?"


"Ih sembarangan." Alara melempar pulpen kosong ke meja Hanun.


Hanun terkekeh, "Nggak percaya ih."


"Ini di geplak Alula."


"Hah?"