
"Kenapa sih kamu baik banget Mas?" Alara menatap nanar ke arah laki-laki yang sudah pasti digerakkan hatinya oleh Tuhan untuk membantu dan berbuat baik padanya. Adam yang mendengar pertanyaan itu bingung menjawabnya, kenapa harus bertanya seperti itu.
"Sudah kewajiban kita baik sama semua orang kan Ra? kok nanya begitu sih?"
Alara menggeleng, "Nggak apa-apa Mas." Selama ini ayah dan adiknya saja bersikap tidak baik padanya, bahkan sahabat baiknya dulu, Donita juga tak bisa ia percaya, entahlah yang dekat dengannya seperti tak suka dengannya.
"Makan yah." Adam mengambil bubur panas yang disajikan oleh pegawai restoran. Aroma kaldu ayam yang begitu harum membuat Alara menelan salivanya. Sedari siang belum makan, perut rasanya keroncongan.
"Mas suapi yah?" Adam mengaduk buburnya agar cepat menghangat. Alara mengangguk, tubuhnya masih lemas.
Adam perlahan menyuapi Alara, entahlah ada dorongan apa di dalam sana ketika tiba-tiba ada sesuatu yang tumbuh dalam hatinya, yaitu rasa sayang dan rasa ingin melindungi. Apakah wajar hal demikian? padahal belum lama mengenal.
"Nanti ke rumah sakit dulu yah, diperiksa dokter Erik?" ucap Adam menawarkan berobat pada Alara, namun gadis itu menggeleng. Dirinya merasa tidak memiliki sakit apa-apa, hanya saja kejadian hari ini cukup melelahkan. Intinya hanya kelelahan.
"Kenapa?"
"Aku cuma kelelahan aja, Mas. Bukan sakit kok?" ucap Alara lirih.
"Kamu lelah? kenapa datang kesini? harusnya pulang aja istirahat."
"Kan aku udah janji, kasihan nanti mas nunggu di sini kelamaan, bingung mau ngabarin lewat mana. Saldo tinggal seratus ribu, masa mau ditransfer ke mas Adam?"
Adam terkekeh, "Saldo tinggal seratus ribu, kenapa uang yang aku transfer malah dikembalikan? kan bisa buat jajan kamu."
"Oh iya maaf ya, aku kurangi sepuluh ribu, itu untuk biaya transfernya, kan rekening kita beda."
"Iya nggak apa-apa, lain kali jangan di kembalikan yah, buat jajan kamu."
Alara menatap sekilas Adam Erlangga yang tampak masih tampan dan wangi walaupun hari sudah semakin sore. Orang kaya, parfum dan skincare nya saja pasti mahal. Sunscreennya bisa menangkal sinar matahari, parfumnya biasa menghempas bau-bau menyengat karena polusi udara.
Alara berfikir siapa dirinya, kenapa harus menerima begitu saja transferan dari seorang Adam yang bukanlah siapa-siapanya.
"Uang halal bukan itu? apa jangan-jangan itu uang korupsi yah, biar menghilangkan jejak-jejak kejahatan."
Alara tertawa lirih, "Aku bercanda kok, inget berita di TV tadi pagi, ada yang korupsi, tapi uangnya dialirkan rekening orang lain, biar bisa menghilangkan jejak gitu."
"Aku nggak gitu Ra, bisa di usir bunda kalau sampai bandel. Eh, Alhamdulillah buburnya habis, kamu lapar yah?" Adam meletakan mangkuk buburnya di atas meja, lalu mengambil teh manis hangat.
Alara mengangguk, "Aku belum makan dari siang, ada masalah di sekolah."
"Ya ampun Ra, walau gimana pun harus makan, nggak boleh abai sama kesehatan sendiri."
"Iya biasanya aku rajin makan kok, ini masalahnya lain, biasa kenakalan remaja, aku tadi lihat gumpalan darah banyak banget di toilet, mual banget Mas. Belum lagi harus antar ke rumah sakit. Pusing kepala."
"Astaga, yang sabar ya Ra. Nanti aku antar pulangnya, gampang motor kamu nanti aku suruh orang antar. Untung aja kamu nggak pingsan di jalan."
Alara mengangguk, ia mengelus perutnya perlahan, rasanya sedikit lebih baik karena sudah terisi, mungkin tadi lambungnya marah karena tidak di isi.
"Oh ya, kenapa ngajak ketemu lagi di sini? aku juga butuh mas secepatnya buat ungkap kebusukan Edward."
"Besok lagi aja bahasnya, kamu masih sakit. Mas minta nomor hape kamu aja boleh? biar lebih gampang komunikasi kita nanti?"
Alara mengambil ponselnya, Adam tersenyum lebar. Entahlah rasanya senang saja. Mengenal Alara rasanya ada sensasi tersendiri.
☘️Bersambung☘️
.
.
.
.
Intermezzoo: Btw, yang kaya Adam ada nggak di shopee, emak mau chekout, nggak apa-apa deh ongkirnya mahal ge. Bujangan satu ini meresahkan, demennya mainan transfer-transfer, tutor menyadarkan orang pingsan aja dia bayar, mas Adam, mau nggak nomer hape mak San aje?🤣🤣🤣