Ms. Alara

Ms. Alara
Tak tahu malu



Ra, tolongin aku😭


Pesan dari Alula diabaikan begitu saja, namun Alula tak hentinya mengirim pesan berderet pada Alara agar kakak kandungnya itu menolongnya. Kondisinya sangat urgent.


Ra, uang warisan dari ayah di bawa kabur Edward, Donita juga tiba-tiba ngilang. Wanita itu juga menjual beberapa aset ayah. Untung saja rumah masih aman karena atas nama mama dulunya.


Ra, tolongin aku dan ayah, besok gimana makan kita? apalagi ayah suka sakit-sakitan.


Ra, duitku habis buat persiapan pernikahan, tapi malah nggak jadi.


Kamu sibuk yah? kalau nggak sibuk balas yah. Please, kita butuh bantuan kamu.


Jangan lupa Ra, kita keluarga.


Alara akhirnya menyempatkan membacanya sampai tuntas karena ponselnya terus berdering, sudah tahu jam kerja, masih saja mendesak untuk dibalas dan diladeni.


Setelah dibaca sampai selesai, ah rasanya enek jeleh dengan curhatan Alula, sudah diperingatkan tapi malah ngeyel, bahkan Alara masih ingat dirinya ditampar di depan umum. Sekarang justru meminta tolong padanya untuk mencari solusi dari masalahnya. Letak malunya sudah hilang sepertinya.


Alara mengetik balasan karena kesal dengan pesan yang Alula kirimkan, seolah jadi dirinya yang jahat pada keluarga.


^^^Serius kita keluarga? Seharusnya, keluarga adalah tempat perlindungan kita. Seringnya justru keluarga menjadi tempat kita menemukan rasa sakit hati terdalam. Coba ingat-ingat lagi apa yang sudah kalian lakukan pada aku dan ibu.^^^


Tidak berapa lama kemudian langsung ada balasan dari Alula.


Walau bagaimanapun kita masih ada ikatan darah, nggak boleh benci berlebihan Ra.


Alara membacanya sambil memutar bola mata, lalu terkekeh, kekehan geram pada Alula yang begitu enteng berpikir seperti itu. Saat menyakiti apa terpikirkan juga seperti itu.


^^^Lucu rasanya ketika ikatan darah itu tak lagi memiliki arti, jika nyatanya bersama orang asing jauh terasa lebih aman dan menyenangkan hati.^^^


Ra, cuma kamu harapan aku dan ayah, apalagi katanya kamu akan menikah dengan orang kaya, kemarin ayah cerita kamu dan calonmu itu meminta restu, pasti suamimu baik dan tidak keberatan jika membantu aku dan ayah.


Alara menghela nafas, ia menulis balasan terakhir lalu meletakan ponselnya di tas. Ia tidak ingin berlarut-larut membahas pola pikir Alula yang tidak punya pikiran itu.


^^^Jangan terlalu bergantung pada siapa pun di dunia ini. Karena bayanganmu saja akan meninggalkanmu di saat gelap^^^


Alara bersiap-siap membawa bahan ajar lalu bergegas menuju kelas yang akan ia ajar, walaupun hati rasanya begitu dongkol, Alula berhasil menghancurkan moodnya, tapi Alara tetep harus mengenyampingkan urusan pribadinya lebih dulu demi kecerdasan anak bangsa.


"Kenapa? kok manyun?" tanya Adam saat melihat calon istrinya wajahnya tertekuk, bukan lagi guratan lelah yang terlihat, melainkan amarah dan emosi.


"Cape."


Adam tidak langsung mengemudikan mobilnya, ia ingin tahu isi hati Alara lebih dulu, tidak seperti biasanya Alara seperti ini.


"Nanti kalau sudah nikah boleh kok keluar ngajar, di rumah aja biar bisa istirahat."


Alara geleng.


"Katanya tadi cape."


"Bukan cape ngajar mas, tapi cape sama keluargaku." Alara lalu menceritakan pesan dari Alula yang menjengkelkan itu.


Adam mendengarkan dengan seksama, prihatin dengan keluarga Alara yang terus saja memberi luka. Untung saja kesabaran wanita itu bagaikan samudera. Adam semakin menggebu untuk membahagiakan calon istrinya, kelak jika sudah menjadi istrinya, tak ka ia biarkan Alara bersedih.


"Kirain mas cape ngajar, untuk saat ini pikirkan saja kebahagiaan mu sayang, kamu berhak bahagia."


"Nggak lah mas, aku suka belajar dan mengajar. Mereka yang bikin aku kuat, mereka yang bikin aku tertawa saat di sekolah."


"Mas juga sejak mengenalmu, bawaannya pengen belajar terus. Belajar menjadi yang terbaik buat kamu, Ra."


Alara terkekeh, lucu mendengar gombalan dari calon suami. Ia sangat bersyukur bisa mengenal Adam dan bahkan akan berjodoh dengan lelaki baik hati itu.


"GOMBAL."


"Serius ih." Adam jadi ikut terkekeh.


"Masih nggak ikhlas rasanya, warisan bagian aku malah di ambil bulepotan itu. Teganya." Alara kembali teringat perihal harta benda yang seharusnya haknya.


"Mas belikan buat kamu? kamu mau tanah? apa rumah? jangan pikirkan warisan itu lagi, Sayang. Yuk kita beli sendiri aja," ajak Adam. Ia tidak ingin Alara memikirkan hal seperti itu, sebelum menikah, pikiran harus rileks agar terpancar wajah yang bersinar ala manten-manten.


"Emangnya mas punya duit banyak?"