
Ana mengajak Alara dengan antusias memasuki dapur besarnya. Alara terkesima, untuk ukuran dapurnya saja seperti ukuran kontrakannya. Ana lalu menggandeng Alara untuk duduk di depan meja besar yang di gunakan untuk persiapan membuat kue-kue. Dapur ini memang di desain langsung oleh bunda Ana agar bisa menjadi tempat paling nyaman untuk dirinya berkreasi membuat masakan dan cemilan keluarga.
"Bunda mau bikin dessert box yang coklat nuttela ini, anak bunda suka banget lhoo." Ana menyiapkan beberapa box kaca yang akan ia hias.
Alara hanya tersenyum, ia memperhatikan bunda Ana yang mulai menyusun biskuit manis, kue, whipping cream ke dalam box. Dirinya mencoba mempraktekkan juga apa yang bunda Ana lakukan.
"Kamu mau buat yang rasa strawberry atau greentea, bunda punya juga bahan-bahannya." Ana mengambilkan buah strawberry dan selai strawberry juga whipping cream strawberry dan greentea.
"Makasih ya bun." Alara mencoba beberapa kreasi sambil mengobrol dengan bunda Ana. Anugrah sekali rasanya bisa kenal dengan bunda Ana yang baik hati dan tidak sombong, tidak memandang kasta saat bergaul.
"Kamu tinggal dimana? biar bunda mampir nanti bawain kamu kue." Ana melirik Alara sambil menata dessert nya.
"Tinggal di kontrakan kecil bun, bahkan sama dapur bunda juga besar dapur bunda, saya orang biasa bun." Alara berkata sejujurnya tanpa malu, ya memang begitulah kondisinya saat ini.
"Nggak apa-apa, Alhamdulillah masih ada tempat untuk berteduh, segala sesuatu jika dibarengi rasa syukur, semuanya akan terasa mewah." Bunda tersenyum sumringah, sebagai tanda menyemangati Alara.
"Alhamdulillah, iya bun benar sekali."
"Tinggal sama siapa?"
"Sama ibu berdua, orangtua sudah bercerai, ayah sudah menikah lagi, adik juga sebentar lagi menikah," jawab Alara, ia tidak ingin menutupi apapun pada bunda Ana yang sudah baik padanya.
"Maaf yah, bunda malah bikin kamu sedih. Alara sudah ngajar lama di sekolah tempat Andre?" Ana mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin melihat Alara sedih saat bersamanya.
"Wah, hebat dong bahasa Inggrisnya, kalau misal nih, misal yah, kamu minat kerja di perusahaan, nanti bunda masukan di perusahaan anak bunda, siapa tahu kamu mau mencoba pengalaman baru."
"Untuk saat ini belum sih bun, masih nyaman dengan anak-anak." Dulu sebelum mengajar Alara memang berminat bekerja kantoran, tapi sulit sekali jika tidak dibantu orang dalam. Begitulah kenyataannya.
"Pokoknya kalau kamu berminat, hubungi saja bunda yah."
Alara mengangguk, kesempatan di depan mata, tapi tidak tega meninggalkan murid-murid tercinta. Bertemu dengan remaja setiap harinya membuat jiwa Alara terus muda, walaupun umur sudah jangan ditanya.
"Bun, kok sepi sih, anak bunda berapa?" Alara memberanikan diri bertanya agar suasana semakin nyaman.
"Bunda anaknya dua, laki-laki semua, anak pertama di luar negeri, anak bontot ada di sini, minggu begini biasanya lagi olahraga, entahlah olahraga apa hari ini. Coba bunda punya anak perempuan, pasti seneng banget bisa diajak bikin kue bareng, dapur rame setiap hari. Kalau anak lelaki jarang mau di ajak bikin begini."
"Nanti menantu bunda kan juga perempuan, semoga saja cucunya perempuan ya bun." Alara mencoba menghibur bunda Ana yang sepertinya benar-benar menginginkan anak perempuan.
"Iya, tapi menantu bunda malah di boyong ke luar negeri, tinggal satu yang masih bujangan, belum mau kawin-mawin itu, kalau di suruh kawin berasa kaya di suruh motong rumput di lapangan gelora bung Karno." Ana terkekeh membayangkan Adam yang begitu gila kerja.
"Semoga anak bunda secepatnya berubah pikiran mau nikah yah bun."
"Kamu mau nggak sama anak bunda?" Ana melirik Alara yang ternyata juga tengah melihatnya.