Ms. Alara

Ms. Alara
Muntah



Alara pingsan.


Adam panik, ia berteriak meminta tolong pada pegawai restoran untuk membantu menyadarkan Alara yang pingsan. Ia membopong tubuh Alara ke sofa panjang yang tersedia di restoran. Beberapa karyawan juga ikut panik, ada yang mengambilkan minyak kayu putih, ada juga yang mengambilkan air putih.


Adam merogoh ponselnya untuk menelpon dokter keluarga yang biasa memeriksa kondisi kesehatan keluarga besarnya.


Rik, Erik, gimana caranya biar orang yang pingsan cepat sadar? Adam langsung to the point, dirinya takut terjadi sesuatu pada Alara.


Hah? siapa yang pingsan? kok panik gitu.


Adam berdecak karena manusia diseberang telpon sana malah balik bertanya.


Cepat jawab, ini darurat.


Oke, oke. Untuk membantu pernafasan orang yang pingsan agar kembali pulih seperti semua maka miringkan satu sisi kepala baik ke kanan maupun ke kiri. Kamu juga bisa menambahkan bantal yang tidak terlalu tinggi.


Adam segera membuka jas nya untuk dijadikan bantal Alara. Karyawan yang ingin membantu hanya melihat sikap pelanggannya karena takut salah menangani.


Apalagi?


Menempatkan bantal dibawah kaki sehingga posisi kaki lebih tinggi. Dioleskan minyak kayu putih atau balsam di bagian pelipis dan leher.


Adam segera duduk di sofa, ia pangku kaki Alara. Untuk mengoleskan minyak kayu putih di pelipis dan leher dirinya tak berani, bukannya apa, hanya belum saatnya. Eh memangnya kapan saatnya? Ah sudahlah.


"Mbak tolong oleskan yah di leher sama pelipis." Adam meminta tolong pada pegawai restoran yang sigap membantu.


"Ah iya." Pegawai restoran segera mengoleskan.


Pijat bagian antara ibu jari dan jari telunjuk dengan minyak kayu putih.


Kali ini Adam yang melakukan, hanya sebuah tangan, tidak akan mempengaruhi apapun dalam dirinya. Ia mulai memijit bagian antara ibu jari dan telunjuk Alara sambil memandang tangan kuning langsat milik Bu guru cantik. Ternyata ada yang terusik di dalam sana, hatinya berdesir hebat, padahal itu hanya sebuah tangan.


Alara mengejapkan mata, melihat itu, Adam langsung menghentikan pijatannya, ia cukup lega karena Alara tidak pingsan lama.


Udah sadar ini Rik, makasih banyak yah.


Duduk santai dan beri minuman teh manis hangat Dam.


Oke, makasih sekali lagi, nanti aku transfer. Adam segera mengakhiri panggilan telponnya. Ia fokus pada Alara yang masih tampak pucat, sepertinya gadis itu kelelahan.


"Pusing banget Mas." Alara memegangi kepalanya.


"Iya kamu pingsan."


"Aku?"


Adam mengangguk, ia dengan sigap memesan bubur untuk Alara. Keduanya kini duduk bersebelahan di sofa panjang.


"Minum lagi yah." Adam kembali mendekatkan sedotan di bibir Alara.


"Lemes banget. Mual. Toilet mana, jauh nggak?"


"Mau apa emangnya? kamu masih lemes gini?"


"Mau muntah."


Adam langsung mengambil jasnya, ia persiapkan untuk menampung muntahan Alara.


Alara jelas geleng kepala. Ia tidak mau melakukan itu di jas mahal milik Adam, pasti harganya ratusan dolar. Tapi rasa mualnya benar-benar tak tertahankan, ia akhirnya mengeluarkan isi perutnya yang tak seberapa itu karena memang siang harinya tidak makan.


"Maaf, maaf Mas." Alara memegang lengan Adam sambil terus meminta maaf.


"Nggak apa-apa, yang penting lega perut kamu." Adam mengambil sapu tangannya lalu mengusap bibir Alara dengan lembut.


Diperlakukan bak Ratu oleh pangeran tampan mercy putih, apakah dongeng Cinderella akan menjadi cerita real dalam hidupnya? Alara hanya bisa menatap manik mata Adam yang terlihat begitu tulus.


"Jas kamu, sapu tangan kamu, aku ganti pakai apa nanti. Gaji guru nggak seberapa."


"Kamu ngomong apa sih Ra, nggak ada ganti-rugi apapun. Kesehatan kamu lebih berharga." Adam kembali menyuruh Alara meminum teh manis hangat. Ia juga meminta kantong plastik untuk membawa jasnya ke jasa laundry nantinya pada pegawai restoran.


"Maafin aku yah, kalau ketemu kamu selalu aja merepotkan." Alara menunduk dengan wajah penyesalan.


"Nggak ada yang kebetulan di dunia ini Ra, sudah jalan takdirnya begini, aku nggak keberatan. Kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh yah." Adam tersenyum lebar untuk membuktikan jika dirinya tidak menyesal bertemu dengan Alara.


"Kenapa sih kamu baik banget Mas?"