Ms. Alara

Ms. Alara
Diantar Pulang



"Kamu cuma tinggal berdua sama ibu?" tanya Adam sesampainya di depan kontrakan Alara.


"Iya, mau sama siapa lagi? semuanya sudah diambil sundel bolong itu." Begitu ketara mimik wajah Alara yang tengah menahan amarah. Setelah terusir dari rumah masa kecilnya, Alara dan ibunya memilih untuk mengontrak di rumah minimalis, hanya ada dua kamar, satu ruang tv dan dapur.


Adam terkekeh, "Sundel bolong? wanita yang malam-malam sama bule itu?"


"Iya, sundel kelakuannya, bolong otaknya. Nggak punya otak, semua dia embat. Rakus, Racun." Alara meninggikan suaranya ketika bercerita tentang Donita, sulit menahan emosi karena memang sangat jahat, sudah mengambil ayahnya, kini otw mengambil calon suami adiknya.


"Sudah sudah, maaf yah, malah jadi bikin emosi kamu, nih minum dulu." Adam mengambil air air mineral, lalu membukanya, kemudian diberikan pada Alara. Air yang jernih dan dingin ini tentu saja tidak bisa meredam amarahnya, tapi setidaknya bisa sedikit mengalihkan pikiran wanita itu.


Alara menerimanya, lalu meminumnya. Senang berteman dengan Adam karena cukup pengertian. Dirinya tetap antisipasi jangan sampai baperan dengan sikap baik lelaki yang ada di sampingnya.


"Makasih." Alara hanya meminumnya separuh. Adam mengambilnya dari tangan Alara, membuka tutup botol air itu lalu meminumnya.


"Heh, itu bekas aku lhoo, kan itu ada yang baru." Alara melongo dengan sikap Adam.


"Ini nanti mau dibuang kan? jangan dong, mubadzir." Adam jadi teringat mamanya yang selalu menyuruhnya menghabiskan air mineral kemasan.


"Tapi itu bekas aku."


"Ya nggak apa-apa, kamu sehat, nggak kena TBC. Ya siapa tau nanti pinter dari bu guru nular," ucap Adam meledek Alara. Alara tersenyum tipis, lucu saja, Adam seorang pengusaha, tidak mungkin jika otaknya tidak encer, apalagi bahasa asingnya, pasti menguasai banyak bahasa, tapi tidak jumawa, sungguh hebatnya.


"Aku pinter ngamuk," candaku yang memang nyata. Entahlah semenjak kejadian pahit yang menimpa keluarga, Alara jadi mudah tersulut emosi.


"Ngeri banget ih, tapi aku yakin kamu nggak gitu. Pasti penyayang anak, jadi guru itu kan harus sabar. Aku juga pernah bandel waktu sekolah. Btw, boleh nggak kalau bertamu, dari pada ngobrol di sini, nanti digerebek."


"Digerebek, kita nggak ngapa-ngapain kok, cuma minum nih. Yuk, sekalian kenalan sama ibu." Karena Adam sudah sangat baik, Alara menganggapnya sebagai teman baik, jadi boleh menjadi tamu, diperkenankan juga pada ibunya.


Keduanya turun dari mobil, Alara berjalan lebih dulu, masuk ke dalam rumah karena memang rumah dikunci dari dalam, dirinya memiliki duplikatnya.


Adam menghampiri bu Mirna, salam dan salim dengan sopannya. Mirna menyambut dengan senang hati karena baru kali ini ada lelaki ke rumah selain Alan, namun berbeda dengan Alan yang memang ke rumah hanya untuk urusan pekerjaan.


Alara masuk ke dalam kamar, ia membiarkan ibunya dan Adam berdua agar saling mengenal. Dirinya juga sadar, bahwa ini pertama kalinya membawa lelaki ke rumah selain Alan, pasti ibunya akan mengadakan wawancara mendadak nanti malam.


Setelah membersihkan badan dan berganti pakaian, Alara keluar kamar menemui Adam dan ibunya yang sedang bersenda gurau. Ternyata mereka berdua mudah akrab. Alara ikut bergabung dengan keduanya.


Adam hanya bisa mampir dan mengobrol sebentar karena masih ada urusan, ia pamit pulang pada Alara dan bu Mirna yang sudah menyambut dengan baik.


Setelah Adam pulang, benar saja bu Mirna langsung menyusun beberapa pertanyaan untuk Alara.


"Cie. Gebetan baru? Alhamdulillah anak ibu laku juga akhirnya," ucap Mirna bercanda untuk mencairkan suasana agar saat nanti bertanya, Alara mau menjawab dengan jujur.


"Dari dulu juga laku sebenarnya bu, cuma belum ada yang pas di hati," ucap Alara, bukannya sombong, tapi memang kenyataanya seperti itu, apalagi cinta si berondong ganteng, tidak sedikitpun mau berpaling darinya.


"Itu nemu dimana?"


Alara tergelak, "Nemu di selokan bu, ih ibu ini. Memangnya apa, nemu segala. Sembarangan nih ibu."


"Ganteng Ra, kayanya putra mahkota juga itu." Mirna menebak demikian karena Adam mengenakan jam tangan mahal, penampilan rapi, harum duit juga.


"Cuma temen."


"Ya sekarang, siapa tahu besok-besok temen jadi demen."


Alara melirik ibunya, "Apa iya?"