
Sesampainya di sekolah, Alara langsung memasuki kantor guru. Ia melihat Hanun tengah memainkan ponselnya sambil menyesap segelas es kopi.
Hanun meletakan ponselnya ketika melihat Alara sudah duduk di sebelahnya. Tiga pulih menit Alara meninggalkan sekolah, dirinya begitu ingin tahu tentang sahabatnya itu yang keluar sekolah di jam istirahat.
"Udah urusannya?"
Alara mengangguk, "Udah, kan tadi aku bilang cuma sebentar."
"Dicariin tau tadi."
"Sama siapa?"
"Biasa, berondong ganteng." Hanun tergelak.
Alara memasang wajah sebal, Hanun semakin meledek dengan mengatakan jika si berondong begitu mencintai Alara.
"Eh, tadi habis dari mana? ketemu ayah?"
Alara menggeleng, "Aku belum cerita yah, waktu malam minggu kemarin jadi MC, ada beberapa insiden nggak sengaja, yang bikin aku harus keluar siang tadi."
Alara lalu menceritakan lebih detail mengenai pertemuannya dengan Adam, dari awal bertemu sampai siang tadi bertemu kembali.
"Wah, apa ini tanda-tanda?"
"Tanda-tanda apa?"
"Terkabulnya doa kamu lah selama ini," jawab Hanun. Ia begitu tahu jika sahabatnya itu selalu konsisten bercita-cita memiliki suami ganteng kaya raya.
Alara terkekeh, "Bisa aja kamu, itu cuma speak aja Nun, haduh aku juga cukup paham bercermin."
"Yee, nggak boleh ngomong gitu, siapa tahu aja kan _"
"Stop, sudah sampai siang tadi aja, nggak ada ketemu-ketemu lagi nantinya, jasnya udah dibalikin, ya udah selesai urusan."
"Kamu nggak minta nomor hape?"
"Ya nggak lah, ih yang begitu biasanya udah punya istri. Walaupun missqueen begini, nggak mau ah jadi falakor, Nun."
Hanun terkekeh, "Dari pada jadi pelakor, mending sama Andre ya, Ra."
"Udah ah, aku mau beli makanan dulu di kantin, darah tinggi lama-lama ngobrol sama kamu, Nun." Alara beranjak dari tempat duduknya lalu bergegas ke kantin.
☘️☘️☘️
"Jadi kan kita ke cafe?" tanya Hanun sambil merapikan meja kerjanya. Sore ini Alara dan Hanun memang sudah berencana akan mengunjungi cafe.
"Jadi dong, mudah-mudahan nnti ada band yang performance, lumayan ngilangin pusing, Nun. Banyak banget hal-hal yang mengejutkan akhir-akhir ini," jawab Alara. Ia sedang mengecek kembali isi tasnya, memastikan tidak ada yang tertinggal.
"Yuk ah," ajak Hanun.
Alara mengangguk, ia berjalan beriringan dengan Hanun. Saat sudah sampai lobby sekolah, ia dikejutkan dengan kehadiran Alula, adiknya yang memilih hidup dengan ayahnya.
"La." Alara menghampiri adiknya.
"Maaf yah Mbak, aku ke sini tanpa kasih kabar, ini buat mbak Alara. Maaf juga sebelumnya nggak pernah cerita apa-apa." Alula memberikan selembar undangan pernikahannya pada kakaknya.
Alara menerimanya dengan perasaan gusar. Bukan tentang di langkah perihal jodoh, itu sama sekali tidak masalah, ia sadar diri, umurnya tak muda lagi, jika adiknya ingin mendahului, jelas itu bukan masalah besar. Hanya saja selama ini adiknya tidak bercerita apapun mengenai kekasihnya itu, Alara ingin tahu lebih dulu lelaki macam apa yang akan menjadi pendamping Alula.
Alara berharap semoga Alula bisa mengambil pelajaran dari perjalanan rumah tangga orangtuanya yang runtuh. Sehingga lebih berhati-hati lagi dalam mencari pasangan hidup.
"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Alara.
Alula mengangguk, "Aku sudah cukup lama mengenal Edward, bahkan dia mualaf demi menikah sama aku."
"Mbak mau ketemu sama calon kamu Sabtu nanti bisa?"
"Bisa Mbak, ke rumah aja, biar sekalian ketemu ayah."
"Nggak, Mbak maunya di luar aja, di cafe atau di mana terserah."
Alula mengangguk, ia lalu berpamitan pulang pada Alara. Sepertinya Alula, Hanun merangkul Alara, lalu mengusap lengan sahabatnya itu, perasaan Alara saat ini pasti sedang tidak baik-baik saja.
Alara melihat undangan pernikahan adiknya, membuka perlahan untuk mengetahui dari mana dan siapa nama calon suami adiknya itu.
"Hah_" Alara terkejut bukan main saat melihat foto prewedding adiknya yang terpampang menjadi wallpaper undangan.