Ms. Alara

Ms. Alara
Siapa?



Sore ini sepulang sekolah akhirnya Alara memberanikan diri bertemu dengan Alula. Walau bagaimanapun wanita itu adalah adiknya, ia tidak adiknya bernasib sama seperti rumah tangga ayah dan ibu.


Alara menghentikan sepeda motornya di salah satu restoran ternama di kota ini. Banyak berbagai menu steak kesukaan Alula. Sebelum masuk, Alara menghirup nafas dalam-dalam lebih dulu, karena obrolan kali ini tidaklah ringan, apalagi mengenai sebuah pernikahan.


Alara masuk ke dalam restoran, meminta tolong diantar ke meja yang sudah diberi tahu Alula lewat pesan WhatsApp. Terlihat adiknya melambaikan tangan. Alara menghentikan langkahnya sejenak ketika melihat adiknya ternyata bersama laki-laki tukang selingkuh itu. Edward , calon suami Alula.


Alula mengerutkan dahi ketika melihat kakaknya menghentikan langkah, malah melamun di tengah jalan. Ia kembali melambaikan tangan dan memanggil Alara.


Alara segera tersadar, ia bergegas menghampiri Alula. Edward tampak terkejut ketika melihat Alara datang. Sedangkan Alara tersenyum sinis pada calon suami adiknya itu.


"Tadi kenapa? kok berhenti di situ?" tanya Alula. Penasaran saja kenapa kakaknya mendadak diam di tempat tadi.


"Lihat setan, setan jantan," ceplos Alara, matanya sekilas melirik Edward. Ia tahu lelaki itu pasti sudah paham berbahasa Indonesia.


"Hah, serius?"


"Iya, setannya malah dekat sini lhoo."


Edward yang sedang meneguk jus langsung tersedak mendengar ucapan Alara. Alula langsung memberikan calon suaminya tisu. Alara melihat ada cinta di mata adiknya untuk si penghianat.


"Udah ah, serem banget ih. Kaya indigo aja." Alula tidak ingin mendengar yang setan-setan lagi, takut nanti malam tidak bisa tidur.


"Kamu perlu tau La, manusia kadang lebih menyeramkan dari setan itu sendiri. Sifat dan kelakuannya maksudnya. Jangan mudah terperdaya," ucap Alara. Ia lalu meminum jus bagiannya yang sudah dipesan oleh adiknya.


"Kamu udah makan duluan?" Alara melihat bekas piring di depan Alula.


"Iya maaf yah, soalnya kamu lama sih, udah laper. Edward juga udah lapar katanya."


Alara mengangguk. "Aku makan yah."


"Makan dulu, soalnya pembicaraan ini lumayan berat." Alara makan sambil mendengarkan obrolan adiknya dengan Edward. Lelaki itu patut diacungi jempol, romantis, terlihat begitu mencintai Alula, namun hanya terlihat saja, bukan pada kenyataannya.


"Gimana kerjaan? masih sambil MC juga? ibu gimana?"


"Kerjaan oke, Mc juga masih, ibu baik-baik saja, makin bahagia. Oh ya, gimana kabar ayah?"


"Ayah murung setiap hari," jawab Alula. Entahlah, padahal ayah sendiri yang memilih berpisah dengan ibu demi wanita muda, tapi justru malah semakin terpuruk.


"Baguslah, pasti si DONITA itu sudah punya gebetan baru yah? ayah sedang menuai karmanya." Alara menekan nada bicaranya saat menyebut nama wanita itu agar lelaki yang ada di dekatnya mendengar.


Alara melihat Edward tampak diam saja sedari tadi, seperti mati kutu, padahal belum diserang dengan mulut pedasnya.


"Iya kayanya, udah jarang pulang. Nomor telfonnya aja sering ganti, ayah susah dihubungi."


"Ya lah, udah menguras harta ayah, sudah kenyang bikin kita menderita, mana mau dia terus bersanding dengan ayah yang sudah tua bangka, menyusahkan nantinya. Sekarang ini pasti dia sedang mencari mangsa baru, yang masih muda dan bisa memuaskannya. Kamu harus hati-hati."


"Hati-hati kenapa? dia nggak bakal berani usik aku."


"Masa sih? kemungkinan kamu lengah." Alara tersenyum sinis pada adiknya yang pemberani tapi ternyata polos.


"Kamu mau tahu berita terbaru tentang Donita?"


"Apa?" Alula penasaran.


"Berapa hari yang lalu aku lihat dia ke hotel sama laki-laki, kebetulan aku kenal laki-laki itu." Alara melirik Edward sekilas. Rupanya wajah lelaki itu sudah memerah.


"Siapa?"