Ms. Alara

Ms. Alara
Bukan Cinderella



Sesampainya di rumah, Alara melihat ibunya tengah sibuk di dapur. Ia menghampiri ibunya, melihat aktivitas apa yang sedang dilakukan wanita setengah baya itu.


"Hemm, sedap_" Alara melihat ibunya sedang memasak mie instan dengan sayur dan telor. 


"Mau?" Mirna melirik putrinya.


"Nggak ah, udah kenyang, ibu kenapa nggak WhatsApp aku aja minta beliin lauk apa gitu, kok malah makan mie instan," ucap Alara. Walaupun mie instan yang ibunya masak terdapat sayur dan telor yang menyehatkan. 


"Lagi pengen mie instan, kayanya enak gitu sama irisan cabe, pengen pedes-pedes, Ra." Mie instan siap di hidangkan, Mirna membawanya ke ruang tengah, ia ingin memakannya sambil menonton televisi.


"Bu, aku ke kamar dulu yah, mau mandi." 


Mirna mengangguk, Alara lalu bergegas menuju kamarnya. Sebenarnya dirinya ingin menanyakan perihal pernikahan adiknya pada ibunya. Apakah ibu sudah tahu ataukah belum. Tapi melihat ibu sedang selera makan, akhirnya Alara menunda bertanya.


Di kamar mandi Alara terus saja memikirkan adik semata wayangnya itu, walaupun keduanya sering bertengkar, tapi sebagai kakak dirinya tetap tidak tega jika adiknya menderita dengan pernikahannya kelak. Menurutnya pernikahan adalah komitmen harian. Setiap hari akan bangun dan sadar untuk terus berkomitmen bersama pasangan. Baik dan buruknya sebuah pernikahan ya tergantung bagaimana menjalaninya dengan pasangan. 


Pernikahan juga bukan garis finish, melainkan awal baru bagi kehidupan yang baru. Banyak hal baru yang akan datang dalam kehidupan pernikahan. Hal baru yang sama sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya. Bukan cuma yang buat bahagia, tapi juga yang berpotensi membuatnya porak poranda. Karena itu butuh tanggung jawab dan komitmen dari kedua belah pihak yang menjalani. Jika belum menikah pun calon pasangan sudah tidak baik, pasti akan sulit sekali menjalani rumah tangga dengan baik pula.


Alara meremas rambutnya, semakin memikirkan adiknya, kepalanya rasanya pusing. Ia bertanya-tanya, kenapa harus orang luar, belum tentu juga seagama, segala sesuatunya sudah banyak perbedaan. Dirinya terbesit rencana untuk meminta bantuan Adam, tapi langsung ia urungkan. Malu rasanya.


Selesai mandi dan berganti pakaian, ia memberanikan diri mengajak adiknya untuk bertemu di salah satu cafe esok sore selesai mengajar. Ia sedikit tenang karena Alula ternyata mau diajak bertemu.


Alara keluar kamar, membawa undangan, ingin memberitahukan ibunya apakah sudah menerima undangan juga dari Alula.


Alara melihat ibunya tengah fokus menonton televisi. Ia lalu duduk di sebelah ibunya, memberikan undangan pernikahan Alula.


"Hemm, ibu sudah tahu." Mirna tampak datar.


"Tapi ibu muak kalau sampai melihat wajah ayahmu." Mirna sebenarnya ingin sekali menyaksikan anak bungsunya menikah, tapi rasa traumatis yang begitu mendalam, membuatnya sangat membenci mantan suaminya. Jika menghadiri pernikahan, otomatis akan bertemu dengan ayah anak-anak.


"Kasihan Alula, Bu." Alara mencoba membujuk ibunya.


"Kamu kapan?"


Alara menghela nafas, sebal karena ibunya mengeluarkan pertanyaan itu lagi walaupun sudah tahu akan mendapatkan jawaban apa dari Alara.


"Kamu di langkah adik lhoo ini, seharusnya ketar ketir." 


"Masih mau fokus kerja bu, belum kaya." 


Mirna terkekeh mendengar jawaban putrinya, "Kenapa harus kaya dulu sih?"


"Ya setidaknya kalau punya duit banyak, wajah jelek ku tertolong, Bu," jawan Alara merendah. 


"Kamu cantik, enak saja, keturunan ibu cantik-cantik."


"Tapi CEO maunya nggak cuma cantik doang, tapi juga kaya raya."


"CEO lagi, hadeh." Mirna mengusap wajahnya dengan kasar mendengar cita-cita putrinya yang belum berubah dari semenjak dirinya bercerai.


"Ya kalau pangeran kaya mau sama gadis miskin itu hanya dongeng ibu. Nggak ada Cinderella di dunia nyata."


"Ya siapa tahu kamu."