Ms. Alara

Ms. Alara
Masih Bujangan



"Istri yang mana?"


"Ya yang di rumah lah, memangnya punya istri berapa?"


Adam terkekeh, "Satu aja belum punya Ra, nggak ada sampai berapa."


"Jangan bohong dong. Masa istrinya nggak di akui." Alara masih pada keyakinannya jika lelaki tampan kaya raya itu sudah memiliki istri, bahkan anak.


Adam menghela nafas, ia mengeluarkan ponselnya lalu membuka galeri foto. Setelah itu menunjukan pada Alara foto keluarganya yang terdiri hanya dirinya, ayah, ibu serta kakak lelaki dan istri dari kakak lelakinya.


"Oh_"


"Masih belum percaya?" Adam lalu memperlihatkan KTP nya. Ah kok jadi sebegitunya menjelaskan, padahal Alara bukanlah siapa-siapa saat ini. Entahlah besok nanti.


Adam lalu mengajak Alara duduk lebih dulu, sebelum pulang gadis itu harus tenang agar tidak menggalau di jalanan.


"Kamu kenapa sih sukanya kekerasan begitu, Ra?" tanya Adam ketika sedang duduk berdua dengan Alara, masih direstoran tadi dan tempat duduk yang sama, yang di duduki Alara dan Alula.


"Terus harus lembek gitu, menghadapi mereka yang kaya syaiton? aku udah lewati fase yang cuma bisa nangis, memendam semuanya, itu nggak guna ternyata. Aku sadar, nggak boleh lembek. Mereka terlalu kejam untuk kita baikin." Alara meluapkan emosinya di depan Adam, lelaki itu tampak santai, sedikit demi sedikit mulai tahu kemarahan Alara ditujukan untuk siapa.


"Kan aku udah bilang, takut yang kamu pukul tidak terima, nanti bagaimana kalau lapor polisi." Adam kembali mengingatkan perihal begitu berbahayanya sebuah kekerasan.


"Aku nggak apa-apa, asalkan ibu baik-baik aja."


"Justru itu, kalau kamu sayang ibu, harus dijaga dengan baik, kalau nggak ada kamu, ibu mau sama siapa?"


Alara terdiam sejenak, perkataan Adam ada benarnya juga. Tapi hati ini terlalu sakit sehingga tidak bisa berpikir sejauh itu.


"Bantu aku, please." Alara jadi teringat kejadian di hotel waktu memergoki Donita dengan bule calon suami Alula.


"Bantu apa?"


"Tadi udah nampar kamu lhoo."


"Ini nggak sakit, akan lebih sakit kalau keduanya menikah lalu berpisah. Kasihan adikku nanti."


Adam tersenyum tipis, Alara yang begitu arogan ternyata berhati emas. Sudah disakiti masih ingin menyelamatkan adiknya dari lelaki mokondo.


"Tapi Ra, orang yang sedang jatuh cinta itu biasanya jadi tuli dan buta." Adam tidak yakin jika Alula akan membatalkan pernikahannya setelah melihat bukti.


"Coba dulu aja, yang terpenting sudah berusaha."


"Imbalannya apa?"


"Astaga, udah kaya kamu pak, yang benar saja minta imbalan sama aku yang rakyat jelata ini. Sungguh terlalu." Alara mengerucutkan bibir, sebal dengan Adam.


Adam tergelak, "Galak banget sih, iya iya deh nanti aku tolong."


Senyum di bibir Alara langsung mengembang. Semoga saja dengan bukti dan saksi yang jelas, Alula mau sadar dengan kekeliruannya.


"Makasih ya pak Adam, besok kalau punya ponakan atau punya anak, boleh deh les sama aku, diskon 50%."


Adam terkekeh, "50%? ih pelit banget, 100% dong."


"Ya itu mah kalau anak sendiri."


"Berarti kalau aku mau diskon 100% harus punya anak dulu sama kamu, Ra?"


"Nikah dulu pak, nikah, nggak boleh punyak anak dulu." Alara jadi salah tingkah. Kenapa obrolannya jadi kesana kemari. Adam tersenyum tipis, namun matanya tak bisa lepas memandang bu guru cantik yang ada di depannya.