Ms. Alara

Ms. Alara
Permintaan Bunda



"Alara_"


Ana tersenyum mendengar nama seorang wanita disebut oleh putranya.


"Alara siapa?"


"Ah, nggak Bun, nggak sengaja ketemu aja."


"Sembarang banget kamu Dam, nggak sengaja ketemu tapi udah pelukan gini, nggak boleh begitu sama perempuan. Perempuan itu pasti baper (terbawa perasaan)."


"Alara nggak gitu, Bun."


Ana tersenyum, putranya rupanya belum berani terbuka padanya. Katanya nggak sengaja ketemu, tapi seolah sudah begitu mengenal.


"Terus kaya gimana? Kebanyakan perempuan selalu menyangkutkan segala sesuatunya dengan perasaan. Apalagi ketika ada seorang pria memberikan respon positif. Diberi perhatian sedikit, perasaan sudah melayang, awas kamu kalau jadi laki-laki tukang PHP, bunda suruh pak mantri sunat kamu lagi nanti."


Adam langsung merinding mendengar kata sakral itu, pengalaman yang tidak ingin terulang lagi seumur hidupnya. Ya memang tidak boleh terulang, bisa bahaya nanti aset masa depan berharganya.


"Dia nggak gitu, nggak gampang baper, galak Bun." Adam langsung mengusap rambutnya dengan kasar, kenapa malah jadi banyak bicara tentang Alara.


"Oh gitu, eh kenalin dong ke Bunda, jangan diumpetin sendiri aja lhoo, pamali. Kata ayahmu, kalian berdua ini udah masuk di grup gosip para pengusaha lhoo. Mereka yang mau ambil kamu jadi mantu pada kecewa." Ana menceritakan apa yang suaminya katakan waktu telefon.


"Bukan siapa-siapa Bun, masa main ajak ke rumah. Bunda ini, Adam sama dia beberapa kali ketemu aja kok, nggak sengaja, nggak akrab juga." Adam terus saja berusaha memberi alasan agar bundanya tak ngotot dan penasaran lagi.


"Bawa aja, siapa tahu nanti jadi siapa-siapa," ucap Bunda sambil terkekeh. Siapapun itu Alara, pasti istimewa di mata putranya, karena Adam tidak semudah itu care dengan seorang wanita.


"Sibuk Bun." Adam tidak menyangka jika kejadian kemarin akan menjadi dunia pergosipan di kalangan elit melejit.


"Memangnya sibuk apa, kan pasti ada hari liburnya." Ana tak mau kalah memaksa anaknya, bagaimanapun caranya, Adam harus bisa membawa gadis itu ke rumah ini.


"Senin sampai Jumat ngajar, Sabtu Minggu job tambahan jadi MC Bun, bisa nyanyi juga." Adam mengatakan apa adanya.


"Wah, produktif sekali, terus kalian ketemu di mana?" Ana semakin penasaran, ia tersenyum kecil saat Adam perlahan mau bercerita, ya akhirnya putranya sedikit demi sedikit bercerita.


"Ya dia tulang punggung, kita ketemu nggak sengaja di acara nikahan."


"Bantu gimana? kan Alara udah kerja."


"Bantu nafkahi, biar duit kamu yang banyak itu hisabnya nggak berat banget." Ana memancing agar anaknya mau bergerak cepat mendekati Alara lalu menikahinya, umur Adam sudah hampir kepala tiga, tampan sudah mapan, duit bergelimang, sayang sekali jika terus membujang, apa guna semuanya itu.


"Ih Bunda, Adam nggak kenal deket banget, nggak tahu juga kalau Alara punya pacar atau enggak."


"Mulai sekarang cari tahu udah ada gebetan apa belum, jangan lelet dong."


Adam hanya mengangguk, memenuhi permintaan bundanya, terlebih ada ketertarikan juga pada bu guru cantik itu, walaupun galak. Alara adalah gadis pemberani namun sebenarnya rapuh.


"Serius lhoo Dam, itu nanti ayahmu pulang, kamu mau di sidang, kalau nggak bisa bawa Alara kesini, ayahmu yang cari."


"Bunda maksa ih."


Ana tergelak, tidak sulit baginya untuk menemukan seseorang, apalagi sudah ada fotonya.


"Kamu kalau nggak dibantu Bunda nanti nggak maju-maju, kerja kerja terus, mau buat siapa memangnya, duit ayah bunda juga udah banyak."


"Tapi kan kita nggak ada status hubungan Bun, bingung Adam mau mengajak Alara, dianya juga belum tentu mau, jadwalnya juga sibuk." Menurut Adam rasanya aneh saja, tidak ada ikatan apapun tapi mengajak main ke rumah dengan kepentingan pribadi, gadis manapun tidak akan ada yang mau, malah justru ketakutan.


"Nggak ada hubungan tapi kok ini di foto kaya mesra gitu ya, jangan bohong ah."


"Itu, itu ceritanya panjang Bun."


"Kamu udah peluk gadis orang, harus tanggung jawab."


"Peluk begitu doang Bun."


"Doang katamu? sembarangan yah." Ana malah memukul lengan putranya hingga mengaduh. "Bujuk pokoknya sampai mau ke sini."


"Hemm_" Sarapan pagi ini di akhiri dengan PR besar untuk Adam. Selesai makan Adam bergegas menuju kamarnya lagi, sudah waktunya bersiap-siap berangkat ke kantor. Fokusnya sudah terpecah belah, ia memikirkan cara bagaimana bisa bertemu dengan Alara lagi, tidak punya nomor ponselnya lagi.


"Oh iya." Adam mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi mobile banking.