Ms. Alara

Ms. Alara
Serius



"Aku ... aku, ih udah ah ayo kita ke dalam." Alara mengalihkan pembicaraan. Adam ikut beranjak dari tempat duduk, karena tangan keduanya ternyata masih saling terkait. Alara melirik tangannya, ingin melepas tapi justru digenggam Adam dengan erat.


"Mas_"


"Hemm, ayo jalan."


"Ini tanganku lhoo."


"Kenapa tangannya?"


"Lepasin?"


"Yang mulai siapa?"


"Ya aku sih, tapi kan tadi itu_" Belum selesai Alara berbicara, Adam sudah menggandengnya menuju tempat kondangan. Ya sudahlah akhirnya Alara pasrah.


Keduanya masuk ke dalam ruangan resepsi, bagi Alara melihat orang kaya menikah bukanlah hal yang menakjubkan lagi, dulu pernah menjadi impian, sekarang sudah tidak memikirkan hal itu lagi.


"Mereka teman-teman kamu mas?" tanya Alara. Ia dan Adam langsung menuju tempat prasmanan, keduanya mengambil cemilan mewah, walaupun hanya cemilan, mereka yang menikah dari golongan elit pasti akan menyuguhkan berbagai makanan mahal untuk dinikmati para tamu.


"Iya, teman bisnis."


"Cantik banget pengantinnya, gaunnya cantik juga." Alara sedikit lama memandang ke arah pelaminan.


"Kamu juga cantik, kalau pakai gaun itu pasti lebih cantik," puji Adam. Alara hanya tersenyum, sepertinya tidak mungkin dirinya kan menggelar acara pernikahan semewah ini, biaya dari mana.


Adam membawa Alara ke salah satu meja untuk menyantap makanan. Ia meminta Alara agar nanti menemaninya ke pelaminan mengucapkan selamat pada pengantin yang tengah berbahagia.


"Mas sajalah."


"Kok gitu, kan mas mau mereka tahu kalau mas sudah ada yang punya."


"Ih tapi kan bohong."


"Ih siapa tahu jadi kenyataan, udah ikut aja sih."


"Oke."


Selesai makan cemilan, keduanya menuju pelaminan untuk mengucapkan salam dan berfoto. Adam benar-benar memperkenalkan Alara sebagai kekasihnya.


"Yuk lanjut makan." Adam mengajak Alara ke area menu makanan berat.


Alara menengok, ia melihat ada teman masa kecilnya yang tidak lain adalah tetangga dekat rumahnya.


"Ah iya Des."


"Siapa?" Adam melihat sekilas wanita yang memanggil Alara, seperti tidak asing baginya.


"Desi, tetangga sekaligus teman mas."


"Ih kamu di sini ngapain?" Desi menepuk bahu Alara.


"Dagang Des, ya kondangan lah. Masa dagang bakso di sini," ucap Alara sambil terkekeh.


"Ini kan untuk kalangan elit, bukannya katanya ayah kamu udah bangkrut yah semenjak punya istri baru, kamu sih ikut ibu kamu segala," cerocos Desi.


Alara tersenyum canggung, menjengkelkan sekali mendengar ucapan Desi. Kalangan elit? apakah dirinya terlihat tidak pantas berdiri di tempat ini walaupun hanya sebagai tamu. Kenapa manusia yang diciptakan dari tanah begitu melangit padahal tanah diinjak setiap hari.


"Ayo sayang kita makan dulu, mas lapar." Adam yang ikut gemas mendengar ocehan tetangga Alara akhirnya kembali berakting agar obrolan mereka di akhiri.


"Eh, siapa dia Alara?" Desi ingin tahu.


"Ini_"


"Aku pacarnya mbak, sekaligus calon suami. Sudah ya mau makan nih." Adam langsung menarik tangan Alara agar segera menghindar dari jentik nyamuk yang tak berfaedah itu.


"Heh mas, pacarnya ? Alara ini udah miskin lhoo, takutnya bohong mengaku kaya raya, mas nya soalnya terlihat kaya raya."


Adam mengerutkan dahi, wanita di depan Alara ini sungguh kotor sekali mulutnya, gaya elit sopan santun sulit.


"Aku mencintai Alara tanpa syarat," celetuk Adam. Ia lalu bergegas menggandeng Alara agar menjauh dari Desi.


"Mencintai tanpa syarat? kok kaya judul lagu mas." Setelah menjauh dari Desi, Alara meledek lelaki yang masih menggadenganya dengan erat.


"Mas serius, Sayang." Adam menghentikan langkahnya lalu menatap Alara lekat.


"Tuh kan kumat lagi." Alara malah menanggapi dengan candaan.


"Mas SERIUS."


Alara melongo melihat lelaki itu tampak serius. Apa benar Adam serius?