
Alara dan Adam akhirnya berniat menikah secepatnya karena memang keduanya sudah tak muda lagi. Bahkan Alara merasa tidak enak hati karena umur Adam lebih muda darinya, tapi bukankah jodoh tidak harus laki-laki yang lebih tua bukan? jika laki-lakinya seperti Adam, sudah mapan, pintar dan penyayang, berbeda usia jelas bukan masalah. Syahrini, Sandra Dewi, Jesica Mila juga menikah dengan berondong, berondong yang tidak muda maksudnya.
Di usia 32 tahun baru menikah, Alara sudah biasa menjadi bahan olok-olok netizen, prinsipnya lebih baik telat menikah dari pada menikah bukan dengan orang yang tepat, karena sengsaranya nanti akan berlipat-lipat.
Sekolah sudah geger dengan tersebarnya undangan pernikahan Alara. Dimanakah keberadaan Andre? tentu saja sedang menangis di pojokan kantin, meratapi nasib akan menjadi tamu di pelaminan wanita tercinta. Angan-angannya lebur sudah, takdirnya hanya menjadi tamu undangan, bukan duduk berdua di pelaminan.
Alara dan Hanun menuju kantin, siang ini rasanya ngantuk sekali, sudah hari Jumat, tinggal sisa-sisa tenaga untuk mengajar hari ini. Keduanya memesan es kopi dan camilan.
"Sudah fitting baju?" tanya Hanun. Ia lah orang yang sangat bahagia dengan kabar pernikahan Alara, dirinya sangat menginginkan Alara bahagia, merasakan cinta dan kasih sayang dari keluarga Adam.
"Sudah, aku bahagia banget, walaupun mereka yang bayar semuanya, tapi mereka menyerahkan pilihannya semua ke aku, katanya ini adalah hari bahagiaku, jadi harus sesuai seleraku. Mimpi menjadi Cinderella benar-benar menjadi kenyataan." Mata Alara mulai berkaca-kaca.
Hanun menatap Alara serius. "Hidup itu seperti grafik yang naik-turun, nggak ada perjalanan yang mulus. Sama seperti perputaran bumi, kadang kita menikmati pagi dan terkadang merasakan malam. Terkadang kita berada di atas, justru terkadang kita ada di bawah. Setiap manusia diberi cobaan yang berbeda-beda. Sekarang kamu berhak bahagia Ra."
"Aku merasa seperti mimpi, aku nggak mimpi kan, Nun."
Hanun langsung mencubit Alara dengan keras, hingga Alara refleks menjerit. Hal itu membuat Andre yang sedang menangis di pojokan melihat ke arah Alara, Andre menghampiri Alara dan Hanun dengan mata sembab.
"Andre kenapa kamu?" tanya Hanun saat melihat Andre.
"Inih, sakit." Andre menunjuk hatinya. Hanun terkekeh geli.
"Nggak boleh kaya gitu, Ndre. Perlahan pasti bisa melupakan rasa yang pernah ada." Alara ingin Andre bersikap biasa saja.
"Melupakan tak akan pernah mudah. Merelakan yang pernah ada menjadi tidak ada adalah kerumitan," ucap Andre dengan kalimat puitisnya.
"Sabar, suatu saat nanti kamu bakal dapat yang lebih segalanya dari miss Alara," ucap Hanun sedikit menghibur.
"Sabar? sulit bu Hanun, apalagi miss Alara menikah dengan tetangga saya, tega deh pokoknya tega." Andre mengetahui bahwa Adam adalah tetangganya dari undangan yang sudah tersebar, ternyata lelaki itu adalah anak dari bunda Ana yang suka berseliweran di rumahnya.
"Ya kan sudah jodohnya, mau di apakan lagi coba?"
Hanun tergelak, sulit mengendalikan diri untuk tidak tertawa padahal murid di depannya sedang bersedih. Di geser? maksudnya jadi jodoh Andre? kan konyol.
"Sabar, ikhlas."
"Sulit." Andre menatap sayu miss Alara yang sebentar lagi tidak akan bisa ia rayu-rayu lagi.
"Kesabaran itu ada dua macam Ndre, sabar atas sesuatu yang tidak kamu ingin dan sabar menahan diri dari sesuatu yang kau ingini," ucap Alara. Ia melihat kesedihan yang nyata di mata Andre, tapi mau bagaimana lagi, mereka hanya sebatas guru dan murid.
"Relakan, demi kebaikan," ujar Hanun.
"Beratnya merelakan sesudah menemukan, pedihnya kehilangan sebelum memiliki." Andre lalu pamit kembali ke kelas, melihat miss Alara rasanya justru semakin pedih, kalah sebelum berperang, menyedihkan bukan?
Alara dan Hanun hanya memandang punggung Andre yang semakin menjauh, setelah itu Hanun kembali tertawa, tidak habis pikir dengan perasaan Andre yang nyata adanya, Hanun kira hanya cinta monyet biasa tapi Andre memang sedih sungguhan.
"Kamu sih Ra, udah nolak malah sekarang nikah sama tetangganya, pasti sakitnya dobel itu," ledek Hanun sambil mencolek Alara.
"Ya mana aku tahu kalau itu tetangganya, semuanya serba kebetulan Nun."
"Nanti kalian jadi tetanggaan, bertemu setiap hari, semakin rungkad hati Andre."
"Nanti mas Adam ajak main catur bareng." Alara terkekeh, ia juga tidak menyangka jika akan bertemu calon ibu mertua di rumah Andre.
Bel kembali masuk kelas berbunyi, Alara dan Hanun segera menghabiskan es kopinya lalu kembali ke kantor guru.
Ponsel Alara berdering, ia hanya melihatnya sekilas karena yang menelepon adalah Alula, rasanya masih kesal dengan kejadian yang lalu. Tidak berselang lama, notifikasi WhatsApp berbunyi. Alara melihat lagi ponselnya, ada pesan dari Alula.
Ra, tolongin akuðŸ˜