
"Ya siapa tahu kamu, Ra." Kali ini Mirna juga berharap demikian. Alara langsung tersenyum senang, tumben sekali ibunya mendukungnya.
"Aamiin."
"Kapan?"
Alara kembali mengerucutkan bibirnya. Pertanyaan perihal kapan menikah muncul lagi dari mulut ibunya. Apakah ibu tidak takut jika nanti hidup seorang diri ketika dirinya sudah menikah.
"Kapan-kapan Bu, kalau udah ketemu jodohnya. Aku masih mau menemani ibu." Sejujurnya memang perasaan Alara demikian. Ia tidak bisa membayangkan ibunya hidup seorang diri nantinya.
"Selalu begitu. Kenapa? kamu takut senasib seperti ibu?" tanya Mirna mengerutkan dahi.
"Ya itu juga salah satunya."
"Ra, kalau menikah dengan orang yang tepat pasti nggak akan menyedihkan seperti itu. Yang salah bukan menikahnya, tapi orang yang menjalaninya. Jadi berusahalah mencari yang baik, bukan malah nggak mau nikah. Pokoknya ibu mau segera menimang cucu."
"Mau ke kamar ah." Alara beranjak dari tempat duduk, lalu berjalan cepat menuju kamarnya. Mirna hanya mampu menghela nafas. Ia selalu merasa bersalah jika anaknya itu terus saja menjomlo. Trauma putrinya tak kunjung hilang.
Sesampainya di kamar, Alara mengambil ponselnya yang ia letakan di atas tempat tidur. Ia jadi teringat tentang transferan petang tadi. Rasanya masih begitu mengganjal di hati, ingin mengembalikan pada Adam karena menurut Alara terlalu banyak, walaupun mungkin menurut Adam itu adalah uang receh.
Ponsel Alara berbunyi, ada notifikasi WhatsApp masuk, ia membuka pesan dari murid kesayangan sekolah. Hanya sebuah sapaan. Alara tak membalasnya, karena jika di balas pasti akan ribet.
Alara memilih untuk membuat bahan ajar dan membuat administrasi guru. Sambil mengumpulkan wacana untuk besok bertemu dengan Alula.
☘️☘️☘️
Seperti biasa pagi ini Alara sudah sampai di sekolahan, di tempat parkir sudah ada seseorang yang menunggunya. Siapa lagi kalau bukan Andre. Si murid teladan yang bucin sekali dengan dirinya. Tak perduli dengan jarak usia, karena katanya cinta tak memandang usia. Terserah Andre sajalah.
Alara cuek saja ketika akan parkir di sebelah motor Andre, itu adalah tempat parkir motornya dari dulu. Andre begitu lekat mengamati sang pujaan hati.
"Kok chat semalam nggak di balas Miss?" tanya Andre. Alara melirik bocah itu. Baru saja buka helm, sudah disuguhi pertanyaan aneh, seperti pertanyaan seorang kekasih. Masih pagi, sudah di suguhi Andre, rasanya kejutan sekali. Padahal bukan hari ulangtahun, tapi selalu diberikan kejutan kehidupan setiap hari.
"Sibuk. Kalau malam belajar, Andre, jangan main handphone terus." Alara turun dari sepeda motornya. Andre mengekor di belakangnya.
"Makanya bales dong Miss. Biar aku semangat belajarnya," ucap Andre yang terus mengikuti langkah guru tercinta.
"Saya ganggu banget ya, Miss."
"Of course."
"Tapi kan saya_"
"Kamu ganggu jodoh orang tau nggak sih." Alara sengaja mengatakan demikian agar siswanya yang absurd itu berhenti mengejarnya.
"Saya juga orang."
Alara menghentikan langkahnya. Andre sang ketua osis sepertinya memang sulit dikalahkan. Pintar saja menjawab.
"Kamu mau ikut ke ruang guru?" Alara sudah diambang pintu ruang guru.
"Ah iya, maaf. Ya sudah sekarang miss Alara cepat masuk ke dalam, saya cuma ingin memastikan kalau pujaan hati saya sampai kantor dengan selamat." Andre tersenyum manis. Alara buru-buru masuk, takut kepincut senyuman menawan anak muridnya.
"Cie_" Hanun yang melihat Alara bersama Andre tak bisa menahan untuk tidak menggoda.
"Hus, inget, bocah itu," ucap Alara. Bocah meresahkan tentunya.
"Sabar yah, orang sabar nanti kuburannya ada Ac nya," ucap Hanun diiringi tawanya yang sudah tak terbendung.
Alara melempar pulpen ke arah Hanun. Tapi rasanya ia juga ingin menertawakan nasibnya. Kenapa Andre harus 17 tahun, kenapa tidak 27 atau 37. Ganteng sudah kaya raya sudah, tapi jarak usia bagaikan Bumi dan Pluto.
"Ehmmm, sekarang rupanya guru cantik kita mendekati brondong yang itu. Oh begitu main cantiknya. Pinter banget yah cari muka," ucap Renata. Sebelum masuk kelas, ia menyempatkan untuk menyindir Alara.
Alara melihat Renata yang kini sudah berdiri di depannya. Ah rasanya ingin melempar pulpen juga. Eh bukan, sepatu ke kepalanya agar kembali sehat tidak julid melilid.
"Ngapain cari muka, muka saya udah glowing cantik begini. Bu Renata sama saya juga masih jauh cantikan saya, makanya bu pakai skincare, biar hatinya glowing," cerocos Alara tak kalah berani.
"Ha-ha-ha" Hanun hanya mampu tertawa mendengar cerocosan sahabatnya itu. Renata tampak kesal, ia langsung melangkah keluar dari ruang guru.